Pemkab tak Serius Tangani, Lalin Ambarawa Makin Semrawut

  • Whatsapp
Jpeg

UNGARAN, Jowonews.com – Arus lalu lintas (lalin) di Ambarawa Kabupaten Semarang semakin semrawut.  Sebab, hampir seluruh pertokoan di kawasan ini tidak memiliki area parker. Sehingga trotoar digunakan sebagai area parkir. Selain itu tidak sedikit angkutan kota yang berhenti menurunkan dan menaikan penumpang sembarangan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang belum melakukan tindakan nyata menghadapi kondisi tersebut. Kondisi tersebut dikeluhkan warga Kota Ambarawa dengan melayangkan surat kepada Pemkab Semarang untuk segera melakukan penataan.

Bacaan Lainnya

Penggiat Komunitas Ambarawa, Puguh Prasetyarso menyatakan kesemrawutan lalu lintas Ambarawa ini sudah lama. Bahkan adanya Jalan Lingkar Ambarawa (JLA) tidak mengatasi kesemrawutan secara signifikan. “Kesemrabutan ini sudah lama, dari parkir, tata letak PKL hingga rusaknya sistem transportasi dan kemacetan di sepanjang jalan utama Ambarawa,” ujar Puguh di Ambarawa, Rabu (11/11).

Puguh menilai Pemkab Semarang tidak serius melakukan penataan dan mengajak warga untuk proaktif membenahi kesemrawutan ini. Menurut Puguh, kondisi tersebut sangat mempengaruhi kenyamanan publik dan bakal menghambat perkembangan kota serta perekonomian masyarakat.

“Sebenarnya kalau penataan kota yang baik dan lalu lintas lancar akan meningkatkan perekonomian warga Ambarawa dan sekitarnya. Mengapa hal ini tidak dilaksanakan oleh pemerintah,” ujarnya.

Namun yang terjadi hingga saat ini tidak ada cara jitu untuk segera menyelesaikan permasalahan perkotaan di Ambarawa. Bahkan menurut Puguh jika kondisi itu dibiarkan akan semakin menimbulkan masalah perkotaan yang krusial.

Apalagi saat ini banyak destinasi wisata kelas nasional maupun international seperti Museum Kereta Api dan Gua Maria selalu ramai dikunjungi ratusan hingga ribuan wisatawan. Sehingga butuh penanganan serius untuk dapat mengurai kemacetan lalulintas, meluapnya parkir dan masalah lainnya.

Belum lagi, Ambarawa harus menanggung destinasi perekonomian dan hidup dari wilayah penyangga seperti Bandungan, Sumowono, Banyubiru, Jambu dan Bawen.

Sementara itu anggota DPRD Kabupaten Semarang, The Hok Hiong yang sekaligus tokoh masyarakat Ambarawa mengatakan, pemerintah tidak maksimal dalam melakukan penataan perkotaan. Pasalnya untuk melakukan penataan harus menggunakan dana yang besar. Seperti kantong parkir dan penataan PKL. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *