Menunggu Zonasi Situs Liyangan Untuk Pengembangan Pariwisata

  • Whatsapp

TEMANGGUNG, Jowonews.com – Temuan bangunan atau benda-benda bersejarah di kompleks Situs Liyangan di lereng Gunung Sindoro, Desa Purbosari, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terus bertambah baik saat ekskavasi maupun secara tidak sengaja ditemukan oleh para penambang.

Meskipun Balai Arkeologi Yogyakarta maupun Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah tidak melakukan ekskavasi pada Desember 2015, sejumlah penambang terlihat melakukan penggalian di ketinggian tebing untuk mengambil pasir dan batu.

Bacaan Lainnya

Mereka diawasi oleh para petugas keamanan atau juru pelihara situs peninggalan zaman Mataram Kuno tersebut dan jika menemukan benda bersejarah saat melakukan penggalian mereka harus lapor kepada petugas.

Pemerintah Kabupaten Temanggung berharap BPCB segera melakukan zonasi Situs Liyangan karena sangat penting untuk pengembangan Liyangan menjadi obyek wisata budaya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Temanggung Didik Nuryanta mengatakan kalau belum ada zonasi tentu pemkab belum berani mengembangan Liyangan, khususnya sebagai obyek wisata budaya.

Ia mencontohkan pembangunan museum yang sudah direncanakan, namun karena belum ada zonasi jadinya pembangunan tersebut diundur karena khawatir kalau dibangun sekarang berada di zona larangan pendirian bangunan.

Situs Liyangan akan dibagi menjadi beberapa zona yakni zona inti, penyangga, pendukung, dan zona pengembangan. Setelah zona ditetapkan maka pemkab baru bisa bergerak.

“Pembangunan museum, tempat parkir, dan sarana penunjang lainnya harus menunggu penetapan zonasi, tidak boleh sembarangan,” katanya.

Ia mengatakan jika sebelum dilakukan zonasi nekat melakukan pengembangan,ptidak menutup kemungkinan bangunan yang didirikan berada di atas zona inti atau zona penyangga, padahal di kedua zona ini sama sekali tidak dibolehkan adanya bangunan permanen.

Pembangunan Museum Liyangan di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo menunggu zonasi kompleks Situs Liyangan.

“BPCB baru melakukan proses zonasi kawasan Liyangan pada 2016, rencana membuat DED atau masterplan dengan melibatkan peran serta masyarakat lewat lomba desain museum yang semula dijadwalkan 2015 diundur hingga ada penentuan zonasi,” katanya.

Pembangunan museum tidak bisa dilakukan tanpa perencanaan zonasi yang matang, karena Museum Liyangan selain sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah temuan di sekitar situs peninggalan Mataram Kuno itu akan menjadi tempat wisata berbasis pendidikan.

Menurut dia dengan memiliki museum diharapkan kunjungan wisatawan semakin meningkat.

Tim Kajian Tim dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan kajian tentang Situs Liyangan dengan melibatkan seluruh Balai Pelestarian Cagar Budaya di Indonesia, Balai Konservasi Borobudur, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Balai Arkeologi Yogyakarta, dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Temanggung.

Kegiatan yang berlangsung pada 2-11 November 2015 melibatkan sekitar 50 orang ahli tersebut melakukan kajian delinia, konservasi, studi teknis pemugaran, dan kajian museum.

Tim kajian Situs Liyangan menemukan tulang hewan dan arang kayu di jalan trasahan situs tersebut. Tulang tersebut didugabagian tulang kerbau peliharaan warga yang mati karena tertimbun material erupsi Gunung Sindoro. Sementara arang adalah bagian dari pohon atau kayu yang ada didekat kerbau.

“Temuan tulang kerbau tersebut menunjukkan ada kehidupan pertanian oleh penduduk di komplek tempat suci ini,” kata Koordinator Lapangan Tim Pengkajian Situs Liyangan Andi Muhammad Said.

Ia mengatakan temuan tulang hewan dan arang adalah bagian dari kebencanaan di tempat tersebut sekitar abad 9, atau era Mataram Kuno. Sejauh ini, belum ditemukan tulang manusia di Situs Liyangan. Dugaan sementara penghuninya menghindar untuk menyelamatkan diri sebelum erupsi.

Memang pernah ada temuan tulang manusia di Situs Liyangan, tetapi berdasarkan penelitian bukan sebagai korban erupsi Gunung Sindoro tetapi memang penduduk yang meninggal dan dimakamkan.

Ia mengatakan jalan trasahan di kompleks situs dibuat rapi sekali, jalan itu dari ujung kompleks menurun ke permukiman warga. Jalan itu diduga menjadi bagian dari tempat ritual, di antaranya menghubungkan antara kompleks situs dengan permukiman warga.

“Jalan trasahan terbuka sebagian, yaitu yang ada di kompleks situs, sedangkan yang menuju ke permukiman masih terpendam materail,” katanya.

Ia mengatakan tim peneliti sudah menemukan bagian inti dari kompleks suci yakni di bagian atas. Di tempat itu sebagai tempat tinggal pengurus dan penjaga kompleks suci yang biasanya terdiri pendeta dan keluarganya serta pembantu. Buktinya ada candi utama, temuan arang padi, tembikar, peralatan ritual dan peralatan rumah tangga.

Situs Liyangan merupakan perkampungan Mataram Kuno yang terpendam akibat letusan Gunung Sindoro. Temuan antara lain, benda-benda budaya berupa arca, petirtaan, pagar batu, jalan berbatu, lahan pertanian, peralatan rumah tangga dan pertanian serta serbuk tanaman pada zaman tersebut. Temuan itu dinilai fenomenal dan sangat penting bagi dunia ilmu pengetahuan.

Situs Liyangan sangat potensial untuk dijadikan objek wisata sejarah, maka Pemkab Temanggung bakal serius menanganinya dengan membangun sarana infrastruktur jalan yang memadai, tentu dengan berkoordinasi dengan para ahli terutama tim ekskavasi.

Pemkab Temanggung berharap kegiatan terpadu pelestarian Situs Liyangan dapat mempercepat penetapan zonasi maka perencanaan dan pengembangan pariwisata di situs tersebut dapat segera dimulai.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *