700 Perahu Bandengan Besandar

  • Whatsapp

 

KENDAL, Jowonews.com—Sebanyak 700 perahu kecil milik para nelayan di Kelurahan Bandengan, Kecamatan Kendal sudah  dua pekan ini tak melaut. Hal itu lantaran hasil tangkap ikan yang minim sehingga banyak nelayan yang memilih mencari pekerjaan lain.

Bacaan Lainnya

Abdul Rosyid (30), salah seorang nelayan Bandengan mengaku jika perahu kecil biasanya lebih mencari tangkapan ikan teri nasi dan udang. Namun selama dua pekan ikan teri nasi dan udang minim sekali, sehingga hasil tangkapan tidak sesuai dengan modal nelayan saat harus melaut.

“Hampir semua perahu kecil bersandar, kalaupun ada  yang melaut itu hanya satu dua dan hasil tangkap ikan juga sedikit. Saat ini yang berani melaut hanya kapal-kapal besar yang mencari ikan besar ke tengah laut,” katanya, Rabu (11/11).

Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Kendal, Zaenal Arifin menyampaikan bahwa kondisi nelayan sepi tersebut tidak hanya dialami nelayan Bandengan saja, tapi juga nelayan di sepanjang Pantai Utara Jawa (Pantura) Kendal. “Musim seperti ini memang teri nasi dan udang itu minim, jadi banyak perahu kecil tidak melaut,” ujarnya.

 Di Bandengan sendiri ada sekitar 700 perahu kecil yang bersandar, karena para nelayannya enggan melaut. Satu perahu kecil biasanya di operasikan lima orang, itu artinya ada sekitar 3.500 nelayan yang kehilangan mata pencaharian dari melaut.

 “Jika tidak melaut, biasanya mereka kerja serabutan untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Sebab, profesi nelayan sekarang ini memang sudah tidak bisa diharapkan lagi. Jadi nelayan hanya jadi pekerjaan sampingan saja,” tandasnya.

Saat ini yang berani melaut hanyalah kapal besar saja yang bermuat 15-20 orang. Sedangkan kapal-kapal kecil hampir seluruhnya bersandar. “Kapal besar disini ada sekitar 20 kapal, tapi yang melaut paling hanya separuhnya saja,” paparnya.

Bendahara DPC HNSI Kendal, Rohini menjelaskan untuk sekali melaut sedikitnya dibutuhkan biaya Rp 250 untuk pembelian bahan bakar solar. Sebab solar yang dibutuhkan sekali melaut berkisar antara 40-60 liter solar. 

“Sementara dengan hasil tangkap ikan yang minim, para nelayan merugi. Hasil tangkap ikan saat dileang tidak sesuai sepadan untuk memberi menggaji rekan dan menutup modal bahan bakar,” tambahnya.

Dalam kondisi normal, petani nelayan bisa mendapatkan 2-3 kwintal ikan. Tapi selama dua pekan terakhir para nelayan hanya mendapatkan kurang dari satu kwintal. Sehingga hasil tangkapannya sedikit tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan. Diperkirakan nelayan akan kembali melaut saat memasuki musim penghujan, karena pada saat tersebut justru cuaca tengah laut kembali normal. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *