Kerajinan Telenan Limbah Kayu Tembus Pasar Mancanegara

  • Whatsapp

KARANGANYAR, Jowonews.com – Kerajinan telenan yang memanfaatkan limbah kayu jati dari industri kusen asal Desa Keradenan Serangan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah mampu menembus pasar mancanegara.

Seorang pengrajin telenan, Christian Haryanto di Karanganyar, Selasa mengatakan kerajinan telenan dari bahan baku limbah kayu jati tersebut dilirik konsumen Korea karena miliki kualitas dan corak yang indah dekoratif.

Bacaan Lainnya

“Kami sudah mengirim beberapa sampel telenan ke Korea belum lama ini, dan mereka tertarik produk asal Karanganyar itu, karena miliki corak karakteristik kayu aslinya,” kata Christian yang mengaku menekuni kerajinan telenan baru dua tahun ini.

Namun, kata dia, untuk permintaan konsumen pasar lokal untuk sementara di tempat cafe-cafe di Jakarta dan rata-rata baru sekitar 200 biji per bulannya.

Dia menjelaskan, untuk kerajinan telenan produksinya memang masih menggunakan beralatan sederhana atau manusal seluruhnya sehingga corak karakteristik serat kayu masih bisa terlihat indah dan mulai diminati konsumen “Produksinya memang lain, jika dibanding hasil produk dengan mesin yang lebih efisiensi. Produknya lebih unggul pada corak karakteristik yang alami,” katanya.

Menurut dia, harga kerajinan telenan produksinya ditawarkan mulai dari Rp80 ribu hingga Rp150 ribu per biji tergantung ukuran dan bentuk kesulitan produksi.

Pihaknya yang melibatkan dengan sebanyak 15 tenaga kerja tersebut kemampuan produksi rata-rata sekitar 2.000 biji per bulan. Produksinya masih melihat dari permintaan pasar.

Menyinggung soal bahan baku kayu jati yang dianggap semakin sulit, Christian menjelaskan bahan baku limbah kayu tersebut masih tersedian banyak, dan harga rata-rata sekitar Rp16 juta per kubiknya.

“Kami bahan baku banyak mengambil dari limbah industri kusen di daerah Blora atau Rembang Jateng,” katanya.

Proses produksi telenan, kata dia, cukup sederhana pertama kayu yang berbentuk potongan disambung-sambung dengan lem atau perekat menjadi papan. Setelah ini, dipotong sesuai dibentuk yang dikehendaki dan kemudian diampas hingga permukaan halus.

“Penyambungan kayu bentuk kotak-kotak itu, membuat corak kayu menjadi indah alami dan seratnya menjadi warna asli tersendiri,” katanya.

Menurut dia, industri ekonomi kreatif tersebut hanya membutuhkan alat mesin sederhana seperti gergaji mesin kecil, mesin amplas, dan alat pressing saat proses perekatan kayu.

Menyinggung soal persiapan para pengrajin ekonomi kreatif dalam menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di dalam negeri, Christian mengatakan banyak usaha mikro kecil menengah yang khawatir karena masih kurangnya sosialisasi dari pemerintah daerah setempat.

Namun, kata dia, soal kualitas barang dalam persaingan pasar dengan produksi luar negeri, pihaknya berani bersaing untuk menarik konsumen.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *