Kemristekdikti: Dosen Harus Tetap Produktif Hasilkan Karya

  • Whatsapp

JAKARTA, Jowonews.com – Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Ali Ghufron Mukti, mengatakan dosen harus tetap produktif dalam menghasilkan karya ilmiah.

“Dosen harus tetap produktif dalam menghasilkan karya ilmiahnya. Jangan berhenti, begitu mendapatkan penghargaan dosen berprestasi,” ujar Ghufron di Jakarta, Kamis.

Bacaan Lainnya

Saat ini, publikasi jurnal internasional Indonesia sudah melampaui Vietnam dan Filipina, karenanya harus terus produktif agar perguruan tinggi memiliki daya saing Sebelumnya, Kemristekdikti memberikan penghargaan kepada para pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan perguruan tinggi yakni Pemilihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Diktendik) Berprestasi.

Menurut Ghufron, hal itu bertujuan untuk memicu para pelaku pendidikan tinggi makin berprestasi.

Terdapat enam kategori yang diikutkan dalam ajang Pemilihan Diktendik Berprestasi, yakni kategori dosen, kepala program studi, laboran, pustakawan, tenaga pengelola keuangan, dan tenaga administrasi berprestasi.

Hal itu karena peningkatan kualitas sumber daya di Kemristekdikti tidak hanya berfokus pada dosen sebagai pengajar.

Menurut Ghufron, penghargaan bagi Diktendik itu merupakan wujud pemuliakan tenaga kependidikan sehingga mereka memiliki daya saing dan motivasi meningkatkan pendidikan.

“Ada 15 nominator dalam masing-masing kategori yang ikut proses final. Sebelumnya, mereka telah menyisihkan 294 bakal calon yang diajukan oleh perguruan tinggi dan Kopertis di seluruh Indonesia,” kata Ghufron.

Ia menambahkan, para finalis, sebelumnya telah diuji kemampuannya dalam bentuk presentasi dan wawancara karya unggulan masing-masing.

Dalam memilih para finalis hingga pemenang di tiap kategori, juri telah mempertimbangkan rekam jejak prestasi sang nominator.

“Misalnya untuk kategori dosen, prestasi akan dinilai dari bagaimana kualitas riset serta publisitas karya ilmiahnya, juga hibah-hibah yang dimenangkan dalam skala nasional maupun internasional,” jelas Ghufron.

Sedangkan, bagi tenaga pendidik prestasi diukur dari karya-karya kreatif serta ide inovasinya dalam berkarier di lingkungan kampus.

Direktur Karier dan Kompetensi SDM Ditjen Sumber Daya Iptekdikti Kemristekdikti, Bunyamin Maftuh, mengatakan jumlah peserta yang mengikuti ajang ini mengingkat 17,20 persen dibanding tahun lalu.

Di Indonesia sendiri, ada 132 PTN dan lebih dari 3000 PTS. Dimana, total ada 216.784 dosen tetap yang diseleksi menjadi 90 dosen, masing-masing 15 orang per kategorinya. Dari kategori itu, ada 3 pemenang yang terpilih.

“Hadiah bagi juara satu Rp30 juta, juara dua Rp25 juta, dan juara tiga Rp20 juta,” jelas Bunyamin.

Selain dilakukan penjurian oleh para juri, masyarakat juga dapat memberikan dukungan melalui media sosial seperti Facebook ataupun Twitter untuk finalis terfavorit.

Adapun pemenang dari ajang tersebut, di antaranya adalah: 1. Dosen Berprestasi Juara 1: Budiwiweko, Universitas Indonesia Juara 2: Deendarlianto, Universitas Gadjah Mada Juara 3: Andri Dian Nugraha, Institut Teknologi Bandung 2. Kepala Program Studi Berprestasi Juara 1: I Wayan Nurjaya, Institut Pertanian Bogor Juara 2: Bambang Pramujati, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Juara 3: Indradi Wijatmiko, Universitas Brawijaya 3. Pengelola Keuangan Berprestasi Juara 1: Riz Firmansyah, Universitas Negeri Surabaya Juara 2: Fachrul Rozi, Universitas Negeri Padang Juara 3: Yusuf Mulus Riptianto, Universitas Surabaya 4. Laboran Berprestasi Juara 1: Tri Kurniawati, Universitas Indonesia Juara 2: Sofyan, Institut Pertanian Bogor Juara 3: Tri Yuliati, Universitas Gadjah Mada 5. Pustakawan Berprestasi Juara 1: Chandra Pratama Setyawan, Universitas Kristen Petra Juara 2: Aprilia Mardiastuti, Universitas Gadjah Mada Juara 3: Hetty Gultom, Universitas Sumatera Utara 6. Tenaga Administrasi Akademik Berprestasi Juara 1: Clara Cahaya Chandrasari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Juara 2: Hestining Kurniastuti, Universitas Gadjah Mada Juara 3: Budiani Setyaningsih, STIMIK Amikom Yogyakarta.   (Jn16/ant)


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *