Warga Menjerit, Tarif Angkutan tak Turun

  • Whatsapp

SALATIGA, Jowonews.com –Kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) ternyata tidak sepenuhnya bisa dinikmati masyarakat. Pasalnya, tarif angkutan umum di Salatiga sampai sekarang juga tidak mengalami penurunan sama sekali.

“Kalau harga BBM naik, angkutan umum lansung meresponnya dengan menaikkan tarif. Pemerintah juga langsung meresponnya, gantian BBM turun, tarif tidak ikut turun,” kata Cahyono (30) warga Tingkir, Salatiga, Kamis (7/1).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, pemerintah seharusnya bersikap adil dengan kebijakan ini. Saat menurunkan harga BBM, sekaligus juga mmbuat kebijakan menurunkan tarif angkutan.

Diketahui, meski harga  bahan bakar minyak (BBM) turun mulai Selasa (5/1), namun tarif angkutan umum di Kota Salatiga masih sama alias tidak ada penurunan tarif. Pasalnya, sudah ada kesepakatan dengan organisasi angkutan darat (Organda) Kota Salatiga terkait penetapan tarif dengan naik turunnya harga BBM.

”Memang sudah ada kesepakatan dengan Organda karena, ketika itu harga BBM naik dan turun lagi, kemudian naik lagi. Karena penurunan ini masih dalam interval yang wajar, maka tarif angkot juga tidak turun,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi Budaya dan Pariwisata (Dishubkombudpar) Kota Salatiga, Adhy Soeprapto.

Dikatakan Adhy, kondisi ini diharapkan bisa dipahami oleh masyarakat, karena jika tarif angkota mengikuti pergerakan harga BBM akan mempersulit penghitungan penetapan tarif. Karena jika nanti harga BBM naik lagi dan sudah ada kesepakatan awal dengan pengusaha angkutan umum, patokan ini masih bisa digunakan. ”Sehingga kalau penurunan atau kenaikan dalam batas toleransi maka tarif angkota juga tidak terpengaruh,” imbuhnya.

Sementara, Ketua Ikatan Paguyuban Sopir Angkot Salatiga (Ipas) Agus Siswanto mengatakan, belum ada komplain  langsung dari masyarakat soal tarif angkutan umum terkait penurunan harga BBM.

”Penurunan BBM ini tidak berpengaruh banyak karena banyak komponen lain yang mempengaruhi seperti biaya operasional lain seperti suku cadang yang harganya malah terus melambung,” katanya.

Menurutnya, terlalu riskan untuk menurunkan tarif angkutan umum di Salatiga seiring dengan turunnya harga BBM. Sebab, saat ini kondisi moda transportasi angkot tengah kritis. Ini dikarenakan sebagian masyarakat memilih untuk menggunakan moda transportasi lain atau menggunakan sepeda motor. 

“Tarif Rp 3.000 untuk penumpang umum dan Rp 2.000 untuk pelajar sudah sangat mepet bila digunakan untuk biaya operasional kendaraan. Belum biaya makan sopir dan lainnya,”tandasnya. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *