Menggelorakan Revolusi Mental (1)

  • Whatsapp

JAKARTA, Jowonews.com – Penghancuran dan pembakaran sebuah papan berlangsung di hadapan para pejabat Provinsi Bali di Denpasar pada Sabtu (2/1).

Aksi ini mengawali tekad dan semangat jajaran Pemerintah Provinsi Bali menapaki relung waktu di awal 2016 di Pulau Dewata yang saat itu ramai wisatawan untuk mengakhiri tahun 2015 dan menyongsong tahun baru. Inilah sebuah resolusi yang dilaksanakan dari awal tahun hingga waktu yang tidak ditentukan.revolusi mental
Seperti dilaporkan Antara, aksi itu adalah bentuk kebulatan tekad dalam deklarasi Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang ditandai dengan penghancuran dan pembakaran papan bertuliskan sejumlah karakter yang menjadi penghambat revolusi mental. Mungkin ada yang menilai itu berlebihan dan sekadar seremonial, namun para pejabat meyakini hal itu sebagai langkah sangat penting.

Bacaan Lainnya

“Penghancuran dan pembakaran hambatan serta tantangan revolusi mental, hendaknya dimaknai dengan sungguh-sungguh dan tak terhenti pada kegiatan seremonial. Deklarasi ini bukan untuk gagah-gagahan,” kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika di sela-sela deklarasi tersebut.

Kebulatan tekad dalam mendukung dan menyukseskan gerakan yang terkait dengan perubahan perilaku tersebut tertuang dalam pernyataan sikap yang ditandatangani Made Mangku Pastika, Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Sugawa Korry dan Sekda Provinsi Bali Cokorda Ngurah Pemayun selaku Koordinator Umum GNRM Provinsi Bali.

Deklarasi GNRM juga dihadiri Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Ayu Pastika, jajaran Kodam IX/Udayana, Polda Bali, Ketua BPKP, BPK, Ombudsman RI Perwakilan Bali, bupati-wali kota se-Bali, bendesa Agung MUDP, FKUB, PHDI, pimpinan SKPD serta pejabat eselon III dan IV di lingkungan Pemprov Bali serta masyarakat umum.

Pastika berharap deklarasi yang diawali dari Bali dapat memberi vibrasi positif ke seluruh penjuru Tanah Air.

“Ayo kita mulai gerakan revolusi mental dari diri sendiri,” katanya.

Dalam gerakan revolusi mental setiap individu bisa memulainya dari hal-hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, tepat waktu dan berlomba-lomba untuk berbuat baik. Pastika juga berbagi tip dalam mewujudkan etos kerja, yaitu melalui kerja keras, kerja cerdas, kerja berkualitas, kerja iklas dan kerja tuntas.

Selain itu, sedikitnya ada 18 karakter yang harus dilawan dan dihancurkan untuk mendukung gerakan revolusi mental. Karakter tersebut antara lain selalu berpikir negatif, suka menunda pekerjaan, tidak fokus, kurang percaya diri, selalu pesimis, malas, masa bodoh, mudah menyerah, serakah, egois/mementingkan diri sendiri, boros, tidak jujur, anti perubahan, menghindari tanggung jawab, tak memiliki komitmen, meremehkan mutu, feodal dan munafik.

Menurut Pastika, karakter itulah yang sekarang mendominasi kehidupan sebagian besar masyarakat. Kondisi itu membuat perkembangan bangsa sangat lambat dan jauh ketinggalan dibandingkan bangsa lainnya.

Pastika lalu mencontohkan perkembangan Singapura. Negara yang luasnya jauh lebih kecil dari Pulau Bali itu mengalami kemajuan yang sangat pesat.

“Kita punya luas wilayah tujuh kali lipat dari negara tersebut dan punya potensi alam yang jauh lebih besar. Tapi kenapa negara itu bisa jauh lebih maju,” ujarnya dengan nada tanya.

Kemajuan Singapura, kata dia, antara lain dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusianya dalam mengelola potensi yang ada. “Sementara kita yang kaya akan potensi, malah jadi manja dan lembek,” katanya.

Embrio Bali sesungguhnya jauh-jauh hari telah mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam GNRM. Embrio dalam gerakan ini telah lama diimplementasikan dalam Program Bali Mandara seperti Simakrama dan Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS).

Dua kegiatan ini bertujuan untuk membangun transparansi, partisipasi dan respons masyarakat atas program pembangunan yang tengah dilaksanakan.

“Itu merupakan nilai dasar revolusi mental yaitu integritas” katanya.

Selain itu, program unggulan lain seperti Bedah Rumah, JKBM, Gerbangsadu dan Beasiswa yang merupakan aktualisasi nilai-nilai gotong-royong.

Di jajaran birokrasi, pihaknya juga gencar mewujudkan akuntablitas dan tata kelola pemerintahan yang baik. Upaya tersebut telah membuahkan hasil memuaskan antara lain opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dalam dua tahun berturut-turut dan diperolehnya nilai BB atas Laporan Akuntablitas Kinerja Instansi Pemerintahan (AKIP) Tahun 2015.

Selain capaian dalam prestasi, secara faktual berbagai program yang dilaksanakan juga berdampak signifikan bagi kemajuan Bali. Capaian tersebut antara lain menurunnya angka kemiskinan dari 4,76 persen di tahun 2014 menjadi 4,74 persen di tahun 2015.

Bali juga mencatat angka pengangguran terendah tingkat nasional, yaitu sebesar 1,37 persen dan gini ratio (kesenjangan) yang makin kecil, yaitu hanya sebesar 0,37.

Panjang Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani yang diwakili Deputi Bidang Kebudayaan Dr Haswan Yunaz memuji langkah Bali yang menjadi pelopor dalam deklarasi GNRM.

Namun diingatkan bahwa GNRM bukanlah program “instan” yang dapat diwujudkan dalam hitungan hari.

“Ini merupakan proyek nasional jangka panjang yang membutuhkan dukungan seluruh komponen masyarakat,” ujarnya.

Yunaz manghimbau aparatur sipil negara (ASN) menjadi teladan serta pendorong perubahan pola pikir dan sikap perilaku ke arah yang lebih baik.

Revolusi mental kini menjadi gerakan nasional yang sedang didengungkan dan digelorakan. Publik berharap gerakan ini diselenggarakan secara konsisten dan dengan komitmen semua pihak termasuk jajaran ASN.

Namun sebagai sebuah gerakan yang meliputi jangkauan seluruh wilayah nasional dan semua sektor, tampaknya belum terasa kuat denyutnya. Hal ituterjadi karena memang masih baru sehingga perlu terus disosialisasikan dan digencarkan melalui aksi nyata, bukan hanya kata-kata dan retorika.

Kalau saja sekitar lima juta ASN atau PNS bergerak secara simultan dan konsisten dengan komitmen kuat para pimpinan di semua bagian, maka tak mustahil gerakan ini akan cepat terasa dampak positifnya. Faktor pemimpin dalam melaksanakan gerakan ini sangat penting karena bagaimanapun anak buah akan mengikuti pemimpinnya layaknya doktrin loyalitas PNS.

Dalam website revolusimental.go.id– yang masih baru dan perlu terus dipromosikan agar banyak pengunjungnya–disebutkan bahwa revolusi mental adalah gerakan seluruh rakyat Indonesia bersama pemerintah untuk memperbaiki karakter bangsa menjadi Indonesia yang lebih baik.

Banyak permasalahan yang terjadi di negara saat ini; mulai dari rakusnya pejabat yang memperkaya diri sendiri, pelanggaran HAM, hingga perilaku sehari-hari masyarakat seperti tidak mau antre dan kurang peduli terhadap hak orang lain.

Namun perilaku seperti itu bisa diubah, mental dan karakter bisa dibangun. Karena itu, revolusi mental bukanlah pilihan, tetapi suatu keharusan agar bangsa ini bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

“Kita bisa membuat Indonesia menjadi lebih baik dengan memulai revolusi mental dari diri sendiri, sejak saat ini,” demikian pengantar pembuka di website itu.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *