Daya Pikat Gili Di NTB Mengikat Hati Wisatawan

  • Whatsapp

NTB, Jowonews.com – Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki pulau-pulau yang cantik dan mampu memikat hati pengunjung untuk tinggal berlama-lama, bahkan datang berulang kali.

“Setiap saat saya menemukan sesuatu hal baru yang membangkitkan rasa ingin tahu dan menimbulkan rasa nyaman,” kata Takanobu Uchida, guru SMA dari Fukushima, Jepang yang sejak 2008 selalu menghabiskan libur akhir tahun di Lombok dan sekitarnya.

Bacaan Lainnya

Baginya, Lombok memiliki keindahan alam yang belum tersentuh bahkan warga masyarakat banyak yang masih menjalani hidup dengan cara-cara tradisional.

Beberapa obyek wisata yang terkenal, misalnya, tiga pulau kecil yaitu Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air yang tersohor ke mancanegara, yang bisa memberikan sensasi tinggal di pulau terpencil, tanpa kendaraan bermotor dan dikeliling laut biru.

Wisatawan mengunjungi gili-gili (pulau dalam bahasa setempat) untuk menikmati panorama alam dengan andalan aktivitas berenang, menyelam, “snorkeling” sambil melihat biota laut di perairan dangkal dan bila beruntung bisa menyaksikan kawanan lumba-lumba, ikan pari dan lain sebagainya.

Uniknya, tiga pulau itu memiliki pesona yang berbeda, Gili Trawangan lebih disukai oleh wisatawan asing yang muda usia, selain berwisata laut juga menikmati hiburan musik hidup hampir sepanjang malam.gili trawangan meno air

Di Gili Meno yang letaknya di antara Gili Trawangan dan Gili Air, wisatawan asing yang menginap kebanyakan adalah keluarga, ayah-ibu dengan putra-putrinya atau pasangan yang berumur, karena itu suasananya tenang, hiburan malam hanya terbatas di titik-titik tertentu.

Namun, sayup-sayup alunan musik dari Gili Trawangan terbawa angin sampai juga ke Gili Meno.gili bungalow

Di Gili Air juga banyak orang muda, meskipun suasananya tidak semeriah di Gili Trawangan.

Pada ketiga pulau itu terdapat fasilitas resor, hotel, pondokan dan rumah makan serta kedai-kedai yang bisa memanjakan lidah dan perut dengan masakan tradisional ataupun internasional seperti steak, spageti, ayam taliwang, nasi goreng dan sate.

Buah-buah tropis seperta nenas, jambu air, pisang, bengkuang, semangka dijajakan para perempuan yang keliling resor, lengkap dengan bumbu rujak kacang dan gula merah.

“Saya suka buah-buah ini pada siang hari ucap wisatawan asal Swedia yang menginap bersama suami dan dua putrinya di Gili Meno beberapa waktu lalu. Hampir setiap siang ia menyantap rujak manis.

Transportasi di pulau hanya sepeda kayuh dan cidomo yaitu delman ditarik kuda dengan memakai roda ban karet. Tidak perlu terburu-buru menikmati pulau.

Untuk mencapai pulau-pulau itu dari Bali bisa memilih kapal cepat dengan tarip sekitar Rp300-350 ribu sekali jalan untuk setiap orang, atau dari daratan utama Lombok dengan menyewa perahu motor Rp250.000 sekali antar dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.gili peta pulau gili gili
Cara paling murah adalah naik perahu motor mengikuti jadwal wisata harian, cukup dengan biaya sekitar Rp25.000 hingga Rp50.000 wisatawan akan diajak keliling ke tiga pulau dalam waktu setengah hari.

“Meskipun tidak menginap kita bisa bermain air atau snorkeling sebentar dan foto-foto ‘selfie’ di tiga pulau itu,” tutur Rima, wisatawan asal Surabaya.gili dive map
Belakangan banyak wisatawan yang memilih perjalanan ke “pink beach”, atau Pantai Tangsi yang terletak di desa Sekaroh, Lombok Timur. Disebut pink beach karena pasir pantainya bercampur batu koral berwarna merah yang sudah berbentuk pasir dan apabila tertimpa sinar matahari terlihat merah muda.

“Kami puas pesiar di NTB, khususnya saat dibawa ke suatu pulau kecil yang pasirnya putih bersih dan airnya biru jernih. Pada saat itu hanya keluarga kami yang berada di pulau tersebut, sehingga serasa sebagai pemiliknya,” ujar Indria Prawitasari.

Rombongan keluarganya berkeliling pulau, menikmati makan siang yang disediakan operator perjalanan, shalat di hamparan pasir pantai, berenang dan snorkeling.

“Pengalaman tidak terlupakan,” imbuh Indri yang juga mengunjungi kampung Sade di Lombok Timur, pemandian Narmada yang dipercaya bisa membuat awet muda, berbelanja tenun, perhiasan mutiara dan menikmati makanan setempat.

Kampung Sade tempat mukim warga suku Sasak, masyarakat asli pulau Lombok memiliki cerita tersendiri tentang kebiasaan penduduk melapisi dinding rumah mereka dengan tahi kerbau yang membuat dinding rumah berkilat halus.

“Tetapi tidak ada bau kotoran hewan, itu keunikannya,” ungkap Indri.

Gunung Rinjani dan Tambora Banyak pelancong muda yang tidak akan melewatkan perjalanan ke Taman Nasional Gunung Rinjani (3.726 meter di atas permukaan laut), yang pada puncaknya terdapat danau “Segara Anak”.

Terdapat beberapa jalur pendakian ke Rinjani yaitu melalui Senaru dan Sembalun dengan melintasi desa-desa di kaki gunung yang menyuguhkan kecantikan alam, pepohonan, rumput perdu dan bebungaan.

Para pendaki bisa berkemah, mandi berendam air panas belerang atau pun memanciing ikan danau di atas gunung.

Di Pulau Sumbawa yang terletak di sebelah timur Lombok, daya pikatnya berupa padang rumput dan desa-desa di kaki Gunung Tambora (2.722 mdpl) yang terlihat gagah menjulang tinggi.

Tambora pernah meletus dengan dahsyat 200 tahun lalu, tepatnya pada 1815 menyebabkan seluruh dunia gelap gulita serta fenomena perubahan iklim.

Dunia mengalami musim dingin vulkanis, matahari tertutup abu sepanjang tahun, di benua Amerika dan Eropa, terjadi gagal panen dan banyak ternak mati sehingga menimbulkan bencana kelaparan di dunia.

Di dekatnya, pada pulau kecil Satonda di kabupaten Dompu terdapat danau air asin yang diperbincangkan wisawatan dunia sebagai daerah wisata unik, khususnya untuk berenang karena “pasti” membuat orang mengapung.

Air asin danau Satonda diperkirakan sebagai air laut yang meluap ketika Gunung Tambora meletus, kemudian terperangkap di danau tersebut.

Mitos setempat menyebut ada ular raksasa menghuni danau itu membuat warga setempat tidak berani masuk ke air.

“Mungkin terpengaruh oleh cerita mitos itu, ketika berenang seakan saya merasakan suasana gaib,” cetus Agnes Irwanti, warga Jakarta yang tahun lalu berkesempatan berenang di Satonda.

Dari Pantai Kenawa di pesisir utara Sumbawa bisa terlihat Pulau Moyo yang amat terkenal di kalangan wisatawan asing, bahkan Putri Diana dari Inggris pernah menginap di pulau tersebut.

Wisatawan asing biasa mengunjungi Pulau Moyo, Kenawa dan Satonda dengan naik kapal pesiar atau kapal cepat yang disewa langsung dari Pantai Lovina di Bali, untuk perjalanan ke NTB dan Labuan Bajau serta Pulau Komodo di gugus kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di Lombok wisatawan masih bisa menyaksikan jalan desa, pemandangan alam tropis yang menawan yang di daerah lain di Indonesia mulai berubah dengan cepat sebagai daerah tujuan wisata, seperti yang terjadi di Jepang, tutur Uchida.

“Orang-orang yang saya kenal sangat ramah dan menganggap saya sebagai keluarga sendiri, itu membuat saya betah, bahkan lebih kerasan dibanding bila saya mudik ke rumah orang tua di Fukushima,” ungkap Uchida mengenai alasannya berulang kali mengunjungi Lombok dan sekitarnya.

“Saya tidak pernah bosan dan impian saya adalah bisa tinggal di Lombok kelak bila pensiun,” celetuk pria yang mahir berbahasa Indonesia yang dipelajarinya ketika kuliah di Universitas Nihon di Mishima, Jepang.

Daya pikat NTB berupa keindahan alam, keramah tamahan warga dan gaya hidup tradisional yang tidak terburu-buru seperti di kota metropolitan menjadi pemikat hati bagi para wisatawan, paling tidak seperti dituturkan Uchia, Agnes dan Indri yang mengaku masih berminat untuk jalan-jalan ke NTB lagi.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *