Catatan Akhir Tahun – Kereta Api Cepat Hingga “Rumah Soekarno” Di Beijing

  • Whatsapp

BEIJING, Jowonews.com – Wajah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarmo tampak sumringah, meski baru saja menyelesaikan seluruh rangkaian kunjungan ke Beijing pada pukul 21.00 waktu setempat.

“Saya bahagia, akhirnya semua sesuai rencana,” katanya sesaat tiba di hotel tempatnya menginap saat itu, sambil bergegas menuju kamarnya untuk bersiap kembali ke Tanah Air pada Rabu (16/9) malam itu juga.

Bacaan Lainnya

Kedatangan Rini dan beberapa pimpinan BUMN selain untuk menyaksikan penandatanganan kesepakatan pinjaman tiga bank BUMN, yakni Bank Mandiri, BNI dan BRI dengan Bank Pembangunan Tiongkok (CDB), juga guna menindaklanjuti rencana pembangunan kereta api cepat rute Jakarta-Bandung.

Tiongkok menyanggupi persyaratan yang ditetapkan Indonesia dalam pembangunan kereta api cepat, yakni bahwa pembangunannya dilakukan murni secara bisnis (business to business atau B to B), tanpa jaminan atau pendampingan pemerintah, serta tidak menggunakan APBN.

“Mereka bahkan setuju untuk ikut membangun stasiun-nya, disertai alih teknologi. Dengan demikian, karena ini dilakukan secara B to B, maka harus ada keuntungan yang kita dapat, termasuk alih teknologi,” tutur Rini.

Terkait alih teknologi tersebut, Tiongkok sepakat untuk memberikan pelatihan kepada Indonesia. “Apakah ahli mereka ke Indonesia, atau kita mengirimkan tenaga ahli kita untuk belajar di Tiongkok,” katanya.

Bahkan, dia melanjutkan, Tiongkok sepakat untuk melakukan produksi bersama gerbong kereta api, tidak saja gerbong kereta api cepat, tetapi juga kereta api listrik dan light train yang kini sedang dibangun.

“Gerbong kereta hasil produksi bersama RI-Tiongkok tersebut dapat ekspor ke negara lain sehingga ini juga menjadi pemasukan bagi negara dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru,” ungkap Rini.

Terkait produksi bersama gerbong kereta tersebut, Tiongkok sepakat untuk membangun pabrik aluminium di Indonesia.

Setelah beberapa kali “memimpin” pertemuan di Beijing, akhirnya pada 22 September 2015, Pemerintah RI memutuskan menerima proposal Tiongkok dalam proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung. Jepang yang lebih dulu mengincar proyek sepanjang 150 kilometer tersebut, harus gigit jari.

Proyek senilai Rp80 triliun tersebut akan dilaksanakan Konsorsium BUMN Indonesia PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia yang terdiri atas PT Jasa Marga Tbk, PT KAI, PTPN VIII dan PT Wijaya Karya, bersama konsorsium Tiongkok yang terdiri atas tujuh perusahaan.

Konstruksi proyek kereta api berkecepatan 300 kilometer per jam itu, ditargetkan mulai September 2015 dan mulai beroperasi pada 2018. Keputusan Pemerintah RI itu seakan bagai “hadiah special” bagi hubungan Indonesia-Tiongkok yang pada 13 April 2015 memasuki usia 65 tahun.

Tak hanya kereta api cepat, diizinkannya komoditas sarang walet Indonesia kembali memasuki pasar Tiongkok, setelah sempat lima tahun terhambat, serta pembebasan pajak bisnis bagi Maskapai Garuda Indonesia, oleh Pemerintah Tiongkok, setelah melalui proses selama sepuluh tahun, menjadi catatan penting dalam hubungan kedua negara sepanjang 2015.

“Rumah Soekarno” Menandai peringatan 65 tahun hubungan Indonesia-Tiongkok, pada 12 Oktober 2015 Presiden kelima Indonesia Megawati Soekarnoputri meresmikan pendirian Pusat Kerja Sama Indonesia-Tiongkok, “Rumah Soekarno”, di Shenzhen, Tiongkok.

Peresmian ditandai pembukaan selubung yang menutupi batu marmer bertuliskan “Rumah Soekarno” di bagian depan dan pesan dari presiden kelima Indonesia tersebut di bagian belakang.

Pesan yang terpahat pada batu marmer dengan panjang 1,8 meter, dan tinggi 1,4 meter tersebut berbunyi “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, di sini dibangun “Rumah Soekarno” (Pusat Kerja Sama Indonesia-Tiongkok) sebagai saksi mata tentang kekalnya hubungan persahabatan dan persaudaraan antara Indonesia dan Tiongkok. Semoga “Rumah Soekarno” ini mejadi salah satu tonggak bagi harapan yang lebih baik dan masa depan yang lebih cerah untuk kedua bangsa yang bersaudara. Tertanda Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Republik Indonesia”.

“Eratnya hubungan Indonesia dan Tiongkok juga telah terbukti berhasil melewati berbagai tantangan, pasang surut, hingga kini menjadi mitra strategis komprehensif dan saya berharap hubungan ini akan semakin erat, luas dan mendalam di waktu-waktu mendatang,” kata Megawati.

Sementara itu Ketua China Institute for Innovation and Development Study sekaligus penasehat Presiden Tiongkok, Zhang Bijian mengatakan “Soekarno, adalah sosok yang sangat kharismatik di mata masyarakat serta pimpinan Tiongkok. Saya masih ingat ketika Soekarno berkunjung ke Tiongkok pada 1956, masyarakat Tiongkok menyambutnya dengan antusias di sepanjang jalan yang dilewati”.

Ia berharap hubungan kedua negara akan dapat terus ditingkatkan, dan diperluas, sehingga hubungan kedua bangsa dan kedua negara semakin kokoh menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks.

Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia Soegeng Rahardjo mengatakan tidak saja merupakan bentuk penghormatan bagi Bung Karno sebagai proklamator kemerdekaan RI, tetapi juga untuk melestarikan nilai serta gagasannya, termasuk dalam membangun hubungan Indonesia-Tiongkok, hingga kini menjadi mitra strategis komprehensif.

Hal lebih penting, tambah dia, bagaimana kedua negara dapat memberikan makna lebih nyata sebagai mitra strategis komprehensif. Indonesia dan Tiongkok, adalah dua negara besar di kawasan yang dapat saling mendukung satu sama lain.

Semisal Indonesia memiliki gagasan sebagai poros maritim dunia, yang dapat dipadukan dengan gagasan jalur sutra maritim abad 21 Tiongkok.

“Jika ini dapat direalisasikan, maka akan banyak manfaat yang dapat diraih Indonesia, semisal pasar yang lebih luas hingga ke Asia Tengah dan Eropa, untuk produk-produk ekspor Indonesia,” katanya.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *