Kulon Progo Tidak Sanggup Ekspor Produk UMKM

  • Whatsapp

KULON PROGO, Jowonews.com – Perusahan Daerah Aneka Usaha Kabupaten Kulon Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak sanggup mengekspor produk usaha mikro, kecil, dan menengah yang berkualitas ekspor karena keterbatasan sumber daya manusia yang berkompeten dalam ekspor-impor.

“Kami belum ada pengalaman ekspor produk. Namun, ekspor produk masyarakat Kulon Progo merupakan peluang bisnis yang harus dijalankan,” kata Dirut Perumda Aneka Usaha Kulon Progo Saikhu Rohman di Kulon Progo, Selasa.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (Disperindag-ESDM), kemampuan produksi pengrajin atau pelaku industri kecil menengah (IKM) masih terbatas dan tidak konsisten setiap minggu atau bulan sehingga mempersulit pelaku ekspor.

“Ekspor barang itu membutuhkan data valid. Ekspor juga dilakukan secara periodik, baik mingguan maupun bulanan. Berdasarkan data Disperindag-ESDM, pelaku IKM tidak mampu memenuhi kuota pesanan sehingga ini menjadi persoalan dalam ekspor barang,” katanya.

Anggota Komisi II DPRD Kulon Progo Priyo Santoso mengatakan bahwa produk lokal masyarakat mulai dari kerajinan serat alam hingga gula semut memiliki potensi besar menjadi komoditas ekspor. Namun, dijual ke luar negeri masih kerja sama dengan pihak ketiga.

“Kami berharap Perusahaan Daerah Aneka Usaha menjadi eksportir, menjual produk unggulan masyarakat Kulon Progo,” kata Priyo.

Selama ini, menurut Priyo, Kamar Dagang Indonesia Cabang Kulon Progo atau DIY belum ada upaya menjadi eksportir produk unggulan masyarakat, khususnya kualitas ekspor, sehingga nilai ekonomis industri Kulon Progo tidak menguntungkan pengrajin, tetapi hanya menguntungkan pihak ketiga.

“Pengrajin tidak memiliki nilai lebih atas produk yang mereka hasilkan. Untuk itu, Perumda Aneka Usaha harus menjadi pelopor untuk mengekspor potensi lokal sehingga program Kemandirian Ekonomi Kulon Progo benar-benar terwujud,” kata Priyo.

Selama ini, kata dia, ekspor yang dilakukan tidak langsung kepada “buyer”, tetapi melalui agen eksportir di Bantul dan Yogyakarta.

Untuk mengatasi ketergantungan pada agen dari luar daerah tersebut, Paguyuban Perajin Bina Karya Lestari tengah merintis agar dari Kulonprogo sendiri bisa ekspor secara langsung kepada “buyer”.

“Kami berharap pemkab ada pelatihan-pelatihan TI (teknologi informasi) untuk menunjang menuju MEA agar siap. Sementara ini, kami masih gagap, belum begitu memahami, perlu kursus bahasa Inggris juga,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *