Sapi Impor Tidak Sampai Ke Bantul

  • Whatsapp

BANTUL, Jowonews.com – Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memastikan sapi yang dimpor pemerintah untuk mencukupi pasokan daging di kota besar tidak sampai ke kabupaten ini.

“Di Bantul tidak ada sapi impor karena selama ini saya katakan kebutuhan sapi potong masih bisa dipasok dari peternak sekitar,” kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Bantul Sulistyanto di Bantul, Sabtu.

Bacaan Lainnya

Tidak adanya sapi impor ke daerah ini, menurutnya karena stok sapi yang ada sentra ternak wilayah Bantul masih mencukupi kebutuhan daging pasar, meskipun terkadang harus mendatangkan dari luar daerah saat permintaan meningkat.

Ia mengatakan untuk mencukupi kebutuhan daging sapi harian dalam kondisi normal di Bantul diperlukan sekitar 25 ekor yang dipotong di rumah pemotongan hewan, dan itu sebagian besar dipenuhi dari sentra ternak sapi Desa Segoroyoso Pleret.

“Kemarin sempat datang ke Segoroyoso saat permintaan tinggi, mereka mendatangkan dari Gunung Kidul (DIY), Klaten dan Boyolali (Jawa Tengah), karena mereka ingin dapatkan sapi yang memenuhi syarat untuk dipotong di jual,” katanya.

Sulistyanto juga mengatakan, Kabupaten Bantul juga pernah mendatangkan sapi dari Bali guna mencukupi kebutuhan daging, terutama saat liburan seperti pada Desember, sebab tidak sedikit wisatawan dari luar daerah yang makan di Bantul.

“Sapi-sapi lokal yang akan dipotong itu ada bobot minimal yaitu 400 kilogram, kalau bobotnya dibawah itu dipotong, maka secara ekonomi justru lebih mahal,” katanya.

Sementara itu, ia juga mengatakan, terkait dengan harga daging sapi di pasar tradisional Bantul saat ini relatif stabil berkisar antara Rp110.000 per kilogram, bahkan menurutnya harga di level tersebut sudah berlangsung selama dua bulan terakhir.

“Naiknya itu pas Desember kemarin, saat itu saya menerima surat pemberitahuan dari pengusaha daging di Segoroyoso, sementara sampai saat ini belum ada pemberitahuan. Kenaikan itu mungkin karena ada kebijakan yang memengaruhi psikologis pelaku usaha,” katanya.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *