Pemprov Beri Sinyal Penuhi Permintaan Tanah dari BPK RI

  • Whatsapp

SEMARANG, Jowonews.com – Keberadaan Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI di Kompleks Residen Kedu Jl Diponegoro Nomor 1, Kota Magelang tergolong memprihatinkan. Sebab, tempat yang diresmikan 4 Desember 1997 silam ini belum banyak diketahui masyarakat. Karena itu, museum itu akan dipoles akan lebih menarik.

Wakil Ketua BPK RI Drs Sapto Amal Damandiri AK CPA CA menuturkan, Museum BPK akan dikembangkan menjadi sarana edukasi. “Minimal untuk kami sendiri karyawan BPK yang jumlahnya 7.000 orang,” kata Wakil Ketua BPK RI Sapto Amal Damandiri usai dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Kantor Gubernur, Jalan Pahlawan Semarang, Jumat (22/1).

Bacaan Lainnya

Tak asal dipoles, pihaknya ingin museum ini juga harus membenahi sistem pengelolannya. Dengan begitu, promosinya diharapkan bisa lebih mengena ke masyarakat luas. Terutama terhadap pengelolaan keuangan pemerintah pusat maupun daerah.

“Konsepnya yang mengajak keterlibatan masyarakat. Seperti seminar, kunjungan ilmiah, riset bersama, dan debat tentang keuangan negara,” tuturnya.

Di samping itu, untuk menarik minat pengunjung, BPK menggratiskan tiket masuk dan menyediakan open space yang bisa menjadi meeting point pengunjung, dilengkapi dengan wifi.

Kepala Kepala Biro Humas dan Kerja sama Internasional BPK, Yudi Ramdan Budiman menambahkan, tingkat kunjungan masyarakat ke museum BPK saat ini masih sangat minim. Berdasarkan data yang dihimpun, rata-rata pengunjung per tahun hanya berkisar di angka 4 ribu orang.

“Kami sudah melakukan identifikasi pengunjung. Antara lain pegawai BPK sebanyak 7.000 orang, Kantor Akuntan Publik 7.000 orang, dan pelajar 200 orang. Kami menargetkan setahun menarik 30.000 pengunjung,” tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengapresiasi rencana perombakan Museum BPK yang akan menggunakan pola hibah. Dia bahkan mengusulkan agar keberadaan museum dikembangkan menjadi satu kawasan wisata yang terintegrasi dengan Museum Diponegoro dan Rumah Edukasi Narkoba yang akan dibangun oleh BNN.

“Karena heritage ada dan di dalam ada roh edukasinya. Ada Museum Diponegoro, Museum BPK dan Rumah Edukasi Narkoba. Sehingga, satu area menjadi satu kawasan wisata,” tuturnya.

Mengenai penyediaan public space di museum, Ganjar juga sangat mendukung. Baginya, tempat itu bisadimanfaatkan untuk menyelenggarakan event. Jadi para pendatang tidak hanya melihat benda mati, tapi juga visual yang bisa dilihat, atau dipraktikan.

“Saat masyarakat datang ke museum, ada satu visual yang bisa dilihat atau bahkan dipraktikkan. Misalnya, begini lho cara mengaudit. Sehingga mereka mengalami dan terjelaskan. Dengan begitu, mereka tertarik datang ke museum,” cetusnya.

Dikatakan Ganjar, banyak museum di Indonesia yang mati lantaran hanya menjadi tempat mengumpulkan arsip. Kemasannya tidak menarik untuk dikunjungi meski mengusung misi edukasi sekali pun. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *