11 Anjal Terjaring Razia Satpol

  • Whatsapp

KENDAL, Jowonews.com—Meski sudah dilakukan razia berulang kali, anak-anak jalanan masih nekat beroperasi. Senin (11/1) siang, sebanyak 11 anak jalanan (Anjal) terjarin dalam razia yang digelar oleh Satpol PP Kendal.

11 anjal tersebut terdiri dari delapan laki-laki dan tiga perempuan. Tiga diantaranya berasal dari Brebes, sisanya asli Kabupaten Kendal. Semunya terjaring razia lantaran tengah tidur di teras Gedung Partai Golkar, Desa Jambearum, Kecataman Patebon.

Bacaan Lainnya

“Anjal yang terjaring razia ini kami bawa ke Kantor Satpol PP untuk diberi pembinaan. Sebab sangat memprihatinkan karena rata-rata masih berumur belasan tahun,” ujar Kepala Satpol PP Kabupaten Kendal, Toni Ari Wibowo.

Toni menjelaskan, usia anjal tersebut mulai dari 14-19 tahun. Sehingga, kami benar-benar melakukan pembinaan supaya tidak lagi hidup di jalan. Karea mayoritas anjal yang terjaring lantaran minimnya perhatian dari orang tuanya. Sehingga kontrol terhadap perkembangan mentalnya tidak ada.

“Rata-rata mereka ditinggal orang tuanya kerja di luar negeri. Atau beberapa diantaranya jadi sopir. Intinya tidak ada perhatian dari keluarga ataupun sanak famili sehingga perhatian sangat kurang,” jelasnya.

Anjal biasanya hidup secara kelompok dan terorganisir secara kecil. Untuk hidup, mereka menjadi pengemis, pengamen atau bahkan pencuri.

“Jadi semacam geng dan ada juga ketua gengnya. Makanya, hal ini kalau dibiarkan mereka akan kehilangan masa depan mereka,” tandanya.

Sebab kelompok anjal, jika dibiarkan akan menjadi menjadi kelompok kriminal. Sebab hidup dijalan adalah hidup yang keras, karena mereka banyak bertemu dengan orang-orang yang tidak mereka kenal dan berbaya.

“Kami akan memanggil orang tua anjal ini, supaya mereka juga turut berperan dalam menjaga anak-anaknya. Sebab bagaimanapun mereka masih anak-anak yang masih perlu dibimbing dan diperhatikan,” tambahnya.

Seorang anjal, berinisial ST yang disebut sebagai ketua kelompok mengaku kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Selama ini, dia hidup bersama kakak kandungnya di wilayah Kecamatan Brangsong.

“Saya sudah tidak punya orang tua. Hidup dengan kakak serba tidak enak. Sedikit-sedikit dilarang dan sering dimarahi akhirnya saya memilih jadi gelandang,” akunya. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *