Kerajinan Celengan Limbah Karton Banyak Diminati Konsumen

  • Whatsapp

SOLO, Jowonews.com – Seorang perajin asal Kampung Losari Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon Solo, Jawa Tengah cukup kreatif dengan memanfaatkan limbah karton bekas gulungan kain untuk membuat produk celengan yang banyak diminati kosumen.

Seorang perajin tersebut Yuni Triana (40) warga RT 04/01 Semanggi Solo, Rabu, mengatakan, dirinya awalnya hanya iseng membuat produk celengan untuk anaknya, tetapi ternyata diminati oleh banyak orang.

Bacaan Lainnya

Menurut Yuni ide kreatif tersebut kemudian dikembangan menjadi bisnis yang dapat menghasilkan uang untuk tambahan memenui kebutuhan keluarganya.

“Saya menekuni usaha membuat celengan ini, sejak 2014 hingga sekarang, menggunakan bahan baku kain planel dan karton bekas gulungan kain sehingga biaya produksi cukup murah,” kata Yuni yang mengaku keluar dari kerja di perusahan beralih ke ekonomi kreatif ini.

Menurut dia, produk celengannya tersebut tidak ada yang menyerupai di Kota Solo sehingga banyak konsumen yang tertarik untuk membeli.

Yuni membuat celengan hasil usaha ekonomi kreatif berbentuk silinder dan rumah-rumahan dengan diberi hiasan gambar-gambar antara lain hello kitty dan donal bebek yang disenangi anak-anak.

Menurut dia, dirinya yang dibantu tiga orang anggota keluarganya mampu memroduksi celengan tersebut rata-rata sekitar 24 buah per hari.

“Barang ekonomi kreatif ini, dikirim atas pesanan toko-toko selain di Kota Solo juga di Karanganyar, Klaten, dan Sukoharjo,” katanya.

Menurut dia, celengan hasil produksinya berani bersaing dengan produk lainya baik harga dan kualitasnya. Harga celengan buatanya hanya dijual antara Rp7.000 hingga Rp20.000 per buah.

“Kualitas celengan buatan saya sangat kuat dan menarik sehingga omzetnya lumayan rata-rata RP2 juta per buan. Lumayan hasilnya untuk tambahan memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.

Menyinggung soal biaya produksi untuk membuat celengan, Yuni menjelaskan bahwa biayanya cukup murah hampir setengah dari harga jual ke tingkat pedagang.

Yuni sebenarnya ingin mengembangkan bisnis produksi celengan tersebut, tetapi dia terkendala kurangnya tenaga kerja sehingga belum mampu memenuhi pesanan terutama saat musim liburan sekolah dan menjelang Lebaran.  (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *