Dinkes: Kasus Kusta Di Banyumas Cenderung Menurun

  • Whatsapp

PURWOKERTO, Jowonews.com – Jumlah kasus penyakit kusta di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, cenderung menurun, kata Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyumas Sadiyanto.

“Bahkan, penyakit kusta di Banyumas masuk kriteria endemis rendah,” katanya didampingi Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dwi Mulyanto di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Senin.

Bacaan Lainnya

Menurut dia, hal itu diketahui berdasarkan pantauan situasi kusta di Kabupaten Banyumas hingga tahun 2015 dengan tujuan pencapaian eliminasi kusta pada tahun 2020.

Ia mengatakan bahwa berdasarkan grafik prevalensi kusta dalam kurun 10 tahun terakhir, temuan kasus penyakit kulit tersebut cenderung di bawah angka 1 atau di bawah target, yakni kurang dari 1 per 10.000 penduduk (target <1/10.000 penduduk).

“Pada tahun 2015 hanya 0,04 dari target prevalensi kurang dari 1 per 10.000 penduduk,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pada tahun 2015 ditemukan sebanyak 40 penderita kusta baru di Kabupaten Banyumas yang jumlahnya cenderung menurun jika dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 43 orang dan tahun 2014 yang sebesar 41 orang.

Akan tetapi dari jumlah temuan kasus kusta baru tersebut, kata dia, hanya beberapa orang yang merupakan warga Banyumas sedangkan lainnya merupakan pasien dari daerah lain yang sedang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit yang ada di kabupaten itu.

Dalam hal ini, lanjut dia, di Banyumas terdapat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dan RSUD Banyumas yang sering dijadikan rujukan bagi pasien dari daerah lain.

“Sejak tahun 2013 hingga 2015, kami tidak menemukan adanya penderita kusta yang mengalami cacat tingkat dua (cacat atau kerusakan yang terlihat, red.). Biasanya, kalau ada temuan, kami akan rujuk mereka ke RS Kusta Kelet Donorejo di Jepara,” katanya.

Selain tidak adanya temuan cacat tingkat dua, kata dia, pihaknya sejak tahun 2013 hingga 2015 juga tidak menemukan penderita kusta anak di bawah 15 tahun.

Lebih lanjut, Dwi Mulyanto mengatakan bahwa penurunan kasus kusta di Banyumas terjadi karena meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan secara dini terhadap penyakit kulit yang menyerang mereka.

“Begitu ada bercak penyakit kulit seperti panu dan sebagainya, masyarakat langsung memeriksakannya ke puskesmas sehingga jika penyakit itu ternyata kusta, dapat terdeteksi dini sehingga bisa disembuhkan tanpa cacat,” katanya.

Menurut dia, Dinkes Banyumas juga secara rutin melakukan pengecekan kesehatan terhadap siswa sekolah dasar setiap tahun ajaran baru, salah satunya untuk mendeteksi dini penyakit kusta.

Ia mengakui bahwa berdasarkan hasil pemetaan, penyakit kusta banyak ditemukan di Kecamatan Pekuncen, Kembaran, Sokaraja, Jatilawang, Sumbang, Ajibarang, Purwojati, dan Kebasen.

Akan tetapi, kata dia, penularan penyakit kusta yang diderita warga di wilayah tersebut justru terjadi saat yang bersangkutan sedang merantau ke daerah lain seperti Tegal dan Jakarta.

Disinggung mengenai ketersediaan obat untuk penanganan penyakit kusta, dia mengatakan bahwa obat-obatan tersebut mencukupi kebutuhan.

“Namun obat MDT (Multi Drug Therapy) Kusta itu baru kami pasok ke puskesmas jika ada temuan penyakit kusta,” katanya.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *