Kuasai Teknik Bela Diri Bantu Anak Hadapi Ancaman Kekerasan

  • Whatsapp
Aksi Jurnalis Perempuan Jateng memperkenalkan teknik mempertahankan diri. Foto : Jowonews.com

 

SEMARANG, Jowonews.com – Seringnya anak-anak menjadi korban kekerasan, salah satunya karena mereka tidak memiliki bekal pengetahuan pertahanan diri. Pada kasus kekerasan terhadap anak, pelaku acap mengasumsikan diri mereka sebagai sosok yang berkuasa terhadap anak yang tidak berdaya.
Anak-anak sering ragu dengan ketahanan diri mereka menghadapi gangguan yang kebanyakan dilakukan oleh orang yang lebih dewasa usianya ketimbang mereka. Akan tetapi, keraguan itu ditepis tatkala terbukti, melalui sistem bela diri, seorang anak yang lemah mampu memberikan pertahanan terhadap gangguan yang mereka hadapi.
Aksi tersebut dibuktikan dalam simulasi pertahanan dasar yang dilakukan salah seorang siswi di SDN Srondol Wetan 04, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Atas arahan Hery Mustofa, seorang pesilat dari perguruan ASAD Cimahi, siswi perempuan berhasil melumpuhkan seorang pemuda yang berusia lebih dewasa dan ukuran tubuh pun lebih besar dibandingkan dirinya.
Melalui teknik kuda-kuda dan fokus pada kekuatan diri sendiri, siswi kelas enam tersebut berhasil membanting sang pemuda yang berusaha mendekap dan merangkulnya. Tentu saja aksi tersebut mengejutkan sekitar 150 anak yang turut dalam simulasi tersebut. Pasalnya, sang siswi yang menjadi model simulasi diketahui tidak memiliki bekal teknik bela diri.
Berdasarkan penjelasan Hery, cukup dengan teknik dasar pertahanan diri, sebenarnya anak-anak bisa melakukan perlawanan pertama yang membuatnya terhindar dari ancaman kejahatan fisik. Sejumlah gerakan pun dia simulasikan dan terbukti, anak-anak mampu melakukannya dengan baik.”Ini gerakan mendasar dan bisa dilakukan anak saat ancaman kejahatan terjadi di sekitar anak-anak,” ujarnya.
Simulasi itu sendiri merupakan rangkaian kegiatan Kampanye Anti Kekerasan terhadap Anak yang digelar Jaringan Jurnalis Perempuan Jawa Tengah, Sabtu (31/10) kemarin. Kampanye yang dilaksanakan di sekolah dasar tersebut bertujuan untuk memberikan edukasi kepada anak, yang rentan menjadi korban kejahatan.

Bacaan Lainnya
Salah satu teknik mempertahankan diri dasar diperagakan pejudo Hery untuk mengelabui orang jahat pada simulasi di SD Srondol Wetan 4 Kota Semarang. Foto : ist
Salah satu teknik mempertahankan diri dasar diperagakan melalui teknik pesilat Hery untuk mengelabui orang jahat pada simulasi di SD Srondol Wetan 4 Kota Semarang. Foto : ist

Ketua Jaringan Jurnalis Perempuan Jawa Tengah Rita Hidayati mengungkapkan, berdasarkan data yang dirangkum Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) selama 2015 jumlah anak yang menjadi korban kekerasan tercatat sebanyak 2.000 orang, dengan 1.570 anak menjadi korban kekerasan seksual.”Angka ini membuktikan tingginya kekerasan yang dilakukan terhadap anak, yang sebagian besar menjadi korban kekerasan seksual, dan ini mendasari gerakan kami,” ujarnya.
Jaringan Jurnalis Perempuan Jateng, lanjutnya, berharap kegiatan serupa bisa digelar di sekolah lainnya, mengingat anak-anak cukup antusias mengikuti edukasi yang disampaikan instruktur judo tersebut. Menurut Rita, anak-anak cukup mudah menangkap pelatihan dasar ketahanan tersebut sehingga mereka bisa memiliki bekal saat berhadapan dengan ancaman orang yang lebih dewasa.”Kami berharap perhatian semua pihak untuk bukan hanya memberikan ancaman hukuman kepada pelaku kejahatan, tetapi membekali anak dengan kemampuan ketahanan diri saat menghadapi orang jahat di sekitar mereka,” tukasnya. (Jn16)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *