Serunya KMGP, Film yang  Berkisah Menuju Hidayah

  • Whatsapp
Para penggemar berfoto bersama Aquino Umar di Semarang, baru-baru ini.

SEMARANG, Jowonews.com – Film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) akhirnya resmi tayang secara serentak di bioskop seluruh Indonesia per Kamis (21/1/2016) lalu. Film yang diangkat dari novel laris karya Helvy Tiana Rosa ini sukses menghibur penonton dalam tayangan perdana di Semarang, Kamis sore di Citraland 21 Mall Ciputra Semarang.

Film yang di produksi Indobroadcast Production dan Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini berawal dengan tampilan keindahan alam Ternate di Maluku Utara sebagai scene pembuka.

Bacaan Lainnya

Keindahan gunung Gamalama dihadirkan nyata, jauh melebihi keindahan lukisan gunung itu yang sering kita lihat di lembaran uang seribuan. Adegan Mas Gagah yang terjatuh dari tebing saat memotret panorama keindahan alam Ternate, menjadi pintu masuk menampilkan keindahan alam bawah laut Maluku Utara.

Awal berubahnya sikap Mas Gagah yang diperankan oleh Hamas Syahid memang terjadi di sini. Kepergian Mas Gagah meninggalkan ibu dan adiknya selama dua bulan ke Ternate untuk menuntaskan penelitian dan tugas proyeknya menyisakan kegaduhan saat ia kembali.

Gita Ayu Pratiwi, adik Gagah yang tomboy pada awalnya uring-uringan melihat kakaknya berubah drastis. Mas Gagah kini banyak membaca, tidak lagi suka jalan-jalan dan lebih memilih memutar nasyid untuk di tape mobilnya.

Sementara, Ibunda Gita yang diperankan Wulan Guritno juga akhirnya mengeluarkan kemarahannya karena hubungan keluarga menjadi dingin dan sering terjadi pertengkaran. Kondisi keluarga bermuara penuh masalah karena pertengakaran-pertengakaran yang terakumulasi. Sang kepala keluarga yang diperankan oleh Dwiki Dharmawan dikisahkan meninggal dunia sejak babak awal film. Gagah dan Gita menjadi anak yatim dan kehormanisan keluarga mereka terasa tercerabut.

Di tengah kegalauannya itulah Gita akhirnya justru menemukan fenomena menjalarnya dampak dakwah Islam di berbagai tempat dan kesempatan. Sahabat tempat Gita selama ini menyampaikan curhatnya justru berubah. Sahabatnya kini malah memakai jilbab dan mendukung sikap Mas Gagah.

Bahkan, Gita juga bahkan menemukan seorang pemuda misterius yang bernama Yudi dari bus ke bus dengan menggunakan bahasa yang mirip seperti yang biasa ia dengar dari mulut Mas Gagah. Gita bahkan sempat marah kepada pemuda.

Pada akhirnya, Gita kini terasa dikepung, terutama saat mengetahui ibunya memegang kerudung hasil pemberian warga kampung binaan Mas gagah. Gita makin gundah karena lingkungan sekitarnya semua berubah dan mendukung sikap Mas Gagah. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi dan Gita merasa keputusan ibunya selalu memihak Mas Gagah.

Dalam kondisi yang menuju puncak konflik inilah ternyata film ini harus diakhiri. Ternyata kisah KMGP ini akhirnya dibelah menjadi dua episode. Beberapa penonton yang menanti kemunculan Kyai Ghufron yang sering dijadikan rujukan Mas Gagah harus menunda rasa penasarannya di eposide kali ini.

Tawaran perdamaian yang ditawarkan Gita pada Mas Gagah dan ibunya juga baru sebatas verbal. Penonton masih menunggu apa yang akan dilakukan Gita. Tapi lagi-lagi belum terjawab karena babak ini harus berakhir.

Belum lagi fitnah yang mulai dilancarkan preman di sekitar Rumah Cinta yang dibangun oleh Mas Gagah dan tiga preman insyaf yang diperankan oleh Epi Kusnandar dan Abdur Arrasyid  sebagai pimpinannya. Penonton masih menunggu bagaimana ujung rencana penyerbuan rumah cinta. Penonton lagi-lagi terpaksa harus menahan hasrat karena tertunda di episode berikutnya.

Kita nantikan kelanjutannya di episode berikutnya. (JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *