GMF Wakil Indonesia Di Dubai Airshow

  • Whatsapp

DUBAI, Jowonews.com – Ajang dua tahunan Dubai Airshow yang biasanya berlangsung pada November merupakan salah satu pameran dagang terbesar yang menarik banyak pelaku usaha sektor kedirgantaraan di tingkat global.

Tidak terkecuali pada Dubai Airshow 2015, di mana satu-satunya perusahaan yang mewakili Indonesia adalah GMF AeroAsia, perusahaan perbaikan dan perawatan pesawat yang juga merupakan salah satu anak perusahaan maskapai Garuda Indonesia.

Bacaan Lainnya

“GMF mewakili industri ‘MRO’ (maintanance, repair, and overhaul) penerbangan nasional. Bila GMF berkembang, industri MRO nasional juga akan berkembang,” kata CEO GMF AeroAsia Richard Budihadianto di Dubai, Sabtu (7/11) malam.

Penguasa Dubai sekaligus Perdana Menteri Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum membuka Dubai Airshow 2015 tersebut.

Acara pembukaan di Dubai, Minggu (8/11), juga dihadiri oleh wartawan Antara dan beberapa media massa lain dari Indonesia dan reporter dari negara lainnya, serta ada kehadiran peserta eksibisi yang dihadiri 61 negara.

Direktur Pengelola Dubai Airshow Michelle van Akelijan mengatakan, sebuah kehormatan bahwa penguasa Dubai dapat membuka secara resmi ajang penyelenggaraan dua tahunan itu.

“Dengan eksibitor yang datang dari 61 negara, kami mengharapkan melihat sesuatu hal yang menarik dan inovatif untuk dipertunjukkan pada tahun ini,” kata Michelle van Akelijan.

Dia memaparkan bahwa sebanyak 1.100 eksibitor pada acara itu diperkirakan akan menerima sekitar 65.000 pengunjung dalam acara yang berlangsung selama 5 hari tersebut.

Setelah acara pembukaan, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum mengunjungi berbagai stan pameran di ajan tersebut, antara lain Stan Badan Luar Angkasa UEA.

Sementara itu, kajian perusahaan jasa penerbangan global Gama Aviation mengungkapkan bahwa saat ini di Timur Tengah, ada 792 pesawat penerbangan komersial.

Dari jumlah tersebut, negara yang memiliki armada terbesar adalah di Arab Saudi yaitu 188 pesawat.

Tidak mengherankan pula bila GMF AeroAsia juga mengincar pasar yang ada di kawasan Timur Tengah.

Hal itu juga termasuk dalam tujuan GMFmengikuti kegiatan Dubai Airshow yang mencakup meningkatkan hubungan bisnis dengan pelanggan, memperluas pasar, serta mengenal potensi pesaing di industri MRO.

Selain itu, tujuan lainnya adalah mempromosikan produk-produk dan GMF kepada pasar Timur Tengah, memperluas jejaring bisnis di industri, serta sebagai duta Indonesia di pasar bisnis dunia.

GMF pada Senin (9/11) atau hari kedua penyelenggaraan Dubai Airshow juga telah menandatangani kontrak kerjasama perawatan pesawat dengan maskapai asal Afghanistan, KAM Air.

GMF yang merupakan anak perusahaan Garuda Indonesia itu juga menyepakati nota kesepahaman (MoU) perawatan pesawat dengan maskapai asal Iran yaitu Iran Air Tour.

Kerja sama yang disepakati di hari kedua Dubai Airshow 2015 itu menambah lagi proyeksi pendapatan bagi GMF dari ajang internasional ini sebesar kurang lebih tiga juta dolar AS.

Sebelumnya, CEO GMF AeroAsia Richard Budihadianto juga telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan CEO Zagros Airlines (maskapai penerbangan asal Iran) Hooshang Seddigh dalam penyelenggaraan acara Dubai Airshow yang dibuka di Dubai, Minggu (8/11).

Dengan Zagros Airlines, bentuk perjanjian kerja sama yang ditandatangani antara lain terkait dengan perawatan sebanyak 18 pesawat oleh GMF AeroAsia.

Tidak hanya dengan Zagros Airlines, GMF AeroAsia juga berencana menandatangani kerja sama antara lain dengan sejumlah maskapai lain dari negara Iran yaitu Meraj Air dan Iran Air Tour.

Selain dengan Iran, negara lain yang juga dilakukan penandatanganan kerja sama di sela-sela penyelenggaraan Dubai Airshow tersebut adalah Afganistan (Kam Air), Nigeria (Service Air), dan Djibouti (Djibouti Air).

Seluruh kontrak kerja sama yang dilakukan GMF AeroAsia di Dubai Airshow 2015 tersebut diperkirakan bernilai investasi sekitar 15 juta dolar AS.

Fokus kembangkan CEO GMF AeroAsia Richard Budihadianto mengutarakan harapannya pemerintah dapat fokus dalam mengembangkan industri MRO (“Maintenance, Repair, and Overhaul”) atau perbaikan dan perawatan pesawat karena bakal membawa beragam keuntungan bagi Indonesia.

“Ada lima manfaat atau keuntungan bagi Indonesia bila industri MRO nasional berkembang,” kata CEO GMF AeroAsia Richard Budihadianto.

Menurut Richard, lima keuntungan itu antara lain adalah meningkatkan tingkat “safety” (keamanan) penerbangan, membantu meringankan beban perekonomian maskapai nasional karena perawatan dilakukan di dalam negeri, serta menyelamatkan devisa agar tidak keluar.

Selain itu, ujar dia, manfaat lainnya, adalah menambah lapangan pekerjaan secara berlipat karena industri MRO memiliki banyak industri ikutan, serta bila maskapai asing bertambah masuk untuk merawat pesawatnya di Indonesia, maka devisa negara juga dipastikan bertambah.

Untuk itu, ia mengemukakan bahwa sejumlah tantangan yang dihadapi yang harus diatasi antara lain adalah agar bea masuk suku cadang penerbangan pesawat dapat dinolkan, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk industri MRO juga dapat ditingkatkan.

“Kami telah meminta pemerintah untuk membantu seperti melalui kerja sama beasiswa pendidikan,” kata Richard.

Sebagaimana diberitakan, nilai perawatan pesawat di Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai 900 juta dolar AS, naik jika dibandingkan pada 2014 yakni 850 juta dolar AS. Pada 2020 angkanya diprediksi mencapai 2 milliar dolar AS.

“Kemampuan industri MRO harus bisa menyerap ini, karena saat ini MRO di Indonesia baru bisa menyerap 30 persen dari nilai tersebut,” kata Richard yang juga merupakan Ketua Umum Asosiasi Perawatan Pesawat Indonesia atau Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA).

Menurut dia , kebutuhan mendesak industri ini adalah pembangunan Aerospace Park, di mana seluruh aktivitas yang mendukung aviasi nasional bisa tersedia di kawasan tersebut, mulai dari pelatihan, suku cadang, perbengkelan dan permesinan.

“Rencananya akan dibangun di Bintan, karena kami butuh tempat yang dekat dengan Singapura, karena Singapura menjadi pusat aviasi di Asia saat ini, semua pabrikan ada di sana,” kata Richard.

Dengan demikian, tambahnya, kawasan tersebut akan lebih mudah mendapatkan berbagai komponen pesawat yang belum tersedia di dalam negeri.

Richard mengatakan, pembangunan Aerospace Park tersebut membutuhkan waktu sekitar dua tahun, yang akan mempekerjakan masyarakat Indonesia sebesar 95 persen dan 5 persen merupakan ahli dari negara-negara luar negeri.

Perluas pasar Kiprah GMF juga tidak hanya sebatas di Timur Tengah, karena perusahaan tersebut juga menyasar pasar pesawat dari maskapai yang berada di Australia dan Korea Selatan setelah melakukan sejumlah kerja sama dengan Timur Tengah dan Afrika.

“Kami telah melakukan perawatan overhaul untuk pesawat jenis B737-800 milik maskapai Virgin Australia,” kata Executive Vice President Base Operation GMF AeroAsia I Wayan Susena setelah melakukan penandatanganan kerja sama dengan sejumlah maskapai di ajang Dubai Airshow, Senin (9/11).

Menurut dia, perawatan tersebut dilakukan sesuai jadwal sehingga pihak pelanggan juga merasa puas dan diharapkan hal itu dapat menjadi modal pintu masuk untuk perawatan pesawat maskapai lainnya di Australia.

Dia berpendapat bahwa kepuasan utama harus menjadi hal yang utama sehingga GMF AeroAsia yang juga merupakan anak perusahaan Garuda Indonesia itu dapat menyasar pasar di Australia dan Korea Selatan.

Senada dengan Wayan, Vice President Sales and Marketing GMF AeroAsia Tazar Marta Kurniawan juga mengemukakan bahwa pihaknya menyasar pasar Korea Selatan yang sedang berkembang pesat.

Selain itu, ujar Tazar Marta, persyaratan tenaga kerja yang semakin mahal baik di Korsel maupun di Australia juga menjadi faktor yang menentukan pihaknya untuk menyasar kedua negara tersebut.

“GMF sudah membangun kapasitas yang sudah besar,” katanya dan menyatakan, perusahaan yang diincar di kedua negara bukan hanya LCC (low cost carrier) tetapi juga maskapai kelas premium.

Apalagi, ia juga mengungkapkan bahwa GMF telah melakukan perawatan sejumlah maskapai kelas dunia seperti Garuda Indonesia serta KLM Belanda.

GMF, ujar dia, saat ini juga sedang fokus dalam mengembangkan kapasitas industri sumber daya manusia dalam industri MRO.

“Saat ini kami sedang membangun ‘manpower’ (tenaga kerja) kami,” kata Vice President Sales and Marketing GMF AeroAsia Tazar Marta Kurniawan di Dubai, Senin.

Menurut Tazar, biaya untuk melahirkan seorang mekanik pesawat bukanlah jumlah yang kecil karena saat ini diperkirakan mencapai biaya sekitar Rp100 juta untuk membuat seseorang hingga lulus menjadi mekanik.

Dia juga mengemukakan bahwa pengembangan kapasitas SDM juga diperlukan antara lain untuk memenuhi kebutuhan dari SDM GMF AeroAsia yang merupakan anak perusahaan dari maskapai Garuda Indonesia.

Apalagi, ia mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan MRO seperti dari Yunani, Korea Selatan dan juga sejumlah negara di kawasan Timur Tengah juga menawarkan kerja sama dalam hal MRO.

Ekspansi pesat Ekspansi pesat yang dilakukan GMF dinilai juga selaras dengan tren yang menunjukkan bahwa perawatan pesawat global tidak dimonopoli oleh maskapai penerbangan.

Executive Vice President Base Operation GMF AeroAsia I Wayan Susena memaparkan, dalam lima tahun terakhir, perawatan pesawat global tidak dimonopoli maskapai yang memiliki pusat perawatan pesawat sendiri tapi dilakukan “outsource” (alih daya) ke pihak lain yakni perusahaan MRO seperti GMF.

Pengalihan itu diperkirakan mencapai 73 persen dari total pekerjaan perawatan pesawat di dunia.

Karena itu, pasar di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah dan Amerika Selatan tercatat sebagai kawasan dengan peningkatan signifikan seiring dengan pertumbuhan maskapai bertarif murah.

Hal ini yang mendorong pertumbuhan pasar perawatan pesawat secara global dari tahun ke tahun. “Pada 2014, belanja perawatan pesawat global mencapai 57 miliar dolar AS,” ujarnya.

Menurut I Wayan Susena, GMF memiliki kapabilitas untuk berkompetisi dengan perusahaan MRO dari negara lain.

Apalagi, ujar dia, kapabilitas GMF tidak hanya untuk pesawat penumpang, namun juga pesawat sewa maupun kargo.

GMF juga telah memiliki certificate of approval dari EASA (Eropa) dan FAA (Amerika Serikat) sebagai syarat utama yang kerap diminta para pelanggan.

“Begitu juga dengan kapasitas GMF yang terus meningkat seiring dengan telah dioperasikannya Hangar 4 sebagai Hangar pesawat ‘narrow body’ (bodi ramping) terbesar di dunia,” ucapnya.

Sampai saat ini GMF masih menguasai 70 persen pasar perawatan pesawat nasional dan memiliki pelanggan lebih dari 50 maskapai dari berbagai negara. Sedangkan posisi GMF di pasar perawatan pesawat global, ujar dia, telah berada dalam deretan 25 terbaik perusahaan MRO kelas dunia.

“Kami targetkan GMF masuk dalam ‘Top 10 World Class MRO’ pada 2020,” katanya.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *