Sinyo “Pelatih Tak Boleh Diintervensi” Aliandoe – Meninggal Dunia

  • Whatsapp

JAKARTA, Jowonews.com – Selalu tampil sederhana dan jauh dari kesan formal ketika menghadapi insan pers di lapangan, khususnya ketika melayani pertanyaan wartawan seputar tim yang ditangani dalam persiapan menghadapi pertandingan tim lawan.

Ketika memberi jawaban, ia memberikan kesan ramah, tegas dan jauh dari penggunaan kata-kata “basa-basi” untuk menutupi strategi timnya dalam menghadapi kesebelasan lawan. Jika ia katakan bahwa pertandingan esok akan menerapkan pola bertahan, maka ia pun menyampaikan apa adanya.

Bacaan Lainnya

Ia pun tak pernah terlihat “wah”. Atau berpenampilan dengan gaya mewah. Namun ia tampil dengan apa adanya. Ia pun banyak mengenakan kaos sebagaimana kebanyakan pria yang banyak menggeluti dunia olahraga pada zamannya.

Sinyo Aliandoe, dialah orangnya. Pelatih nasional yang penulis kenal dan dekat pada masa organisasi sepak bola nasional, PSSI, itu dipimpin oleh Ketua Umum PSSI Kardono.

Sinyo Aliandoe meninggal di Rumah Sakit Mayapada, Cinere, Rabu (18/11/2015) pagi. Sinyo lahir pada 1 Juli 1940 di Larantuka, Flores Timur. Menurut rencana, jenazah Sinyo akan disemayamkan di ruang duka RS St Carolus, Jakarta.

Putra bungsunya, Theodorus Aliandoe mengatakan, pelatih yang membawa Indonesia meraih Piala Aga Khan, Piala Raja Thailand, dan Merdeka Games itu meninggal dunia karena penyakit jantung.

Pada masa kepemimpinan Kardono, 1983-1991, Sinyo banyak memberi sumbangan tentang perbaikan tim nasional. Ia pun banyak berkomunikasi dengan orang nomor satu di organisasi sepak bola itu. Juga dengan jajaran pengurus lainnya. Di kalangan rekan-rekannya pun ia tak malu-malu untuk bertukar pandangan.

Meski demikian, Sinyo tak mau diintervensi dalam urusan teknis sepak bola ketika diberi kepercayaan untuk menangani sebuah tim. Seingat penulis, Kardono menaruh kepercayaan penuh kepada Sinyo Aliandoe. Urusan teknis di lapangan betul-betul dipegang dan tak boleh diintervensi kapan dan oleh siapa pun.

Sinyo di kalangan rekan-rekannya pun dikenal sebagai pekerja keras. Ketika tim asuhannya akan menghadapi suatu kegiatan bergengsi, ia mengedepankan kalkulasi teknis analisis statistik di lapangan. Dia pun menjauhkan dari spekulasi. Rentang kendali tim yang ditangani dibuat menjadi sederhana dalam satu manajemen bersama asisten pelatih. Sangat wajar ia sangat memahami satu per satu kemampuan anggota kesebelasan yang dibinanya.

Setiap individu, kekuatan, kelebihan dan kelemahan yang dimiliki ada di benak Sinyo. Jadi, sangat wajar tatkala strategi menghadapi lawan bisa segera diubah bila diperlukan. Sinyo dalam hal ini patut diacungi jempol.

Berbagai kalangan menyebut bahwa Sinyo pun memiliki kemampuan mengubah pola permainan pasukannya seketika hanya dengan memanfaatkan pergantian pemain.

“Asam garam” Dalam perjalanan karirnya di dunia sepak bola, Sinyo Aliandoe banyak menyaksikan dan merasakan “asam garam” yang terjadi di tubuh organisasi sepak bola. Berbagai gejolak tidak membuat dirinya terpancing dan larut dalam konflik. Justru ia fokus pada profesinya sebagai pemain dan pelatih. Semua hidupnya diabdikann untuk sepak bola nasional.

Awal ketika PSSI dipimpin Kardono, Sigit Harjojudanto, Wahab Abdi, Acub Zaenal, dan sekjennya Nugraha Besoes, Sinyo menyaksikan kondisi organisasi persepakbolaan Indonesia secara fisik belum terlalu menggembirakan. Khususnya kantor PSSI di tingkat daerah, ada yang ngontrak, ditempatkan di garasi hingga untuk mendapatkan bola standar nasional saja masih kurang. Terlebih lagi jika bicara utang PSSI, yang banyak diselesaikan oleh kepengurusan Kardono.

Saat itu, jika dilihat kompetisi sepak bola nasional belum mengalami perbaikan. Namun untuk beberapa daerah, kondisinya masih sangat memprihatinkan.

Untuk menjadi pengurus sepak bola saja masih dianggap tidak menarik. Pasalnya, mengurus bola butuh “fulus” cukup besar. Berbeda dengan mengurus olah raga perorangan, yang jika memperoleh medali, perolehannya sama dengan satu cabang olah raga yang banyak melibatkan banyak pemain.

Belakangan, para tokoh di daerah mulai tertarik mengurus bola lantaran di situ ada “kantong suara” untuk menarik dukungan sebagai kepala daerah. Terlebih di beberapa daerah, tim sepak bola mendapat dukungan dana APBD setempat. Olah raga ini memang memiliki ikatan emosional kuat dengan warganya di berbagai provinsi di Tanah Air.

Terkait peran Sinyo dengan wartawan dan PSSI, bisa dinilai sangat luar biasa. Boleh disebut Om Sinyo, sapaan akrab Sinyo, paham betul “maunya wartawan” ketika mendekatinya. Saat itu, di kalangan wartawan olah raga yang tergabung dalam Seksi Wartawan Olahraga (Siwo) PWI Jaya, berkembang terminologi sepak bola yang hanya dipahami kalangan internal, seperti “mabes”, “tiang gawang jauh”, “gawang jarak dekat”.

Jika mendengar ungkapan yang berkaitan urusan wartawan Siwo itu, Om Sinyo hanya tertawa.

Organisasi sepak bola di awal 1980 mulai banyak diurus penggila bola. Dari sisi pemerintahan, saat itu, mengurus organisasi bola secara tidak langsung mendapat poin atau penilaian “plus” lantaran mencerminkan sebagai orang memiliki kepedulian kepada publik.

Hal itu dapat dipahami karena sepak bola merupakan olah raga paling digemari meski dari sisi prestasi dari dulu hingga kini terus menerus mengalami pasang-surut.

Karena itu, tidak heran, tatkala berlangsung kompetisi, mulai bupati hingga gubernur memberi perhatian khusus. Mereka hadir menyaksikan pertandingan. Bahkan sebelum mulai pertandingan, digelar pertandingan sepak bola antarpejabat. Jika timnya menjadi juara, pemain dapat sanjungan tinggi dan dapat bonus.

Beri masukan Peran Sinyo saat itu banyak memberikan masukan kepada pengurus PSSI tentang hasil pemantauannya terhadap sejumlah pemain berbakat di berbagai daerah. Peran Sinyo dalam urusan ini sangat besar.

Dari riwayat hidupnya, ia pernah tercatat sebagai pelatih sejak era 70-an, Sinyo pernah memperkuat tim Ibu Kota Persija Jakarta. Ia gantung sepatu dan fokus menekuni karir pelatih setelah mengalami cedera parah, patah tulang pergelangan kaki.

Kenangan Beberapa pesepak bola mengaku memiliki kenangan tersendiri terhadap pelatih asal Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu.

Kiper timnas Indonesia di era 80-an, Hermansyah, misalnya. Ia menilai bahwa Sinyo Aliandoe adalah sosok pelatih jempolan. Hermansyah menjadi kiper andalan timnas yang diasuh Sinyo di ajang Pra Piala Dunia 1986 yang digelar pada1985.
tim-nas-garuda-1986
“Om Sinyo merupakan pelatih berdisiplin. Dia hanya galak saat di lapangan,” kata Hermansyah, kiper di timnas PPD 1986.

Tetapi di luar lapangan almarhum menganggap para pemain sebagai keluarga. Para pemain sangat hormat dan menganggapnya sebagai bapak,” kata Hermansyah yang direkrut Sinyo dari proyek timnas Garuda I.

Sementara itu mantan pesepak bola nasional Ferril Hattu menyebut sosok Sinyo Aliandoe sebagai pelatih yang lengkap dalam membimbing para pemain binaannya.

“Sinyo adalah sosok pelatih yang komplet. Dia sebagai pelatih juga bisa berperan sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai pembimbing, sebagai psikolog,” kata dia ketika dihubungi di Jakarta, Rabu.

Ferril, yang bermain di posisi libero, memandang Sinyo sebagai pelatih pintar yang paham strategi dan mengerti bagaimana mengeksplor kemampuan pemainnya.

Atas meninggalnya pelatih tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menyampaikan turut berduka cita dengan menyebut bahwa Indonesia kehilangan salah satu pelatih terbaik nasional.

Sinyo merupakan legendaris sepakbola yang pantas dikenang karena merupakan salah satu pelatih terbaik nasional dan terkenal dengan kemampuannya mengatur strategi di lapangan hijau,  kata Menpora mendengar kabar meninggalnya Sinyo Aliandoe.

Selamat jalan Om Sinyo, semoga mendapat tempat yang layak di sisi Yang Maha Pengasih.  (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *