Seribu Lebih Desa di Jateng Kekeringan

  • Whatsapp
ilustrasi

SEMARANG, Jowonews.com – Kekeringan di Jateng tak hanya menimpa sektor pertanian saja. Lebih dari itu, banyak masyarakat yang secara ekonomis dan fisik terganggu lantaran keterbatasan persediaan air bersih.

Hingga 20 Oktober, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyalurkan air bersih di 1.225 desa di Jateng yang mengalami kekeringan. Angkanya pun mencapai Rp10,1 miliyar.

Bacaan Lainnya

Kepala BPBD Jateng Sarwa Parna mengatakan, kerugian yang diakibatkan bencana kekeringan secara fisik belum terlaporkan. Bahkan, luasan wilayah kekeringan di Jateng yang terkena dampak kekeringan pun tak meluas, masih di kisaran 30 kabupaten/kota. Baik Bakoewil mau pun BPBD Kabupaten/Kota ikut menurunkan air bersih dan mengeluakan anggaran untuk kebutuhan air baku masyarakat.

“Kalau kabupaten/kota luasannya tidak bertambah, namun yang bertambah adalah kebutuhan air bersih. Meski beberapa mengalami kekeringan, namun kebutuhan airnya tercukupi,” ungkap Sarwa saat dihubungi wartawan, Kamis (29/10).

Diakui Sarwa, dalam pendistribusian air bersih tak hanya mengandalkan tanki air yang bisa berjalan menuju wilayah terpencil. Namun, bantuan kearifan lokal masyarakat setempat juga sangat dibutuhkan, lantaran tak semua tanki air bisa masuk ke wilayah paling dalam yang mengalami kekeringan.

“Mereka bawa dirigen sendiri ke lokasi roppig air. Karena kita tidak mampu menjangkau. Kami juga sudah keluarkan semua tanki air yang kami punya bersama milik pemerintah setempat,” imbuhnya.

Dari data yang dihimpun, kata Sarwa, terdapat 286 kecamatan yang mengalami kekeringan di Jateng. Jumlah tersebut termasuk di dalamnya 1.225 desa, dengan total arus tanki yang sudah diterjunkan yakni 23.373 tanki air. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *