7 Ribu Warga Salatiga Jadi Pengangguran

  • Whatsapp

SALATIGA, Jowonews.com– Jumlah pengangguran di Kota Salatiga ternyata masih sangat tinggi. Catatan dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Salatiga, sekarang ini ada sekira 7.000 warga atau 4,5 persen dari total jumlah penduduk Salatiga yang menganggur.

Kepala Dinsosnakertrans Kota Salatiga Sri Joko Nurhadi mengatakan, meski termasuk tinggi, namun angka di Salatiga lebih baik dibandingkan angka pengangguran di Jateng.

Bacaan Lainnya

“Berdasarkan data, angka pengangguran di Jawa Tengah mencapai 6,5 persen. Meski demikian, kami akan berupaya untuk menurunkan angka tersebut. Tahun ini kami upayakan paling tidak bisa turun 1 persen,” ujar Sri Joko kepada wartawan, Jumat (29/1).

Sri Joko menambahkan, sejumlah kegiatan untuk menurunkan angka tersebut, di antaranya yakni pelatihan  khusus untuk penempatan. Artinya tak sekadar mereka dilatih, tetapi dilatih dan disesuaikan dengan lowongan maupun wirausaha yang sedang atau dituju. Sehingga pelatihan tersebut lebih  tepat sasaran.

“Jika sekadar dilatih, belum tentu lowongan kerja tidak sesuai dengan keahlian tiap orang yang sebenarnya sedang membutuhkan pekerjaan. Itu pula yang menjadi alasan guna mensiasati pertumbuhan tenaga kerja yang tidak seimbang dengan kesempatan kerja, khususnya di Salatiga,” imbuhnya.

Joko menjelaskan, pelatihan yang rutin dilaksanakan, pihaknya juga berkait usaha untuk semakin menumbuhkan semangat kewirausahaan. Program pelatihan itu di antaranya tentang keterampilan tata busana, teknisi kendaraan, teknisi komputer, operator mesin jahit, membatik, hingga salon kecantikan. Diharapkan, melalui program tersebut, angka pengangguran di Salatiga bisa berkurang.

Joko optimistis, seiring dengan banyaknya investor yang masuk ke Salaiga, akan mengurangi jumlah pengangguran di Salatiga. Karena pabrik-pabrik tersebut akan menyerap jumlah tenaga kerja yang besar.

“ Setidaknya ada tiga investor yang tahun ini masuk ke Salatiga. Misalkan pabrik sepatu, informasinya butuh sekitar 2.000 tenaga kerja, belum yang lain,” pungkasnya. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *