Pemkab Harapkan Warga Akur Pasca Penutupan Peternakan Babi

  • Whatsapp

BANTUL, Jowonews.com – Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan warga Pedukuhan Plebengan, Desa Sidomulyo, bisa akur dengan keluarga pemilik kandang babi di daerah itu setelah penutupan usaha peternakan babi tersebut.

“Kami apresiasi langkah pemilik kandang yang bersedia menutup sehingga harapannya seluruh warga Plebengan kembali bersatu,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bantul Hermawan Setiadji di Bantul, Rabu.

Bacaan Lainnya

Menurut dia, peternakan babi di wilayah Pedukuhan Plebengan akhirnya ditutup setelah ada mediasi antara pemilik penternakan dengan warga setempat di Balai Desa Sidomulyo pada Selasa (26/1), mediasi itu merupakan tindak lanjut dari penolakan warga.

Hermawan mengatakan, penolakan warga terhadap peternakan babi cukup sering terjadi, bahkan dalam satu minggu ini menurutnya telah dilakukan dua kali mediasi konflik peternakan babi dengan masyarakat di dua tempat yang berbeda.

Penolakan peternakan babi menurutnya tergantung struktur sosial dalam masyarakat, dan kebanyakan penolakan karena warga mengeluhkan bau limbah kadang terjadi di daerah yang cukup agamis, seperti di wilayah Sidomulyo itu.

“Yang jelas kami (Bantul) punya sejarah panjang ternak babi, dan untuk sadarkan itu butuh waktu lama, akan tetapi lambat laun sudah mulai berkurang,” katanya.

Sementara itu, koordinator warga Plebengan, Tri Prabowo mengatakan peternakan tersebut sudah sekitar 30 tahun beroperasi di wilayah mereka, dan warga sudah berulang kali komplain namun tidak segera ditindaklanjuti hingga mereka harus menolak dengan aksi.

“Warga sudah habis kesabaran karena mereka sudah tidak bisa diajak musyawarah dengan pendekatan baik-baik,” katanya.

Menurut dia, yang dikeluhkan warga adalah bau dari limbah peternakan yang dianggap mencemari lingkungan dan berdekatan dengan tempat ibadah di daerah itu, yang diperkirakan berjarak sekitar 30 meter sehingga mengganggu ibadah warga.

Ia mengatakan keluhan tersebut dilaporkan kepada Satuan Polisi Pamong Praja (Sapol PP) Bantul pada November 2015 dan kemudian ditindaklanjuti dengan mediasi antara pemilik peternakan dan perwakilan warga, namun belum disepakati.

Akan tetapi, menurut dia, dalam mediasi kedua yang dilakukan mempertemukan perwakilan pemilik dan warga akhirnya didapat kesepakatan untuk menghentikan peternakan babi tersebut.

Sementara, putra pemilik peternakan babi Legimin, Jumain mengatakan, menindaklanjuti penolakan warga pihaknya telah melakukan rembug keluarga dan setuju menutup peternakan, mulai Selasa (26/1) semua kandang dikosongkan dari babi. “Kami mohon maaf kepada masyarakat dan lingkungan apabila selama kami memelihara hewan tersebut mengganggu kenyamanan masyarakat,” katanya.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *