Pentas Jaran Kepang Ceritakan Gedongsongo

  • Whatsapp

SEMARANG,Jowonews.com – Mengenalkan sejarah tentang legenda Candi Gedungsongo di Jateng tak harus lewat dongeng atau cerita di masyarakat. Namun semua itu ternyata juga bisa diwujudkan lewat peragaan gerak seni tradisional jaran kepang.

Seperti yang terlihat di Auditorium Kampus Unnes, kemarin malam. Berdirinya Candi Gedongsongo sebagai tempat pemujaan mampu digambarkan dalam sajian Tari Jaranan oleh Paguyuban Jaran Kepang Langen Budi Sedyo Utomo dari Desa Sombron, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang di acara “Selasa Legen ke-65”.

Dikisahkan, melalui seni jaranan adanya perintah dewa kepada Ratu Shima untuk membangun tempat pemujaan di Gunung Suroloyo. Tempat pemujaan dibangun dengan harapan masyarakat memperoleh kesejahteraan. Ratu Shima kemudian memanggil Resi Selo Kantoro dan Resi Matang Lono untuk membangun tempat pemujaan.

Atas bantuan prajurit berkuda, kedua resi tersebut berhasil membangun tempat pemujaan di Gunung Suroloyo yang dinamakan Candi Gedongsongo.

Ki Sunaryoto selaku narasumber mengatakan, cerita berdirinya Gedongsongo yang diangkat paguyuban jaran kepang ini didasarkan atas cerita turun-temurun dari nenek moyang atau orangtua Desa Sombron.

“Jaran kepang ini dihadirkan menjadi prajurit yang ceritanya mengantarkan Resi Selo kantoro dan Resi Matang Lono ke Gunung Suroloyo. Lalu membangun tempat pemujaaan yang dinamakan Gedongsongo dengan 45 setupa,” imbuhnya.

Prof Muhammad Jazuli, Dosen Seni Tari Unnes menuturkan, dinamakan jaran kepang karena dalam membuatnya bambu dianyam menjadi kepang terlebih dahulu sebelum dibentuk jaran/kuda. Gambaran binatang kuda dipilih karena kuda dianggap mampu diajak bekerja oleh manusia. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *