Momentum Pilkada, Lukisan “Kursi” Di Peresmian Museum Seni Rupa “Golden Pilar Museum and Art Space”

  • Whatsapp
Jpeg

Jowonews.com – Suara dari knalpot belombongan ratusan sepeda motor bergemuruh di dekat museum seni rupa yang diresmikan oleh pemiliknya di Kota Magelang, bertepatan dengan jatah kampanye terbuka salah satu pasangan kandidat pilkada setempat.

Pemilik museum, Alexander Ming (60), memberi nama tempat berupa bangunan zaman Belanda itu “Golden Pilar Museum and Art Space”. Letaknya di Jalan Kartini Nomor 2 Kota Magelang, Jawa Tengah, di kawasan pusat kota yang meliputi tiga kecamatan dan 17 kelurahan itu.

Bacaan Lainnya

Dekat dengan museum di atas areal sekitar 2.400 meter persegi itu, menjadi posko salah satu pasangan kandidat Pilkada Kota Magelang, 9 Desember 2015. Massa pendukungnya pada Kamis (3/11) pagi berkumpul di depan posko mereka untuk kemudian berkonvoi dengan tertib menuju tempat kampanye terbuka di dekat alun-alun.

Bertepatan dengan itu, Ming yang nama Tionghoa-nya Tan Ming Siong tersebut, memulai pameran sekitar 100 karya lukisan kanvas dengan cat minyak, khusus bertema “Kursi”. Berbagai dinding museum yang dikelola secara pribadi tersebut, nyaris tertutup secara menarik oleh tatanan lukisan-lukisan karyanya itu.

Pembukaan pameran berlangsung selama sebulan ke depan dan sekaligus peresmian museum ditandai dengan performa berjudul “Kursi” di halaman yang berumput hijau, oleh sejumlah seniman kelompok Magelang Art Portpauri Plus Kota Magelang.

Performa mereka yang meliputi gerak tubuh, tembang Jawa, dan spontanitas bersastra selama sekitar setengah jam itu, terlihat menggambarkan tentang perebutan kursi kekuasan. Properti kursi dari bahan kayu yang diperkirakan berumur tua dan terlihat unik, mereka letakkan di halaman museum.

Beberapa pejalan kaki di trotoar depan museum dan sejumlah pegawai negeri yang bertugas di kantor instansi di seberang jalan depan museum, tampak menyaksikan dari jauh performa “Kursi” yang dilakukan secara apik oleh seniman Aning Purwa, Agung Begawan Prabu, Eka Pradaning, Demang Fritqie Suryawan, pelukis Kaji Habib, Untung Nugroho, dan Wahudi.

Lukisan-lukisan berbagai ukuran, terutama relatif kecil-kecil, yang menghiasi hampir seluruh dinding museum yang sekaligus rumah tinggal Ming itu, disebut seorang pelukis spesialis kepala Sang Buddha dari kawasan Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Ismedi, sebagai bercorak surealis kontemporer.

“Kebetulan saja, momentumnya bertepatan dengan akan pilkada,” ujar Ming yang suami Emmi Roosianti dengan memiliki tiga anak itu, ketika ditanya apakah sengaja pameran tunggal tersebut karena makna simbolis kursi yang terkait dengan kekuasan.

Hadir pada acara yang sederhana namun penuh makna monumental kultural tersebut, antara lain Ketua Dewan Kesenian Kota Magelang Susilo Anggoro, pelukis dan pengelola Galeri Tuk Songo Borobudur Deddy Paw, dan pemimpin Sanggar Wonoseni Bandongan Kabupaten Magelang Pangadi.

Pemimpin Pondok Pesantren Ushuluddin Desa Bawang, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang K.H. Mansyur Asnawi pada kesempatan itu memimpin doa selama beberapa saat sebagai tanda peresmian museum dan pembukaan pameran lukisan kursi, melalui darasan Surat Al-Fatihah.

“‘Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi rabbil alamin, Arrahmaanirrahiim Maaliki yaumiddiin, Iyyaka na’budu waiyyaaka nastaiin, Ihdinashirratal mustaqim, shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghduubi alaihim waladhaalin’,” demikian bacaan doa tersebut yang disambut sejumlah orang yang hadir di halaman bangunan tersebut dengan bersama-sama mengucap, “Amin”.

Terjemahan kalimat doa itu, yakni “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai pada hari pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat”.

Di bawah salah satu lukisan tentang kursi di kanvas cukup besar yang dipampang dekat pintu masuk museum, Ming yang mulai melukis dengan tema “kursi” sejak 1991 kepada sejumlah tamunya, menjelaskan tentang makna politis atas kursi yang tidak lepas dari kekuasan.

Kursi juga dipandangnya memiliki makna ekonomis, sosial, budaya, dan kemasyarakatan. Lukisan bertema kursi telah diciptakan sejak 1991 dan hingga saat ini berjumlah sekitar 500 karya. Tidak semua bisa dipajang di museum tersebut dalam pameran kali ini.

“Kursi menjadikan martabat seseorang yang tepat untuk menduduki. Tetapi kursi juga menjadikan orang yang duduk lupa terhadap banyak orang yang mendukung untuk mendudukinya,” ujarnya ketika bertutur suatu makna politis atas kursi.

Selain itu, katanya, kursi menjadi tempat untuk orang mengatur berbagai perencanaan kegiatan dan menjadi istilah untuk sejumlah orang bermusyawarah karena menjadi tempat “duduk bersama”.

Bertepatan dengan momentum makin dekat pada hari pilkada, pameran lukisan tentang kursi, disebut Deddy Paw sebagai sarana refleksi juga bagi para kandidat kepala daerah.

“Pameran ini mengena dengan situasi terkini, saat ini,” ujarnya yang dibenarkan oleh Ming yang menjadi pelukis secara otodidak sejak lulus sekolah menengah pertama itu.

Di antara tatanan lukisan-lukisan berbagai macam bentuk kursi di dinding-dinding museum tersebut, juga terpajang karya surealis lain seperti lukisan yang menonjolkan huruf “1” dan lukisan yang berupa tulisan “Love” yang tentunya boleh ditafsirkan dalam makna politis masa kini.

Di samping itu, sederetan tatanan lukisan kursi bercat warna putih dengan semua berlatar belakang warna hitam mewarnai beberapa bagian dinding museum. Ming tidak menempelkan petunjuk tulisan tentang judul-judul tertentu di setiap lukisan kursi yang dipajang dalam pameran tersebut.

Daya pikat awal untuk menciptakan lukisan bertema kursi diperoleh Ming, ketika melihat karya Vincent Willem van Gogh (1853-1890), pelukis pascaimpresionis Belanda.

“Saya terpana dengan karya Van Gogh tentang kursi, tetapi ketika itu belum bisa bercerita, lalu saya coba melukis kursi tetapi belum bisa mendapatkan jiwanya karena belum tahu,” katanya.

Pemaknaan tentang kursi mulai memenuhi benaknya pada era 1996-1997, ketika Indonesia mendekati pintu era Reformasi. Kursi pada awalnya disadari sebagai tempat orang melepas lelah, tetapi juga tempat istiwewa untuk seorang bos dan pemangku kekuasaan.

Pada 2004, ia beroleh kesempatan menggelar pameran lukisan bertema kursi di Bandung, Jawa Barat, sedangkan mulai 2008, Ming menyadari kekuatan simbolis tentang kursi sebagai tempat yang monumental dalam kehidupan manusia.

Ia pun kemudian melukiskan berbagai inspirasi dan pemaknaan tentang kursi dengan format ukuran yang lebih besar ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

“Semua orang ingin di panggung, menduduki ‘kursi’. Orang ingin menjadi nomor satu, padahal ada yang belum pantas mendudukinya,” katanya.

Kursi tidak cukup hanya dipandang sebagai tempat orang duduk. Akan tetapi multimakna, sebagaimana ratusan lukisan kursi karya Alexander Ming yang dipamerkan di museum pribadinya itu.

“Silakan mengapresiasi lukisan kursi, karya saya ini,” katanya.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *