Warga Resah, Bandungan Jadi ‘Wisata Prostitusi’

  • Whatsapp

UNGARAN, Jowonews.com – Warga Bandungan Kabupaten Semarang resah dengan kondisi daerahnya. Pasalnya, sekarang ini Bandung tidak lagi menjadi obyek wisata keluarga, tapi sudah terkesan menjadi obyek wisata prostitusi. Sehingga dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap perkembangan anak-anak.

Keluhan itu disampaikan Ketua Bandungan Crisis Center (BCC), Pristono, Rabu (6/1). Menurutnya, di Bandungan saat ini banyak munculan hotel dan tempat karaoke yang cenderung sebagai ajang maksiat, bukan pada pada hakekatnya hotel untuk bermalam orang bepergian. Bahkan juga banyak pekerja seks yang datang dan tidak terpantau..

Bacaan Lainnya

“Kondisi saat ini cenderung sebagai tempat maksiat, seperti ajang prostitusi, peredaran minuman keras, dan arena judi meski sembunyi-sembunyi. Kesan Bandungan saat ini sangat buruk,” tegas Pristiono di Ungaran.

Kondisi ini diakibatkan karena ketidak tegasan aparatur pemerintah dalam mengatur dan menindak pelanggaran-pelanggaran di Bandungan. Kesannya justru dibiarkan dan cenderung untuk ajang pungutan liar.

“Pemerintah mengatur larangan perdagangan minuman keras, tapi mengapa masih ada yang menjual minuman keras. Pemerintah memiliki peraturan perizinan tempat hiburan (karaoke) tapi mengapa justru masih ada pelanggaran tapi dibiarkan. Saya merasa ini karena ketidak tegasan dan cenderung sebagai sarana pungutan liar oleh oknum-oknum pemerintah,” ujarnya.

Dampak negatif ini justu diterima oleh masyarakat Bandungan sendiri. Tidak sedikit anak-anak sekitar Bandungan saat ini dewasa sebelum saatnya. Karena mereka setiap hari disuguhi tontonan perilaku orang dewasa yang mesum. “Anak-anak harus diselamatkan dari hal-hal buruk, jangan sampai mereka menjadi korban kondisi Bandungan yang seperti ini,” keluh Pristiono.

Pemerintah sudah beberapa kali ingin menata Bandungan menjadi lebih baik. Tapi hal tersebut hanya sebatas wacana saja, belum ada tindakan nyata. Sejak dulu pemerintah ingin menata Bandungan, dirapatkan berkali-kali. Tapi hingga saat ini apa buktinya, tidak ada hasilnya,” ujarnya.

Menurut Pristiono perlu adanya keberanian dari pemerintah terlebih Bupati terpilih Mundjirin untuk melakukan penataan Bandungan. “Bupati terpilih kedepannya harus berani melakukan penataan dan menindak setiap pelanggaran,” ujarnya.

Tindakan ini berupa akan  dibikin seperti apa Bandungan ini, apakah akan dijadiakan tempat sarana maksiat atau dihapuskan sama sekali. “Kalau ditata harus ana pemasukan ke kas daerah yang akan dikembalikan untuk pembangunan masyarakat Bandungan. Atau dibubarkan sekalian agar masyarakat  Bandungan tidak terimbas dari kondisi kesemrabutan Banduangan,” tegas Pristiono.

Sekretaris BCC, Budi Nugroho menyatakan sepertinya pemerintah cenderung melakukan pembiaran ajang prostitusi di Bandungan. Saat ini justru semakin banyak para pekerja seks komersial (PSK) dan pemandu karaoke di Bandungan.

“Dahulu ada utusan dari pemerintah melakukan pendampingan pada pekerja seks agar tidak terus-terusan bekerja (PSK).Tapi sekarang hanya sebatas pemeriksaan kesehatan saja. Selain itu tidak dibatasinya para pekerja, sehingga saat ini banyak bermunculan pekerja yang tidak terkontrol jumlah dan keberadaannya,” ungkap Budi.

Secara terpisah, PJ Bupati Semarang, Sujarwanto Dwiatmoko menyatakan kawasan Bandungan memang perlu didorong menjadi kawasan wisata yang baik. Langkah yang perlu diambil diantaranya dengan melakukan tindakan pada lokasi-lokasi yang tidak memiliki izin.

“Selanjutnya didorong dengan wisata kuliner, agar masyarakat yang melintas atau sengaja datang untuk menikmati suasana udara pegunungan dengan menikmati kuliner dan perkebunan sayurnya,” ujarnya. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *