Kemristekdikti Dorong Klasifikasi Perguruan Tinggi

  • Whatsapp
Gerbang Unnes. (Foto : Dok.Jowonews)
Gerbang Unnes. (Foto : Dok.Jowonews)

SEMARANG, Jowonews.com – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi mendorong klasifikasi perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas dan kemandiriannya melalui riset yang dilakukan.

“Klasifikasi perguruan tinggi untuk mendorong agar lebih bagus dan mandiri,” kata Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek Dikti Muhammad Dimyati di Semarang, Jumat.

Bacaan Lainnya

Hal itu diungkapkannya usai membuka “1st Universitas Negeri Semarang (Unnes) International Conference on Research Innovation and Commercialization for Better Life 2015” di Hotel Patra Jasa Semarang.

Seminar internasional yang digelar Unnes itu diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi beberapa negara, seperti Jepang, Taiwan, Thailand, Malaysia, Belanda, dan India.

Menurut Dimyati, klasifikasi perguruan tinggi itu sebenarnya sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo yang memfokuskan pada pengembangan pangan perekonomian, energi, dan kemaritiman.

“Seperti Unnes, misalnya, lebih condong ke arah pengedepanan etika. Demikian pula perguruan tinggi lain dengan kekhasannya sendiri. Perguruan tinggi akan difasilitasi seperti itu,” katanya.

Ia menjelaskan klasifikasi perguruan tinggi yang diharapkan mampu berimplikasi positif terhadap peningkatan kualitas itu akan diiringi dengan gelontoran dana pendidikan yang semakin besar.

Dana pendidikan yang digelontorkan pemerintah untuk perguruan tinggi paling besar sekarang ini setidaknya mencapai Rp40 miliar, bergantung seberapa besar kualitas suatu perguruan tinggi.

“Unnes masuk dalam perguruan tinggi ‘range’ dua dengan kucuran dana pendidikan sampai Rp15 miliar. Pengaruh besaran dana ini salah satunya dari ‘Technology Readiness Level’ (TRL),” katanya.

Perguruan tinggi yang memiliki banyak hasil riset dengan TRL atau tingkat kesiapan teknologi mendekati delapan, kata dia, bisa mendapatkan kucuran dana pendidikan sampai Rp20 miliar.

“Ya, klasifikasi perguruan tinggi ini seperti pesantren. Santri yang mau belajar hadist kan pasti mencari pesantren yang kajian hadistnya kuat, tidak mungkin ke pesantren fiqih,” katanya.

Apabila perguruan-perguruan tinggi sudah terklasifikasi dan terkultur, kata Dimyati, mereka yang membutuhkan kajian bidang tertentu pasti akan berbondong-bondong menuju ke perguruan tinggi itu. (JN03/Ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *