Orang Boyolali Gelar Tradisi Angon 33 Cucu

  • Whatsapp
ANGON PUTU: Keluarga Siswomartono dan Dayati menggelar angon putu.

BOYOLALI, Jowonews.com -Tradisi Angon Putu saat ini sudah sangat jarang kita temui. Namun bukan berarti warisan budaya Keraton Surakarta Hadiningrat itu sudah tak ada lagi. Jumat (25/12) kemarin, tradisi itu digelar oleh pasangan Siswomartono (85) dan Dayati (80).

Riuh canda penuh kegembiraan terpancar dari keluarga besar Siswomartono dan Dayati. Suami – istri yang sudah merajut mahligai pernikahan sejak 58 tahun lampau itu, mengajak seluruh anak, cucu dan buyutnya ke pasar Sambi dalam tradisi angon putu. Sebanyak sembilan anak, 33 cucu dan delapan buyut ikut semua.

Bacaan Lainnya

Angon putu ini dilakukan Siswomartono dan Dayati sebagai ungkapan rasa syukur, bahwa mereka sudah berhasil mengentaskan dan membesarkan anak-anak mereka hingga sukses saat ini. Diawali dengan pelepasan burung merpati di kediamannya, jalan Srikanto II No 412, Sunggingan, Kiringan, Boyolali Kota. Seluruh anak cucu dan cicit kemudian melakukan sungkeman.

Selanjutnya, mereka berangkat ke Sambi. Siswomartono mengenakan busana kejawen dan menggunakan topi caping dan menenteng pecut atau cemeti sebagai tanda angon putu. Tempat yang dituju pertama yakni SDN Sambi, napak tilas di tempat awal perjumpaan Siswomartono dan Dayati. Baik Siswomartono dan Dayati, dahulunya bertemu di SDN 1 Sambi, sesama pengajar atau guru sejak SD itu didirikan tahun tahun 1954 silam.

Keharuan pun menyeruak saat Siswomartono dan Dayati mengenang kembali kisah hidupnya puluhan tahun silam. “Saya bertemu ibu di SD ini, dulu rumah kami di belakang sekolahan ini,” tutur Siswomartono.

Butuh perjuangan keras dan tak kenal lelah untuk mendidik anak-anak mereka hingga sukses saat ini. Saat itu gaji pokok Siswomartono hanya Rp 156 per bulan. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, sang istri pun selain mengajar juga menjual makanan dan minuman. Bahkan untuk biaya pendidikan sang anak, pernah pula mereka harus berhutang. Namun bagi mereka, pendidikan anak-anak harus diberikan setinggi mungkin. Sehingga saat ini, seluruh anak-anak mereka rata-rata berpendidikan S2. Segala perjuangan mereka berdua saat ini terbayar, seluruh anaknya menjadi orang sukses dan sebagian besar merupakan pejabat teras di pemerintahan.

Momentum berkumpulnya seluruh anak, cucu, dan cicit mereka saat ini sangat mengharukan bagi Siswomartono dan Dayati. Apalagi selama ini mereka hanya tinggal berdua di Boyolali. Sementara anak-anak mereka sebagian besar tinggal di Jakarta. “Saya trenyuh dan bahagia, semua bisa berkumpul menjadi satu. Bahkan yang dari Malaysia juga pulang,” kata Dayati.

Retno Purwaning (58), anap pertama Siswomartono-Dayati mengenang, dahulu dirinya dan adik-adik sekolah tanpa uang saku dan sering terlambat bayar uang sekolah. “Bapak ibu saya itu orangnya ulet untuk membesarkan anak-anaknya,” katanya.

Keberasilan tersebut juga didukung oleh jiwa anak-anak mereka yang saling membantu, untuk menjadikan sukses bersama-sama. Selain itu, keberhasilan keluarga ini juga tak lepas dari peran RA Dwito Riyono, kakak Dayati yang memberikan andil besar bagi keluarga Siswomartono.

Melalui ritual angon putu ini, Siswomartono juga berharap dapat ikut melestarikan tradisi yang adiluhung, yang bemuara kerukunan anggota keluarga dan masyarakat luas. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *