Habiskan Biaya Perjalanan Rp 180 Juta dan Tinggal di Apartemen, Dirut Bank Jateng Dilaporkan Gubernur

  • Whatsapp

 

SEMARANG,Jowonews.com –Kinerja Direktur Utama (Dirut) PT Bank Jateng Supriyanto (Nono) sedang disorot. Pasalnya, Achmad Zarkoni yang mengaku dari Forum Masyarakat Peduli Bank Jateng melaporkan sepak terjang  Supriyatno yang dinilai tidak terpuji dan mencari keuntungan pribadi  kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sebagai pemegang saham pengendali.

Bacaan Lainnya

Laporan secara tertulis itu disampaikan pada tanggal 01 Oktober 2015. Tembusan diberikan kepada 10 pejabat/mantan pejabat. Masing-masing Mendagri, Menteri BUMN, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta dan Semarang, Ketua DPRD dan Ketua Komisi C DPRD Jateng, Direksi Bank Jateng, Mantan Direktur Bank Jateng dan Komisaris Bank Jateng.

Dalam laporan itu disampaikan bahwa Achmad Zarkoni melaporkan persoalan Bank Jateng kepada Gubernur Ganjar Pranowo karena merasa mencintai Bank Jateng. “Hal ini terpaksa kami lakukan karena kami sangat mencintai Bank jateng dan sangat tidak rela banknya wong Jawa Tengah yang sudah sangat baik rusak akibat prilaku dari Direktur Utama saat ini,” ungkap Achmad Zakroni dalam suratnya.

Menurutnya, Supriyanto selama ini arogan dalam memimpin di Bank Jateng. Kalau di acara umum/ didepan publik tebar pesona. Seolah-olah menjadi pemimpin yang bijak, mengayomo dan pemersatu. Tapi kalau punya ide, dan idenya ternyata keliru, kalau diingatkan yang bersangkutan emosional.

Yang lebih mengejutkan, diungkapkan Achmad Zarkoni, selama ini Supriyatno ternyata lebih banyak melakukan kegiatan di luar kantor, yang seharusnya bisa dilakukan oleh direksi/pejabat yang lain. “Rata-rata dalam 1 bulan, saudara Nano (Supriyatno,red) mendapatkan uang perjalanan dinas Rp 180 juta rupiah,”paparnya.

Ketentuan penerimaan uang perjalanan dinas, masih menurut Achmad Zarkoni, semestinya masuk rekening. “Tapi khusus untuk saudara Nano harus diterima tunai dan tidak mau masuk ke rekening suapaya tidak terlacak. Uang perjalanan dinas ini tentunya lebih besar dari gajinya setiap bulan,”ungkapnya.

Padahal, dengan terlalu seringnya beraktifitas di luar kantor untuk mencari uang perjalanan dinas (ngobyek) banyak pekerjaan di Bank Jateng yang terbengkelai dan terhambat penyelesaiannya.

Lebih parah lagi, diungkapkan Achmad Zakroni, selama ini Nano ternyata lebih memilih tinggal di apartemen mewah. “Sudah beberapa kali dicarikan rumah dinas dengan status sewa/kontrak tapi tidak mau dengan alasan tidak cocok. Padahal alasan sebenarnya supaya aktivitasnya tidak terlacak dan tidak mudah diketahui. Ini adalah pemborosan biaya kantor. Karena sewa rumah dinas tentunya lebih murah daripara sewa apartemen,”ketusnya.

Dirut PT Bank Jateng Supriyatno sampai berita ini ditulus belum bisa dikonfirmasi. Saat dihubungi melalui ponselnya tidak diangkat. Begitu juga saat di sms juga tidak dibalas.(JN01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *