“Pahlawan Kesiangan” Serda Yoyok

  • Whatsapp

JAKARTA, Jowonews.com – Tepat seminggu menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November oleh bangsa Indonesia, Sersan Dua TNI-AD Yoyok menobatkan dirinya sebagai ” pahlawan kesiangan” karena “merasa sukses” telah menembak mati tukang ojek Marsin Sarmani atau Japra di kawasan Cibinong, Jawa Barat gara-gara masalah sepele saling menyerempet.

“Saya minta maaf atas tindakan anak buah saya,” kata Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo kepada wartawan di Jakarta, Rabu(4/10) ketika mengomentari ulah anak buahnya itu.

Bacaan Lainnya

Gatot Nurmantyo yang pernah bertugas di Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat atau Kostrad–tempat Sersan Dua Yoyok bertugas sebagai bintara intel– kemudian berkata” Dipastikan ada tindakan tambahan berupa pemecatan”. Bahkan ia mengungkapkan bahwa mulai saat ini jika ada prajurit TNI yang terkena kasus tindak pidana yang berkaitan dengan warga sipil maka sidang mahkamah militer yang biasanya “tertutup rapat” akan dibuka untuk umum.

Dengan demikian masyarakat bisa mengetahui secara tepat proses peradilan sehingga proses hukum yang mana pun juga bisa berlangsung secara terbuka atau transparan.

Serda Yoyok sedang menaiki sebuah mobil sedang bersama seorang wanita dan kemudian berserempetan dengan motor yang dibawa tukang ojek bernama Japra. Setelah melakukan pengejaran kemudian Yoyok berhasil menghentikan laju kendaraan beroda dua itu dan akhirnya bertengkar dan saling dorong dengan Japra. Nampaknya tanpa ragu Yoyok langsung menembak mati tukang ojek tersebut.

Entah apa yang ada dalam pikiran bintara Kostrad itu saat hendak menembak “musuhnya” itu yang akhirnya harus kehilangan nyawanya. Yang paling berduka tentulah istri Japra dan kedua anaknya. Bahkan ketika beberapa prajurit Kostrad datang ke rumah almarhum untuk menyatakan rasa duka citanya sekitar 10 tentara itu sempat diusir oleh istri dan anak almarhum Japra.

Sekalipun peristiwa semacam ini bukan yang pertama kalinya, tetap saja musibah ini sangat menarik perhatian masyarakat di Tanah Air, karena ada lagi prajurit TNI yang secara semaunya mempertontonkan “kehebatan” mereka saat membawa senjata padahal mereka bukan sedang dalam melaksanakan operasi militer atau tempur.

Beberapa waktu lalu, belasan prajurit Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat atau Kopassus menyerbu Lembaga Pemasyarakatan Cebongan di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk “menghukum” beberapa penghuni penjara itu yang disebut-sebut terlibat dalam kasus narkoba. Semula beberapa pejabat militer terutama dari Kodam IV Diponegoro menyangkal adanya belasan prajurit Kopassus TNI-AD datang ke LP Cebongan.

Namun akhirnya tim investigasi yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal TNI Unggul Yudhoyono berhasil membuktikan hanya dalam beberapa hari bahwa memang ada penyerbuan ke LP Cebongan oleh belasan prajurit TNI-AD itu. Panglima Kodam IV Diponegoro yang terus membantah adanya kasus kekerasan itu harus dicopot dari jabatannya.

Kemudian baru-baru ini juga terjadi tindakan brutal di Pulau Batam, Provinsi Kepulauan Riau ketika terjadi tembak menembak antara prajurit AD dengan Polri.

Ketika mengomentari kasus Serda Yoyok itu, Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat yang menangani masalah pertahanan Mahfudz Siddiz menyatakan ruwetnya kehidupan dapat mengakibatkan prajurit mana pun juga menjadi stres atau mengalami ketegangan jiwa.

“Peningkatan stres pada prajurit TNI harus menjadi perhatian apalagi jika sedang membawa senjata,” kata wakil rakyat tersebut.

Yang patut menjadi perhatian masyarakat dalam kasus Serda Yoyok ini adalah kenapa harus Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sendiri untuk menangani kasus ini? Bukankah cukup Kepala Staf TNI-AD Jenderal TNi Mulyono atau bahkan pejabat di bawahnya misalnya perwira tinggi Kostrad tempat Yoyok berdinas? Gatot Nurmantyo mungkin bermaksud agar masyarakat tidak menjadi resah akibat perbuatan sangat tidak bertanggung jawab yang dilakukan anak buahnya dan berharap kejadian ini tak berulang lagi pada masa mendatang.

Pembinaan mental Jika dilihat dalam kasus itu, maka Yoyok berada pada jenjang kepangkatan sersan dua yang termasuk kelompok bintara. Di seluruh jajaran Tentara Nasional Indonesia alias TNI terdapat sekitar 400.000 hingga 500.000 prajurit yang sebagian besar termasuk kelompok bintara atau tamtama atau mereka yang berpangkat prajurit dan kopral. Kelompok tamtama dan bintara itu merupakan pemuda dan pemudi yang mayoritas terpilih karena kekuatan” otot” mereka. Sementara yang diterima di akademi militer seperti Akmil, AAU dan AAL terutama dipilih karena “kemampuan otak” mereka.

Yang patut dipertanyakan kepada pimpinan TNI adalah apakah setelah diterima sebagai tamtama atau bintara mereka itu terus dididik mental dan sikap keprajuritannya atau tidak.

Sekalipun para tamtama dan bintara itu dipilih lebih banyak karena faktor kekuatan fisiknya, tentu tidak boleh dilupakan bahwa otak atau mental mereka juga harus terus didik atau ditempa sehingga tidak menjadi “centeng atau tukang pukul” di luar kesatuannya.

Beberapa tahun lalu, sebuah batalyon di Sumatera Utara sampai harus dibubarkan karena puluhan prajuritnya terlibat dalam “tawuran” dengan polisi dan baru kemudian setelah jangka waktu yang panjang akhirnya Markas Besar TNI Angkatan Darat membentuk kembali sebuah batalyon baru di sana.

Jika kembali ke kasus Serda Yoyok ini, maka masyarakat pada dasarnya mengetahui bahwa di Angkatan Darat misalnya da jabatan komandan regu yang membawa 10-12 prajurit, kemudian komandan peleton yang memiliki prajurit antara 30-40 orang. Ada lagi komandan kompi yang membawahi sekitar 100 tentara hingga komandan batalyon yang mempunyai anak buah kurang lebih 800-900 prajurit. Di atasnya lagi ada komandan brigade yang membawahi tiga batalyon.

Karena begitu banyaknya anak buah yang harus diawasi atau dipantau, maka seorang danru, danton, danki, danyon tentu tidak mungkin setiap detik harus mengawasi anak buahnya. Karena itu di tiap angkatan pada dasarnya terdapat dinas pembinaan mental dan dinas psikologi.

Yang patut dipertanyakan adalah apakah dinas psikologi atau dinas pembinaan mental hingga detik ini sudah dimanfaatkan secara maksimal atau tidak? Karena kedua bagian ini tidak berkaitan langsung dengan kegiatan perang atau pertempuran yang menjadi tugas utama TNI maka kemudian bisa timbul kesan bahwa disbintal atau dinas psikologi hanya dijadikan “pelengkap penderita ” dalam organisasi TNI baik AD, AL maupun AU.

Jika mengacu kepada pernyataan Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq tentang adanya stres di antara para prajurit TNI maka tentu tidak ada kesalahan jika kedua organisasi itu yakni dinas pembinaan mental dan dinas psikologi diaktifkan terutama dalam membina ratusan ribu prajurit.

Prajurit- prajurit tamtama dan bintara itu mayoritasnya adalah pemuda dan pemudi yang berusia baru sekitar 20 hingga 30 tahun sehingga mereka bisa dikelompokkan ke dalam “pemuda panasan” yang gampang emosi karena hal-hal yang sepele apalagi jika sedang membawa senjata dan bersama dalam satu kelompok dengan teman- temannya sesama prajurit.

Karena itu, rasanya pantas sekali jika masyarakat menaruh harapan agar Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bersama- sama KSAD, KSAU dan KSAL benar-benar memikirkan kembali pola pembinaan prajurit mereka agar tidak ada lagi yang bersikap dan bersifat koboi yang bisa semaunya sendiri “menembak ke kiri dan ke kanan”.

Karena kasus Serda Yoyok ini terjadi hanya tujuh hari menjelang seluruh bangsa Indonesia di mana pun berada akan memperingati Hari Pahlawan, maka sangat pantas jika seluruh jajaran TNI diingatkan bahwa mereka itu merupakan prajurit rakyat dan mengabdi kepada bangsa dan negara ini dan bukannya merasa hebat karena memiliki senjata mulai dari revolver hingga M16.

Ratusan ribu prajurit TNI harus sadar bahwa pada tanggal 10 November tahun 1945, sejumlah pemuda terutama di kota Surabaya ingin menunjukkan kepada penjajah Belanda dan juga dunia bahwa bangsa Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945 sehingga ingin mandiri dalam seluruh aspek kehidupan.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *