Korban dari Keluarga Mampu

  • Whatsapp

SEMARANG, Jowonews.com – Aktivis Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) BP3AKB Provinsi Jawa Tengah, Tri Purwanti Novitasari mengaku, sejauh ini permohonan pendampingan yang diajukan ke pihaknya terkait korban prostitusi online baru ada tiga orang korban.

Dari tiga korban yang diajukan, pihaknya baru melakukan pendampingan terhadap dua orang korban. Dua korban tersebut adalah ELS dan VER, keduanya merupakan korban dari kasus yang terbongka di Gombel.

Bacaan Lainnya

“Permohonan pendampingan yang masuk ada tiga, tapi baru dua yang sudah didampingi. Keduanya korban kasus di Gombel dan masih berusia 17 tahun,” papar Novita.

Dari dua korban yang didampingi, masing-masing memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda. Korban VER berasal dari keluarga ‘broken home’, sedangkan korban ELS dari keluarga mampu tapi terpengaruh lingkungan.

“Dua korban ini sudah tidak sekolah, drop out (DO). Mereka drop out dengan alasan berbeda juga, ELS karena dia lebih suka main dan jarang masuk sekolah. Kalau VER karena hamil dulu dan keluar sendiri dari sekolahnya,” tandas Novita.

Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun dari BP3AKB Provinsi Jawa Tengah, kasus kekerasan anak di Jawa Tengah masih terbilang tinggi. Bahkan masih terus terjadi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011 misalnya, telah dilaporkan ada 1084 kasus. Kemudian pada tahun 2012 ada 1.352 kasus, tahun 2013 terdapat 1.035 kasus, dan tahun 2014 terdapat 1.114 kasus. Untuk tahun 2015, tepatnya hingga bulan September, sudah terjadi 1.046 kasus kekerasan anak. Berdasarkan jumlah-jumlah tersebut, kekerasan seksual merupakan yang paling tinggi jumlahnya. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *