Marmo Dituduh Hendi Ngaku-ngaku Bangun Simpang Lima

  • Whatsapp
PANAS. Debat Pilwalkot Semarang pada Jumat malam berlangsung panas, para calon saling serang dan adu program. (Foto: Teguh Tsyuyoi/Jowonews)
PANAS. Debat Pilwalkot Semarang pada Jumat malam berlangsung panas, para calon saling serang dan adu program. (Foto: Teguh Tsyuyoi/Jowonews)

SEMARANG, Jowonews.com – Agenda debat calon walikota-wakil walikota pada Jumat (27/11) di Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Kota Semarang berlangsung cukup panas. Selain saling serang antar pendukung ketiga calon, debat tersebut juga diwarnai klaim atas pencapain pembangunan Simpang Lima, Kota Semarang.

Calon walikota nomor urut 2, Hendrar Prihadi (Hendi) Calon Walikota Semarang menilai calon walikota Soemarmo HS hanya ngaku-ngaku telah membangun Simpang Lima, padahal itu dibangun dengan Anggaran Pemerintah Propinsi (Pemprov), bukan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang.

Bacaan Lainnya

“Mohon maaf pak Marmo, bukan bermaksud merendahkan, bahwa pembangunan Simpang Lima tersebut kita ketahui itu di bangun oleh pemerintah propinsi, jadi janganlah ngaku-ngaku,” ungkap Hendi, yang diusung PDI Perjuangan, Partai Demokrat dan Partai Nasdem ini.

Dituduh hanya mengaku-ngaku soal pembangunan wakilnya, Soemarmo menjawab dengan kalem dan tidak mempersoalkan sindiran tersebut, ia menyatakan bukti dokumen APBD bisa di buka kembali sebagai bukti.

Calon walikota yang berpasangan dengan Zuber Safawi dan diusung oleh Koalisi Bangkit Sejahtera, gabungan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini merasa bahwa banyak dokumen terkait pembangunan Simpang Lima tersebut.

“Tidak apa-apa saya dikatakan seperti itu, namun kita bisa lihat banyak bukti, dokumen APBD juga ada, disini juga banyak para anggota dewan bisa di tanya tentang itu, tapi tak apa-apa, biar masyarakat yang menilai,” tandas Marmo.

Sebagai inormasi, pada era pemerintahan walikota Soemarmo pada tahun 2010-2011 Kota Semarang banyak melakukan pembangunan. Salah satu diantaranya adalah revitalisasi  Simpang Lima, Taman KB dan Jalan Pahlawan.

Selain diwarnai klaim, debat publik putaran kedua tersebut juga sempat diwarnai kegaduhan yang ditimbulkan pendukung pasangan calon. 

Dalam debat yang bertema “Sinergi Pembangunan Kota” dan disiarkan langsung TVRI Semarang itu, kegaduhan itu membuat pasangan calon sempat berhenti sejenak saat menyampaikan paparan dan jawaban atas pertanyaan yang disampaikan Prof F.X. Sugiyanto, ekonom Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, sang moderator.

Bahkan, kegaduhan yang ditimbulkan juga membuat sang moderator terganggu konsentrasinya sehingga beberapa kali keliru menyampaikan, termasuk hampir melewatkan kesempatan calon lain untuk menjawab.

Untuk membuat suasana tetap kondusif, ada beberapa pendukung yang terpaksa dikeluarkan dari area debat oleh petugas keamanan, termasuk penyitaan dua atribut kampanye berupa bendera dari pendukung salah satu pasangan calon.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang Henry Wahyono mengakui kurang kondusifnya suasana debat putaran kedua yang mengusung tema “Sinergi Pembangunan Kota” dan disiarkan langsung TVRI Semarang itu.

“Saya tadi diingatkan Pak F.X. Sugiyanto (moderator, red.). Beliau menyarankan untuk memberikan semacam peringatan untuk pendukung. Pertama ‘kartu kuning’, kalau kelewatan ‘kartu merah’, dikeluarkan,” katanya. (JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *