Menutup Celah Joget Porno Di Bali, Seni Joget Bumbung

  • Whatsapp

BALI, Jowonews.com – Penayangan video Joget Bumbung dengan atraksi-atraksi gerakan yang mengumbar goyang sensual cenderung porno di dunia maya melalui situs “youtube”, disayangkan sejumlah pihak karena dinilai telah mencoreng nama Bali.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha menyatakan pada awalnya pihaknya sebenarnya ingin melakukan petisi kepada pihak youtube terkait penayangan joget porno “Joget Bumbung” di situs tersebut.

Bacaan Lainnya

Namun, mengingat prosesnya panjang dan berbelit-belit, akhirnya diputuskan untuk membentuk tim yang difokuskan melakukan langkah tepat untuk pembinaan kepada seniman dan pemangku kepentingan (“stakeholder”). Tak lupa segera dilakukan pula pencitraan dengan penayangan joget yang benar melalui situs resmi media daring atau “online”.

“Padahal, sebenarnya pemerintah provinsi sudah berupaya maksimal memberikan ruang kepada seniman untuk tampil, seperti pada kegiatan Pesta Kesenian Bali.

Sayangnya gaung dari kesenian Bali yang adiluhung, justru dicoreng dengan maraknya joget porno di media daring, ujar Dewa Beratha.

Joget Bumbung merupakan seni balih-balihan yang merupakan kesenian kerakyatan unggulan. Kesenian ini tercipta dari kreativitas para petani yang ingin melepas lelah. Usai bekerja di sawah, petani di Lokapaksa, Seririt, Buleleng, menggelar tarian sederhana dengan diiringi seperangkat bambu, yang biasa disebut gerantang atau rindik.

Hiburan sederhana ini kemudian berkembang dengan pesat dan menjadi kesenian yang amat digemari masyarakat. Tak lama berselang, daerah-daerah lain turut mengembangkan Joget Bumbung. Maraknya joget disertai inovasi baru, ternyata malah berkembang kepada kesenian yang memamerkan “goyang maut” yang mengarah porno.

Popularitas Joget Bumbung makin membumbung ketika para penarinya yang bergoyang erotis itu, tampil secara langsung di panggung-panggung terbuka, atau dipublikasikan di media internet. Penayangan joget porno ini, mau tak mau mencoreng citra dari kesenian dan kebudayaan Bali.

Apalagi Joget Bumbung termasuk salah satu di antara sembilan tari tradisi Bali, yang ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Dunia berdasarkan hasil sidang UNESCO di Namibia, Afrika pada 2 Desember 2015.

“Kami segera melakukan pencitraan seni budaya Bali menggunakan ‘information technology’ (IT) dan pembinaan ke dalam tentunya. Sebagai ‘counter’ balik terhadap joget porno, segera dilakukan penayangan kesenian secara utuh. Seluruh kabupaten dan kota akan melakukan pencitraan joget yang benar, yang tidak mengandung unsur pornografi,” ucap dia.

Dia menyatakan, kebudayaan Bali sesungguhnya mengandung nilai luhur dan bisa dilihat pementasannya pada berbagai kegiatan kesenian yang digelar pemerintah provinsi.

Bahkan, selanjutnya ada Bali Mandara Mahalango yang akan lebih memberi ruang kepada seniman muda untuk berkreasi dan memperlihatkan kreativitas dengan berpentas di taman budaya setiap akhir pekan, di sepanjang tahun.

Kesenian Jaruh Pengamat budaya I Wayan Dibia menyebutkan,sebenarnya kesenian berbau “jaruh” atau porno tidak hanya dijumpai pada joget. Pada pertunjukan tradisional seperti Bondres pun tak lepas dari unsur jaruh.

“Sudah saatnya kita mencari jalan untuk menyadarkan seniman agar nantinya tidak menciderai seni budaya Bali, dan berlaku sepatutnya untuk menjaga nilai-nilai kesenian yang mengedepankan etika, logika serta estetika,” ucapnya.

Menyinggung Joget Bumbung, kata Dibia, sekarang memang merupakan momen yang tepat untuk membina “sekaa” kesenian ini mengingat Joget Bumbung termasuk salah satu di antara sembilan tari Bali yang masuk sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Sekaa merupakan organisasi sosial di Bali yang mempunyai kegiatan-kegiatan dan tujuan tertentu.

Penetapan dari UNESCO ini, sekaligus menjadi titik tolak jika sudah saatnya dilakukan pembinaan dan pelestarian kesenian Joget Bumbung agar kembali sesuai bentuk dan fungsinya.

“Dulu ketika zaman saya masih muda, Joget Bumbung itu tarian pergaulan anak-anak remaja untuk bergembira. Sekarang, malah berubah menjadi tarian joget yang menakutkan karena kalau kita ‘ngibing’ dan kurang tanggap, maka kita dibikin malu sama penarinya karena goyangan atau gerakannya yang kurang pantas. Patut disayangkan perkembangan ini,” tutur Dibia.

Pengamat seni pertunjukan Bali Ni Made Wiratini menambahkan, sebetulnya dalam berbagai kesempatan pementasan Joget Bumbung, sekaa yang tampil mayoritas menghadirkan tontonan yang indah.

“Sayangnya kadang-kadang ada penari yang main nyelonong saja dan menawarkan mau dibayar Rp500 ribu saja untuk tampil menari. Penari liar seperti ini yang gerakannya tidak mencerminkan budaya sama sekali,” ujar Wiratini, yang juga mewakili Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Bali.

Dikatakannya, pihaknya sempat menyayangkan ketika ada pementasan Joget Bumbung di rumah salah seorang pejabat di daerah Jembrana. Pejabar tersebut malah dengan sengaja mengundang kelompok joget yang sudah dikenal dengan penarinya yang bergoyang porno, dengan dalih agar acara berlangsung meriah dan banyak penonton.

“Saya sudah menanyakan ke beberapa pihak, kalau ada yang bermain joget porno, ada gak yang berani menyetop. Padahal sudah ada UU Pornografi, kenapa ini tidak dilaksanakan,” imbuhnya.

Sementara itu, kurator seni Mas Ruscita menyebutkan, permasalahan joget porno yang berlangsung secara virtual, seyogyanya diselesaikan pula di dunia virtual.

“Bikin video yang menayangkan joget yang sesuai budaya Bali. Penayangan ini juga bisa digunakan sebagai ajang untuk pendokumentasian budaya. Terus terang apa yang selama ini terjadi, kegiatan pendokumensian budaya ini masih dikesampingkan. Dengan kejadian ini, mari lebih melihat ke dalam, karena memperlihatkan kalau kita yang tidak siap dengan dunia virtual,” ucapnya.

Wakil Ketua Widya Dharma Santhi yang menaungi STIKOM Bali I Made Marlowe Bandem menyebutkan, sulit untuk menghapus situs joget porno di dunia virtual karena kalau “dimatikan” satu maka akan tumbuh seribu.

Dikatakannya, untuk menutup satu situs porno di dunia virtual seperti Youtube, itu membutuhkan energi yang sangat banyak dan sekaligus bukan langkah yang efektif. Dibunuh satu maka tumbuh seribu.

“Binalah sekaa-sekaa kesenian, jangan dibinasakan, sehingga penari joget nanti akan berpentas sesuai dengan kebudayaan. Sejujurnya, kita memang kurang publikasi dengan kebudayaan Bali. Kurang mempromosikan budaya Bali dengan perspektif kekinian yang menggunakan portal budaya, yang berfungsi juga sebagai pusat dokumentasi kesenian,” ucap dia.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *