Fakta Sejarah Perjuangan Brigjen Anumerta Slamet Riyadi

  • Whatsapp

AMBON, Jowonews.com – Fakta sejarah Brigjen Anumerta Ignatius Slamet Riyadi, pada masa perjuangan melawan penjajahan Belanda dan Pemberontak di Maluku, penuh heroik dan patut ditiru prajurit TNI masa kini.

“Kami mengucap syukur dan terima kasih serta memberikan penghargaan kepada Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI. Doni Monardo, karena diundang, selanjutnya diberi kesempatan berziarah ke makam Brigjen Anumerta Ignatius Slamet Riyadi,” kata mantan ajudannya, Kolonel Purn Aloysius Sugianto, pada acara Mengenang Perjuangan Slamet Riyadi di Ambon, Selasa.

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan, saksi sejarah dalam perjuangan bersama Slamet Riyadi yang hidup sampai saat ini ada tiga orang, yakni Kolonel Purn Suyoto, dulu bertugas sebagai Kepala Staff Battalion Surdji yang ikut bertugas di Ambon.

Letnan Dua Suhadi, yang bertugas sebagai Komandan Group atau Komandan Pengawal.

“Saya sendiri yang bertugas mendampingi Brigjen Letkol Slamet Riyadi atau sebagai ajudan. Mungkin hanya kami bertiga pelaku sejarah penumpasan pemberontakan RMS yang masih hidup,” kata Aloysius.

Ia menuturkan, Brigjen Anumerta Slamet Riyadi adalah tokoh militer muda yang cerdas, dalam usia 22 tahun, beliau menjadi orang termuda di wilayah Kodam Diponegoro yang berpangkat Letkol dan menjadi Komandan Brigade V Solo.

Pendidikan Slamet Riyadi hanya Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) Cilacap, dibandingkan dengan perwira lain yang masih berasal dari PETA (Pembela Tanah Air) didikan tentara Jepang. Selain itu, jika memimpin operasi beliau selalu berdiri paling depan.

“Slamet Riyadi memimpin serangan selama empat hari dan empat malam, pada 17-11 Agustus 1949 di Solo, yang membuat pimpinan pasukan Belanda, Kolonel Van Ohl akhirnya mengakui kedaulatan NKRI,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, Slamet Riyadi juga memimpin pasukan yang membantu menumpas pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di Jawa Barat pada awal 1950, diteruskan menumpas pemberontak NII (Negara Islam Indonesia) atau DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Cilangkap, Leles, Garut dan Taksikmalaya.

“Pada 26 Juli 1950, saat berada di Bandung, Slamet Riyadi meminta saya menemani membuat foto dirinya dalam pakaian sipil. Saat itulah beliau berkata,” Hari ini ulang tahun saya yang ke 23″, kata Aloysius meniru ucapan Slamet Riyadi.

Setelah itu, Slamet Riyadi dipanggil ke Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta dan mendapat tugas sebagai Komandan Operasi menumpas pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) dalam GOM (Gerakan Operasi Militer) III yang dipimpin oleh Kolonel AE Kawilarang, Panglima Tentara dan Teritorium Indonesia Timur.

“Selama satu bulan pasukan kita tidak dapat maju karena ketangguhan pasukan baret hijau Belanda didikan Westerling, akhrinya setelah tiga bulan berjuang, pasukan kita bisa mendekati Kota Ambon, setelah kekuatan pasukan Siliwangi yang dipimpin Mayor Ahmad Wiranatakusumah dengan salah satu komandan bataliyonnya Kapten Poniman mendarat dari arah pelabuhan,” kata Aloysius.

Saat bertemu dengan Kolonel AE Kawilarang, Slamet Riyadi mengatakan,”Kalau operasi ini selesai, saya ingin membentuk pasukan khusus yang setangguh pasukan baret hijau Belanda seperti yang dihadapi saat ini” “Pada 4 Nopember 1949 siang, saya, Letkol Slamet Riyadi dan Kapten Muskita menunggu di selokan sebelah utara Benteng Victoria, setelah sebelumnya memerintahkan Batalyon Kapten Lucas untuk menyerbu masuk dari sisi barat benteng,” terangnya.

Namun, tiba-tiba datanglah pasukan tank TNI dibawah pimpinan Kapten Klees yang langsung menembak ke arah benteng, dengan asumsi bahwa pasukan batalyon Lukas sudah ada di dalam, Slamet Riyadi memerintahkan tank untuk menghentikan tembakan. Lalu berjalan di depan tank memasuki Benteng Victoria.

Ternyata Kompi Lucas belum sepenuhnya dapat masuk dari sisi barat, karena mendapat serangan pasukan baret hijau dari basment benteng. Sampai akhirnya Slamet Riyadi tertembak oleh pasukan musuh. Tubuh beliau kemudian ditarik oleh dua orang pasukan tank yang kemudian juga tertembak.

Selanjutnya Slamet Riyadi dilarikan ke Tulehu untuk dirawat di rumah sakit.Selama dalam perjalanan Slamet Riyadi dengan bersimbah darah masih memberikan perintah komando untuk dijalankan oleh pasukannya.

“Brigjen anumerta Slamet Riyadi wafat sekitar jam 11 malam, dan keesokan harinya dimakamkan di Tulehu,” kata Aloysius.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, Kolonel AE Kawilarang yang ikut kapal perang pimpinan Laksamana John Lie, baru tiba di Tulehu dan melihat makam Slamet Riyadi pada 6 Nopember 1950.

Kemudian saat pasukan akan ditarik kembali ke Jawa, rakyat Ambon meminta agar Slamet Riyadi tetap dimakamkan di Ambon sebagai Pahlawan. Itulah sebabnya hanya tanah kuburnya saja yang dibawa ke Solo untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Jebres-Solo.

Menurut Aloysius, ide Slamet Riyadi membentuk pasukan khusus, kemudian direalisir oleh Kolonel Kawilarang saat menjadi Panglima Siliwangi dengan membentuk Kesko (Kesatuan Komando) yang kemudian berganti nama menjadi KKAD (Korp Komando Angkatan Darat), RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), Kopasandha (Komando Pasukan Sandi Yudha) dan terakhir Kopasus ( Komando Pasukan Khusus).

“Slamet Riyadi bukan hanya milik masyarakat Ambon, tetapi milik Bangsa Indonesia. karena itu pada 6 Nopember 2007, almarhum telah ditetapkan sebagai Pahlawam Nasional,” katanya.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *