Dewan Minta Aneka Usaha Ekspor Produk Lokal

  • Whatsapp

KULON PROGO, Jowonews.com – Komisi II DPRD Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, meminta Perusahaan Daerah Aneka Usaha menjadi eksportir produk lokal hasil produksi masyarakat setempat.

Anggota Komisi II DPRD Kulon Progo Priyo Santoso di Kulon Progo, Rabu, mengatakan produk lokal masyarakat mulai dari kerajinan serat alam dan gula semut memiliki potensi besar menjadi komoditas ekspor.

Bacaan Lainnya

Namun, katanya, produk itu dijual ke luar negeri masih kerja sama dengan pihak ketiga.

“Kami berharap Perusahaan Daerah Aneka Usaha menjadi eksportir, menjual produk unggulan masyarakat Kulon Progo,” kata Priyo.

Selama ini, menurut Priyo, Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Cabang Kulon Progo atau DIY belum ada upaya menjadi eksportir produk unggulan masyarakat, khususnya kualitas ekspor sehingga nilai ekonomis industri Kulon Progo tidak menguntungkan perajin, tapi hanya menguntungkan pihak ketiga.

“Perajin tidak memiliki nilai lebih atas produk yang mereka hasilkan. Untuk itu, Perumda Aneka Usaha harus menjadi pelopor untuk mengekspor potensi lokal sehingga program Kemandirian Ekonomi Kulon Progo benar-benar terwujud,” kata Priyo.

Ketua Paguyuban Perajin Bina Karya Lestari Tukimin mengatakan persoalan masih menjadi kendala perajin serta alam, seperti masalah teknologi informasi untuk menunjang pemasaran serta prosedur perizinan untuk ekspor langsung kepada pembeli.

Selain itu, mereka juga masih terkendala belum menguasai bahasa asing.

“Untuk ekspor dengan ‘buyer’ langsung, terkendala bagaimana perizinannya, seperti kami juga sudah ketinggalan zaman untuk akses ‘online’ saja kurang begitu paham, jadi hanya menunggu (pemasaran pasif, red.),” katanya.

Ketergantungan selama ini, kata Tukimin, ekspor yang dilakukan tidak langsung kepada “buyer” tetapi melalui agen eksportir di Bantul dan Yogyakarta.

Untuk mengatasi ketergantungan pada agen dari luar daerah tersebut, Paguyuban Perajin Bina Karya Lestari tengah merintis agar dari Kulon Progo sendiri bisa ekspor secara langsung kepada “buyer”.

“Harapannya dari pemkab ada pelatihan-pelatihan IT (teknologi informasi) untuk menunjang menuju MEA agar siap. Sementara ini, kami masih gagap, belum begitu memahami, perlu kursus Bahasa Inggris juga,” katanya.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *