Semarang dan Salatiga Saling Klaim Daerah

  • Whatsapp
Tolak Neoliberal : Para aktifias FPPI saat berunjukrasa di depan gedung DPRD Salatiga. FPPI Tolak Intervensi Asing di Indonesia
Tolak Neoliberal : Para aktifias FPPI saat berunjukrasa di depan gedung DPRD Salatiga. FPPI Tolak Intervensi Asing di Indonesia

UNGARAN, Jowonews.com – Sentimen kedaerahan antara Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga terus bergulir. Wacana pencaplokan sejumlah kecamatan di Kabupaten Semarang oleh Kota Salatiga sudah beredar di masyarakat. Sekarang ketidak jelasan/kekaburan identitas juga terus bergulir.

Kondisi itu setidaknya terlihat diberbagai publikasi rencana kegiatan warga yang berlokasi di Kabupaten Semarang justru menggunakan identitas Kota Salatiga. adahal lokasi berada di Kabupaten Semarang.

Bacaan Lainnya

Seperti berbagai publikasi yang dibikin oleh panitia kejuaraan pacuan kuda “Jateng Derby” 2016, yang akan digelar 31 Januari 2016 di arena pacuan kuda Tegal Waton.

Arena pacuan kuda tersebut berada diwilayah Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Tapi justru mencatut nama Kota Salatiga.

Event lainnya yang dianggap sebagai “klaim” tidak mendasar oleh Kota Salatiga adalah kegiatan “Festival Mata Air 2016” yang akan digelar 20-21 Februari 2016 di mata air Muncul, Banyubiru, Kabupaten Semarang.

Namun oleh penggagas acara, yakni Komunitas TUK (Tanam Untuk Kehidupan) lokasi acara ditulis asebagai “Muncul, Salatiga”.

Arief Syarifudin warga Tengaran, Kabupaten Semarang keberatan jika lokasi yang semestinya ada di Kabupaten Semarang tapi di tulis Salatiga.

“Saya keberatan jika Tegal Waton dianggap Salatiga, padahal lokasi ini ada di Kabupaten Semarang. Bahkan saya dengar Wisata Pemandian Senjoyo juga dianggap milik Salatiga,” ujar Arief di Ungaran, Senin (18/1).

Menurut Arief, semestinya pemkab bertindak tegas, jangan diam saja jika ada event yang berlokasi di Kabupaten Semarang tapi ditulis Salatiga.

“Mungkin dengan menggunakan nama Salatiga lebih familier atau lebih menjual dari pada Kabupaten Semarang. Tapi hal ini tidak benar, mestinya Pemetintah Kabupaten Semarang berani protes pada penyelenggara, atau kalau perlu jangan di beri ijin karena memberi informasi menyesatkan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu tidak dapat dipungkiri kekaburan penyebutan wilayah juga dirasakan oleh masyarakat di kecamatan yang berdekatan Salatiga, seperti Tuntang, Bringin, Pabelan, Suruh, Tengaran dan Getasan. Seringkali warga setempat menyebut wilayahnya merupakan bagian Salatiga.

“Tidak sedikit warga di sekitaran Kota Salatiga menyebut dirinya orang Salatiga, padahal mereka orang Tengaran, Getasan, Bringin atau lainnya. Mengapa tidak disebut Kabupaten Semarang saja. Seperti orang Ungaran menyebut dirinya orang Semarang,” ujar Veronica warga Salatiga.

Sementara itu Penjabat Bupati Semarang, Sujarwanto Dwiatmoko menyikapi biasa saja. Dia justru mempesilahkan jika Pemkot Salatiga dan investor melabeli kawasan Kabupaten Semarang dengan merk Salatiga. Menurutnya hal ini tidak merugikan Kabupaten Semarang.

“Seperti ketika Jogja yang mepromosikan Candi Borobudur yang ada di Magelang. Silahkan Salatiga mepromosikan Tegalwaton, Rawapening atau tempat lainnya. Toh yang dapat manfaatnya juga warga Kabupaten Semarang,” ungkapnya.

Ketika disinggung akan adanya pemekaran wilayah Kota Salatiga dengan mencaplok sebagian wilayah Kabupaten Semarang, Sujarwanto menyatakan hingga saat ini belum ada diskusi tentang pemekaran wilayah. “Masyarakat tidak perlu risau, karena diskusi tentang pemekaran ini tidak pernah ada,” ujarnya.

Menurut Sujarwanto kedua wilayah Kota Salatiga dan Kabupaten Semarnag semestinya bersinergi saling memajukan dan menyejahterakan masyarakat. Pasalnya kedua wilayah ini saling berdekatan, jika terlalu membahas batas wilayah justru akan menghabiskan energi dan waktu.

“Jika saling mendukung itu lebih baik, mendukung kemajuan perekonomian,” ujarnya. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *