Catatan Akhir Tahun – Masa Depan Ketika Pariwisata Jadi Arus Utama

  • Whatsapp

JAKARTA, Jowonews.com – Berbicara masa depan, di era ini pariwisata adalah jagonya.

Pariwisata kini menjadi arus utama dalam berbagai pembahasan dan perencanaan ekonomi masa depan, sedangkan sektor kemaritiman masih banyak “pekerjaan rumah” (PR).

Bacaan Lainnya

Beragam potensi pariwisata yang luar biasa kaya dicoba untuk ditransformasi menjadi komoditas yang mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat di Tanah Air.

Di era Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) beragam terobosan untuk mendukung sektor pariwisata terus dilakukan.

Satu yang paling fenomenal adalah kebijakan Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS).

Sebelum Jokowi menjabat sebagai Presiden, Indonesia hanya membebaskan visa bagi 15 negara di tengah negara-negara tetangga yang telah membebaskan visa kepada begitu banyak negara.

Ketika itu Malaysia membebaskan visa kepada 164 negara dan Thailand kepada 56 negara.

Namun kini setahun lebih Jokowi menjabat, 174 negara bebas visa masuk ke Indonesia.

“Total ada 174 negara sampai saat ini yang memperoleh BVK ke Tanah Air,” ujar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli.

Pertimbangan keamanan dan kesiapan infrastruktur pun terus diantisipasi, namun langkah kebijakan dinilai harus terus dilaksanakan untuk mencapai target kesejahteraan bersama melalui pariwisata.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menegaskan bahwa ikhtiar membangun infrastruktur dan mempromosikan pariwisata ibarat memperdebatkan ayam dan telur.

“Mana yang duluan tidak pernah selesai. Oleh karena itu, kita harus bergerak. Promosi dan pengembangan wilayah dibangun seiring. Bahkan pariwisata menjadi motor penggerak pembangunan regional,” katanya.

Faktanya dalam beberapa tahun terakhir, industri pariwisata selalu menempati urutan keempat atau kelima penghasil devisa terbesar bagi negara.

Sementara sektor-sektor usaha lain seperti minyak dan gas, batu bara, karet, dan tekstil yang selalu menempati urutan atas cenderung menurun sesuai dengan karakternya sebagai “non-renewable” produk.

Kapal Pesiar Selain BVKS, pengarusutamaan pariwisata di era Jokowi-JK juga tampak ditandai dengan penerbitan insentif-insentif khusus bagi sektor tersebut.

Setidaknya dua peraturan lain yang diterbitkan untuk mendongkrak kinerja sektor, selain anggaran promosi yang dinaikkan tiga kali lipat menjadi di atas Rp5 triliun.

Kapal pesiar, misalnya, mendapatkan angin semakin segar ketika dua peraturan baru tentang “yacht” dan “cruise” diterbitkan sebagai upaya mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Terbitnya Perpres Nomor 105 Tahun 2015 adalah “sunrise” bagi bisnis wisata bahari karena kunjungan yacht asing ke Indonesia tidak lagi harus memenuhi ketentuan “CAIT” (Clearance Approval for Indonesia Territory) dan impor sementara.

“Perpres ini memudahkan yacht asing untuk memasuki wilayah perairan Indonesia dalam pengurusan dokumen ‘CIQP’ (Custom, Immigration, Quarantine, Port) di 18 pelabuhan,” ucap Menteri Arief Yahya.

Kebijakan ini diproyeksikan meningkatkan jumlah kunjungan yacht ke Indonesia hingga 6.000 yacht pada 2019 sehingga menghasilkan devisa 600 juta dolar AS.

Keberpihakan terhadap sektor pariwisata kian tampak dengan keluarnya Permen Perhubungan Nomor PM 121 Tahun 2015 tentang Pemberian Kemudahan bagi Wisatawan dengan menggunakan Kapal Pesiar (cruise) Berbendera Asing.

Dengan peraturan ini, “asas cabotage” untuk cruise asing dicabut sehingga kapal asing bisa mengangkut dan menurunkan penumpang di lima pelabuhan di Indonesia.

Asas cabotage adalah prinsip yang memberikan hak beroperasi secara komersial di dalam satu negara hanya kepada perusahaan angkutan dari negara itu sendiri secara eksklusif. Artinya cruise yang boleh mengangkut dan menurunkan penumpang di Indonesia hanya yang berbendera Indonesia.

“Dengan dicabutnya asas itu, cruise asing sekarang dapat mengangkut wisatawan di pelabuhan dalam negeri untuk berwisata di lima pelabuhan yaitu pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan Tanjung Perak, pelabuhan Belawan, pelabuhan Makassar, dan pelabuhan Benoa Bali,” paparnya.

Pemerintah juga memudahkan wisatawan mancanegara yang ingin keluar masuk Indonesia dengan memperbanyak jumlah Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) masuk di lima bandara dan sembilan pelabuhan serta TPI keluar di 19 bandara, 29 pelabuhan laut, dan dua TPI darat.

Mengejar Kuantitas Inilah masa depan ketika pariwisata menjadi arus utama; kontribusi pariwisata terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) meningkat dari 9 persen pada 2014 menjadi 15 persen pada 2019.

Tidak hanya itu, devisa akan meningkat dari Rp140 triliun pada 2014 menjadi Rp280 triliun pada 2019 dan kontribusi terhadap kesempatan kerja meningkat dari 11 juta pada 2014 menjadi 13 juta pada 2019.

Sementara indeks daya saing pariwisata meningkat dari peringkat 70 pada 2014 menjadi 30 pada 2019.

Yang kerap menjadi indikator kesuksesan utama yakni jumlah kedatangan wisatawan mancanegara meningkat dari 9,4 juta pada 2014 menjadi 20 juta pada 2019. Sedangkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat dari 250 juta pada 2014 menjadi 275 juta pada 2019.

Namun, pengamat pariwisata sekaligus pelaku industri pariwisata Yanti Sukamdani menilai pengembangan pariwisata di Indonesia belum sepenuhnya ideal karena masih fokus mengejar kuantitas.

Padahal “mass tourism” kadang tidak menjadi solusi yang baik bagi pariwisata yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Paradigma turis yang banyak lebih sering menjadi indikator kesuksesan, padahal turis yang berkualitas dengan spending dan lama tinggal yang tinggi justru lebih potensial,” katanya.

Selain itu, pengembangan destinasi-destinasi baru yang menjadi alternatif di luar Bali dinilai perlu digalakkan karena wisatawan tidak kemudian menjadi jenuh.

Industri Meeting Incentive Conference dan Exhibition (MICE) pun tak kalah penting untuk dioptimalkan mengingat industri semacam inilah yang potensial menjaring turis-turis dalam jumlah yang besar dan berkualitas.

Di luar semua itu, gaung pariwisata kini semakin terasa. Semua sektor memandang dan menjadikan pariwisata sebagai pijakan untuk mengembangkan suatu rencana.

Maka akan tiba saatnya ketika matahari terbit dan semua turis di dunia menggantungkan impian untuk bisa ke Indonesia. Saat ini kesejahteraan adalah milik bersama rakyat di Tanah Air tercinta.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *