Dirjen: Budi Daya “Ugakodi” Tingkatkan Kesejahteraan Perikanan

  • Whatsapp

JAKARTA, Jowonews.com – Direktur Jenderal Budidaya Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mendorong budi daya udang galah, ikan koi, dan padi (Ugakodi) yang dinilai bakal meningkatkan produksi dan kesejahteraan pengusaha sektor perikanan.

“Budi daya Ugakodi adalah salah satu strategi untuk meningkatkan produksi perikanan budi daya yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Slamet Soebjakto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Bacaan Lainnya

Menurut Slamet, budi daya Ugakodi juga sekaligus mendukung ketahanan pangan dan gizi di Tanah Air, terutama apabila dilaksanakan secara berkelanjutan dan terintegrasi.

Hal itu, ujar dia, karena dengan menggunakan Ugakodi, akan menekan alih fungsi lahan dan urbanisasi karena beragam jenis pangan ditanam dalam satu lahan yang integratif.

Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa melalui Ugakodi, produktivitas sawah akan meningkat baik dari padi yang dihasilkan maupun tambahan tambahan pendapatan dari ikan atau udang, sehingga kebutuhan gizi masyarakat terpenuhi dan penghasilan petani pun meningkat.

“Dengan peningkatan produktivitas lahan sawah ini, saya yakin akan mencegah mencegah alih fungsi lahan sawah, mencegah urbanisasi karena mampu menyerap tenaga kerja, menambah lahan produksi ikan/udang sehingga mendukung capaian target produksi ikan nasional,” tuturnya.

Ia juga mengemukakan bahwa budidaya Ugakodi merupakan inovasi baru yang diluncurkan oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat untuk meningkatkan kualitas perikanan air tawar.

Di samping Ugakodi, lanjutnya, sudah banyak inovasi yang dihasilkan oleh BBPBAT Sukabumi dengan mengkolaborasikan perikanan dan pertanian, seperti udang galah, gurame padi (Ugamedi) dan udang galah padi (Ugadi).

“Petani akan mendapatkan beberapa keuntungan dengan sistem budi daya dua jenis ikan ini. Karena baik Udang galah dan Koi memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dan lebih menguntungkan lagi, ketiga komoditas ini dapat dipanen secara bersamaan setelah di budi dayakan selama 90 hari atau 3 bulan,” ungkap Slamet.

Cara budi daya Ugakodi adalah menanam padi jenis Ciherang secara jajar legowo, kemudian setiap satu meter persegi ditebar benih udang galah sebanyak 5-10 ekor ukuran tokolan (6-8 gram/ekor) dan menebar dua ekor koi ukuran dua cm per meter persegi.

“Panen perdana saat ini menghasilkan 87,5 kilogram udang galah, 175 ekor koi berkualitas dan 31,5 koi afkir dan padi sebanyak 400 kilogram, untuk 1000 meter persegi lahan sawah,” paparnya.

Menurut dia, dari panen perdana itu mendapatkan nilai keuntungan untuk satu periode (3 bulan) sebesar Rp5,2 juta serta tercatat bahwa tingkat ketahanan hidup udang galah mencapai 61 persen dan koi 50 persen.

“Dan dari hasil panen di lahan 1.000 meter persegi ini menghasilkan. Cukup menjanjikan sebagai tambahan pendapatan petani, dan mendukung budidaya ikan dan padi yang ramah lingkungan serta berkelanjutan,” ucap Slamet.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *