20 Tahun Jadi TKI tak Digaji, Orang Kendal Depresi

  • Whatsapp

KENDAL, Jowonews.com – Khoirul Nisa (40), warga Desa Sumbersari Kecamatan Ngampel, Kendal, harus menerima kenyataan pahit selama menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi. Pasalnya, maksudnya ingin memperbaiki perekonomian keluarga, tapi yang didapat malah sebaliknya.

20 tahun lebih bekerja di Arab Saudi, belum lama ini, dia pulang dalam kondisi memprihatinkan. Kondisinya lusuh, depresi dan tidak bisa diajak kounikasi. Karena pulang dari Arab Saudi tanpa gaji sepeserpun.

Bacaan Lainnya

Bahkan, kepulangannya juga membawa seorang bayi berwajah mirip layaknya orang Arab. Diduga anak tersebut hasil hubungan paksa anatar korban dengan majikannya yakni Hasyim.

Derita yang dialami Khoirul Nisa bermula saat dirinya berangkat ke Arab Saudi 20 tahun lalu. Setelah berangkat dan sampai di Arab Saudi, korban langsung tidak ada kabarnya seperti menghilang ditelan bumi.

Segala upaya sudah dilakukan pihak keluarga untuk bisa berkomunikasi dan menemukan Khoirul Nisa. Tapi hasilnya selalu nihil. Hingga tahun 2010, ayah korban, Rohmani lapor ke Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) dari Dinas Sosial Kabupaten Kendal. Dia bertemu dengan Gatot Muhardjo SE.

Oleh Gatot laporan tersebut ditindaklanjuti dengan melapor ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kendal, Kementrian Luar Negeri, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

Saat itu ada empat TWK asal Kendal yang bekerja di Timur Tengah yang dilaporkan hilang kontak selama belasan tahun dengan pihak keluarganya. Mereka yakni Khoirul Nisa (40) dan Haryati (40) warga Desa Sumbersari Kecamatam Ngampel, Sri Wati (38) dan Akadiyah (39) warga Desa Winong Kecamatan Ngampel.

LK3 berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan empat korban hingga akhirnya beberapa waktu lalu Khoirul Nisa tiba-tiba pulang dengan kondisi mengenaskan. Korban pulang dengan kondisi lusuh, tidak bisa diajak komunikasi karena depresi dan tanpa gaji sepeserpun. Bahkan korban juga membawa seorang bayi yang berwajah oriental seperti orang Arab.

“Saat itu LK3 langsung membawa korban untuk diterapi psikologinya di RSUD dr Soewondo Kendal. Sekarang kondisinya lumayan dan sudah bisa diajak komunikasi,” jelas Ketua LK3 Gatot Muhardjo SE, Minggu (10/1).

Gatot mengatakan, pihaknya akan terus memperjuangkan hak-hak Khoirul Nisa seperti gaji dan hak lainya yang selama 20 tahun ini tidak diperolehnya. “Kami juga sudah menyampaikan hal ini ke Disnakertrans Kabupaten Kendal, namun belum ada hasilnya,” ujar Gatot.

Dijelaskan, selain Khoirul Nisa, tiga TKW asal Kendal yang juga sudah pulang diantaranya Haryati (40) warga Desa Sumbersari Kecamatam Ngampel, Sri Wati (38) warga Desa Winong Kecamatan Ngampel.

“Mereka sudah pulang dan sudah berkeluarga. Untuk Haryati bekerja 15 tahun dan gajinya sudah diberikan tapi hanya setengah. Sedangkan Sri Wati bekerja 15 tahun, baru dibayarkan dua bulan gaji,” jelasnya.

Terpisah, Akadiyah (39) warga Desa Winong Kecamatan Ngampel hingga saat ini justru belum pulang. Dikatakan, KBRI sebenarnya sudah menemukan lokasi bekerja Akadiyah yakni di Gazim Uwaidah di rumah majikanya bernama Adul.

Namun saat tim dari KBRI mendatangi rumah majikanya di Timur Tengah, ternyata Akadiyah tidak mau menemui tim dan menulis surat kalau dirinya masih betah dan ingin bekerja disana.

“Namun kami meyakini kalau Akadiyah membuat surat itu dalam tekanan. Sehingga kami mendesak pemerintah untuk tetap memulangkannya. Sebab, pihak keluarga sangat mengharapkan dan merindukannya,” ujar Gatot.

Pihaknya berharap, Pemerintah lebih serius menangani masalah warga negaranya yang bermasalah diluar negeri dan memulangkan mereka yang diduga menjadi korban penyekapan dan lainnya sebagainya. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *