Keluarga Berperan Penting Cegah Perilaku Penyimpangan Seksual Anak

  • Whatsapp
SEMARANG, Jowonews.com – Kepala Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera Jawa Tengah, Zubaedah, SE menilai bahwa orang tua dan keluarga memiliki peran penting dalam mencegah penyimpangan seksual anak.
Menurut Zubaedah, dengan semakin mudahnya akses teknologi, banyak pihak dari kalangan Lesbian Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) saat ini mulai mengkampanyekan kegiatan penyimpangan seksual tersebut melalui social media. Dikhawatirkan, karena banyak anak-anak pengguna aktif socmed, bisa menjadi sarana untuk mempengaruhi anak-anak tersebut.
 
Dikatakan Zubaedah, LGBT sadalah penyakit sosial  yang menular, sehingga penting untuk mendampingi perilaku bermedia anak  atau mengawasi socmed anak. Karena, menurutnya dampak content LGBT di socmed/internet, juga bisa berdampak pada kekerasan di sekitar (lingkungan), termasuk anak kecil.

“Kami berharap keluarga, terutama para orang tua bisa mencermati dengan mendampingi anak-anaknya agar tidak terjerumus kepada penyimpangan seksual, bagaimana caranya? dampingi mereka, arahkan kepada penggunaan socmed yang lebih positif dan produktif,” ujarnya dalam keterangan persnya, Jumat (29/1/2016).

Lebih lanjut, Zubaedah menyampaikan bahwa saat ini fenomena LGBT di Indonesia sudah menuju ke taraf yang sangat memprihatinkan. Para kaum LGBT kini tak lagi malu lagi untuk mengkampanyekan melalui socmed aktivitas dan kegiatan mereka.
“Inilah yang harus diwaspadai, sehingga salah satu cara, adala melalui edukasi yang positif dari orang tua, contohnya adalah memberikan pemahaman bahaya paham LGBT, seperti melalui kisah Nabi Luth dan kaumnya,” katanya.
Kedepan, Zubaedah menyatakan bahwa PKS akan terus mendampingi keluarga agar bisa mengedukasi anak-anak terkait berbagai permasalahan dan fenomena sosial tersebut.
“Di Jateng kami memiliki 35 Rumah Keluarga Indonesia (RKI) yang tersebar di 35 kabupaten/kota, dimana wadah tersebut adalah wadah para keluarga, terutama para ibu untuk melakukan konsultasi dan mencari solusi bersama terkait masalah fenomena sosial dan ketahanan keluarga,”kata perempuan yang berasal dari Kota Tegal ini.
Secara khusus, Zubaedah juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah melalui Menristek Dikti yang melarang para kaum LGBT masuk ke dunia kampus. Menurutnya, sikap tersebut sudah tepat, karena kampus adalah wadah untuk mencetak generasi pemimpin masa depan, sehingga harus terbebas dari fenomena penyimpangan seksual.
 
Sebagai informasi, LGBT sudah ‘menjajah’ hampir seluruh provinsi di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan pada 2012 menunjukkan bahwa terdapat 1.095.970 Lelaki berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) alias gay yang tersebar di semua daerah.
 
Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah LSL terbanyak. Sebanyak 300.198 orang yang terindikasi merupakan gay. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.895 orang merupakan penderita HIV/AIDS. Sementara itu, Jawa Tengah memiliki penderita gay dengan jumlah 218.227. Dari jumlah itu, sebanyak 11.951 orang terindikasi merupakan penderita HIV/AIDS.
 
Sementara di Jakarta, sebanyak 27.706 warga ibu kota merupakan gay. Dari puluhan ribu gay di ibu kota, sebanyak 5.550 orang diduga menderita HIV/AIDS. (JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *