Kerajinan Busur Panah Di Solo Banyak Diminati

  • Whatsapp

SOLO, Jowonews.com – Kerajinan industri ekonomi kreatif pembuatan busur dan anak panah asal Sriwedari Kota Solo, Jawa Tengah, hingga kini masih banyak diminati karena memiliki kualitas atlet nasional.perajin busur panah tempo duluSeorang pengrajin busur panah Eddy Roostopo di Sriwedari Solo, Rabu, mengatakan pembuatan busur dan anak panah kualitas atlet nasional dibutuhkan ketelitian dan ketenangan sehingga produknya tetap digemari para atlet nasional dan bahwkan ada pesanan dari luar negeri seperti Negara Hongaria.

Eddy Roostopo yang akrab dipanggil Popop tersebut mengatakan seorang pengrajin busur panah sebaiknya seorang atlet pemanah sehingga mereka saat membuat hasil karyanya dapat merasakan apakah busur itu sudah benar atau tidak atau memiliki kualitas.

Bacaan Lainnya

“Saya menekuni membuat busur panah ini sejak 1977 hingga sekarang dan produksinya sudah ke mana-mana, termasuk ke mancanegara,” kata Popop mantan atlet nasional peroleh medali emas cabang olahraga panahan PON XI 1985 di Jakarta.

Menurut dia, idenya membuat busur panah tersebut berawal dari ayahnya yang turun ke dirinya hingga sekarang.

Produk busur panah yang dibuat kebanyakan tradisional terbuat dari bahan kayu dan bambu.

Namun, lanjutnya, pihaknya juga melayani permintaan berkualitas nasional yang menggunakan bahan baku kombinasi dengan barang impor seperti karbon dan talinya.

Menurut dia, produk busur panah dengan menggunakan bahan baku kayu sonokeling, eboni, dan sawo. Harga juga juga bervariasi dari Rp1,1 juta per set hingga Rp2,8 juta per set tergantung bahan yang digunakan.

“Busur panah dengan bahan kombinasi bisa mencapai Rp2,8 juta per set atau satu busur dan 12 anak panah,” kata Popop yang mengaku pernah menciptakan rekor nasional Panahan nomor 50 meter PON XI 1985.

Menurut dia, pihaknya kemampuan produksi membuat busur panah tersebut rata-rata mencapai 10 set dalam satu minggu. Dirinya membuat busur harus membutuhkan ketenangan dan ketelitian menjadi kunci suksesnya hingga sekarang.

“Bahan baku membuat busur panah yang harus impor yakni tali dari Belanda, Perancis, dan Amerika Serikat, sedangkan karbon dari Korea.

Menurut dia, khusus untuk anak panah yang terbuat dari alumunium dan carbon, dirinya hanya merakit mata panah hingga bulunya terbuat dari bulu entok. Sedangkan, batang panah diimpor dari Amerika Serikat dan Korea.

“Harga anak panah sebanyak 12 batang rata-rata dijual antara Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per dosen,” katanya.

Pihaknya sudah melayani seluruh Indonesia baik busur maupun anak panah, dan omzet penjualan rata-rata sekitar 15 set per bulan.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 Komentar

    1. kalo mau minat bisa hub saya (mas marno) saya kebetulan ikut jemparigan SIPAS milik kakung edy popop (085799524185).