Pemkab Banyumas Gelar Festival Mendoan

  • Whatsapp

BANYUMAS, Jowonews.com – Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menggelar Festival Mendoan sebagai bentuk penolakan terhadap privatisasi makanan khas daerah itu oleh salah seorang warga bernama Fudji Wong.

Festival Mendoan tersebut digelar di Pusat Kuliner Banyumas “Pratistha Hasta”, Jalan Jenderal Soedirman, Purwokerto, Minggu pagi, serta diikuti 54 grup yang merupakan perwakilan dari seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD), kecamatan, dan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga.

Bacaan Lainnya

Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Banyumas Agus Nur Hadie mengatakan bahwa setiap peserta membuat mendoan minimal sebanyak 20 lembar.

Setelah dilakukan penilaian, kata dia, mendoan tersebut dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang mengunjungi tempat itu.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meyakinkan bahwa mendoan merupakan makanan khas milik masyarakat Banyumas. Dengan demikian, masyarakat akan makin mencintai mendoan sebagai makanan tradisional,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, Festival Mendoan tersebut mengusung tema “Mendoanku, Mendoanmu, Mendoan Kita, Mendoan Banyumas”.

Menurut dia, kegiatan tersebut tidak menutup kemungkinan dijadikan sebagai agenda wisata tahunan Kabupaten Banyumas sehingga bisa menarik kunjungan wisatawan. “Beberapa tahun lalu juga pernah diadakan kegiatan semacam ini. Bahkan, tercatat dalam Museum Rekor Indonesia,” tambahnya.

Lebih lanjut, Agus mengatakan bahwa kegiatan tersebut terinspirasi dari upaya salah seorang warga Banyumas, Fudji Wong yang mendaftarkan mendoan sebagai merek dagang ke Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intektual (HAKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Ia mengakui bahwa banyak hal positif yang dapat dipetik Pemkab Banyumas pascaterkuaknya privatisasi mendoan oleh Fudji Wong itu. “Termasuk paten (terhadap mendoan), mungkin tahun depan Pemkab Banyumas akan serius,” katanya.

Saat membuka Festival “Mendoan”, Bupati Banyumas Achmad Husein mengatakan bahwa mendoan merupakan milik warga Banyumas sehingga jangan dimiliki oleh perorangan.

“Mendoan sudah terbukti mencerdaskan warga Banyumas karena mengandung protein yang tinggi sehingga banyak warga Banyumas yang menjadi orang besar (pejabat dan pengusaha, red.) di Jakarta. Oleh karena itu, jangan ada yang egois untuk kepentingan sendiri,” katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Dinporabudpar) Deskart Sotyo Jatmiko mengatakan bahwa kegiatan Festival Mendoan itu memunculkan ide untuk menggelarnya secara rutin sehingga setiap orang akan ingat jika mendoan merupakan milik warga Banyumas, bukan milik perorangan.

Kendati demikian, dia mengakui bahwa wacana untuk menjadikan Festival Mendoan itu sebagai agenda wisata tahunan harus dikoordinasikan dengan sejumlah SKPD, di antaranya Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian, dan Badan Pemberdayaan Masyarakat.

“Mungkin ke depan, istilahnya kita ganti menjadi gerebek mendoan karena pengunjung Festival Mendoan saling berebut untuk mendapatkan makanan khas Banyumas itu,” katanya.

Menurut dia, kegiatan tersebut tidak menutup kemungkinan digelar setiap bulan November karena Dinporabudpar Banyumas sering kali kesulitan menggelar acara yang bersifat massal pada musim hujan.

Dalam hal ini, kata dia, mendoan sangat nikmat jika dimakan saat masih hangat. Sementara itu, masyarakat maupun wisatawan ketika musim hujan sering kali mencari makanan yang hangat.

“Kalau kegiatan ini dapat digelar secara rutin, terutama saat musim hujan, saya kira kejadiannya bisa seperti tadi, orang banyak yang datang untuk berebut mendoan,” katanya. (JN03/Ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *