Warga Protes Eksploitasi Air

  • Whatsapp

UNGARAN, Jowonews.com– Warga Parakan, Kelurahan Beji, Kabupaten Semarang, memprotes keras adanya eksploitasi air dari sumber air yang dijual ke keluar Desa. Sebab debit sumber air lingkungan Parakan menjadi menyusut,akibatnya akan timbul kekurangan air.

Warga juga menduga tidak ada transparansi penggunaan dana bantuan sosial (Bansos) dari Pemerintah Kabupaten Semarang untuk warga Beji yang nilainya ratusan juta. Sehingga patut dicurigai ada penyimpangan dana yang digunakan untuk proyek air. Warga yang geram dengan kondisi tersebut, Jumat (20/11) sore akhirnya melakukan penutupan dan penataan saluran air. 

Bacaan Lainnya

Tokoh masyarakat Lingkungan Parakan, Kelurahan Beji, Karimun, 42, warga RT 1 RW 10, mengatakan, warga mempermasalahkan eksploitasi air yang dijual keluar desa. Sebab debit air di sumber air yang dimanfaatkan warga berkurang. Akibatnya ekosistem di lingkungan Parakan terganggu, pemilik sawah juga mulai mengeluh kekurangan air.

“Akibat eksploitasi berlebihan dengan menjual air keluar desa secara sporadis, membuat debit air menyusut. Kami khawatir jika ini dilakukan terus menerus kami akan kekurangan air. Sawah-sawah ini tidak lagi hijau, belum lagi jika pemukiman bertambah tentu akan semakin kesulitan air,” kata Karimun, Jumat (20/11) siang kemarin. 

Karimun menambahkan, warga juga kecewa dengan panitia pengelolaan air yang mendapatkan dana aspirasi ratusan juta dari Pemerintah Kabupaten Semarang. Sebab warga menilai tidak ada transparansi dalam pengelolaan dana bantuan untuk rakyat miskin tersebut.

Bahkan kabarnya kendati sudah ada bantuan dari pemerintah, namun warga pengelola air meminta uang pembangunan pada sejumlah warga yang menyalur air. Nilai penarikan uang tersebut juga cukup besar hingga RP 2,5 juta per kepala keluarga. Karimun mengatakan permasalahan tersebut sebenarnya sudah dilaporkan kepada Lurah Beji dan sempat dilakukan musyawarah. Namun sudah dilakukan musyawarah namun tidak ada hasil yang positif.

“Musyawarah pekan lalu juga tidak ada hasil yang memuaskan bagi kami. Sehingga kami melayangkan surat kepada Kapolres, Ketua DPRD, Kepala DPU sebagai pemberi dana bantuan. Kami akan melaporkan ke ranah hukum, kami meminta seluruh dana aspirasi yang masuk ke Beji diaudit. Tetapi hingga saat ini tidak ada tanggapan, sehingga warga jengkel dan habis salat jumat kerjabakti menutup saluran air ini,” kata Karimun.

Warga lainnya, Musirjan, 45, mengatakan, sebenarnya warga itu tidak mempermasalahkan bantuan dana dari Pemkab Semarang. Hanya saja warga meminta ada transparansi, selain itu masalah air juga harus dilakukan musyawarah dan terbuka.

“Setiap kali panitia ditanya warga selalu jawab tidak tahu berapa besaran bantuan dari pemerintah. Warga juga merasa tidak diajak musyawarah hingga tuntas tentang penggunaan air,” kata dia.

Pemerhati Sosial dan Budaya Kabupaten Semarang, Husein Abdullah menyayangkan Pemerintah Kabupaten Semarang yang lambat menangani permasalahan di Kelurahan Beji. Padahal permasalahan tersebut dapat menimpulkan dapak buruk yang geger antar warga. Jika masalah tersebut diselesaikan secepatnya tidak akan muncul permasalahan di tengah masyarakat.

“Semestinya ketika ada permasalahan seperti itu langsung diurai. Jika warga menghendaki ada transparansi ya dibongkar saja seperti apa pengelolaan dana aspirasi ke Beji. Selain itu pengelolaan air juga semestinya harus dimusyawarahkan sehingga tidak muncul permasalahan di belakang,” pungkasnya. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *