Objek Wisata Baru di Kudus

  • Whatsapp

KUDUS, Jowonews.com – Sepulang dari meladang, Suradi (61), tampak sejenak beristirahat dan membasuh wajahnya di dekat air terjun Goa. Aliran air dari air terjun setinggi sekitar 20 meter, di Dukuh Bakaran, Desa Piji, Kecamatan dawe, Kudus, itu seperti memberi kesegeran kembali bagi tubuh tua Suradi.

“Airnya jernih, segar. Biasanya kalau hari Minggu ramai sekali,” kata Suradi.

Disampaikan, warga biasanya menyebut air terjun tersebut, sebagai air terjun Goa. Musababnya, hanya kurang dari seratus meter dari sana, di atas ladang-ladang warga, terdapat goa alam. Menurut dia, goa tersebut berselimut mitos, tentang kisah cinta Sunan Muria, dengan istrinya.

“Ceritanya dulu, garwone (istri, red) Sunan Muria, pernah diculik oleh pertapa dan disembunyikan di goa itu, sehingga membuat kanjeng sunan murka dan cemburu,” cerita dia.

Namun, sang istri bersumpah bahwa dia masih suci dan tak tersentuh. Untuk membuktikan itu, ia bersedia dibakar bara api. Bila berbohong, tubuhnya akan hancur dilalap api.

“Setelah dibakar, bukannya hangus menjadi abu, tapi justeru makin lebih cantik. Tempat membakarnya tak jauh dari air terjun sini, makanya dinamakan Dukuh Bakaran,” sambung Suradi.

Air terjun Goa, berjarak sekitar dua kilometer (Km) dari Balai Desa Piji. Pengunjung bisa melewati jalan raya Piji – Ternadi. Hanya, sesampainya di masjid desa setempat, akses jalan menyempit dan hanya bisa dilalui sepeda motor.

Kendati demikian, akses jalan tersebut telah dibeton pada sekitar 2014 lalu. Sehingga, pengunjung tak perlu hawatir roda sepeda motornya selip, meski usai diguyur hujan.

Kades Piji, Nurul Mustain, menerangkan air terjun Goa merupakan potensi objek wisata alam di desanya, yang belum tergarap secara maksimal. Menurut dia, jika dibenahi, baik dari segi kebersihan, sarana dan prasarana (sarpras) maupun insfrastruktur pendukung lain, objek wisata tersebut akan banyak menyedot pengunjung.

“Selama ini, belum ada perhatian dari pihak atau dinas terkait. Kami harap ada perhatian serius, agar ini bisa memberi manfaat secara maksimal bagi warga sekitar,” harap dia.

Menurut dia, jika akhir pekan atau hari libur nasional, air terjun Goa tak pernah sepi pengunjung. Meski begitu, tak ada kontribusi yang signifikan bagi pemasukan kas desa.

“Karena belum digarap maksimal, tak ada bea retribusi masuk. Hanya, warga memanfaatkan momen itu untuk jasa parkir. Kalau ada gelontoran dana dari dinas terkait, saya pikir akan kelihatan manfaatnya,” ucap Mustain.

Selain air terjun Goa, menurut dia, masih ada potensi objek wisata ‘mata air suci’, yang belum digarap. “Airnya selalu mengalir jernih, meski hujan atau kemarau. Bisa itu dijadikan semacam paket wisata,” tuturnya. (JN04/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *