Awas! Waspadai Virus Zika

  • Whatsapp

SOLO, Jowonews.com – Warga Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah, diimbau mewaspadai penyebaran virus Zika dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungannya masing-masing, meski belum ada laporan penyebaran virus Zika di daerah setempat.

“Harus tetap waspada penyebaran virus Zika, meski hingga kini belum ada laporan apapun tentang warga yang terkena virus Zika,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan LIngkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota (DKK) Pemkot Surakarta Efi S.Pertiwi di Solo, Senin.

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan virus Zika rentan menjangkit warga di Indonesia. Penularan virus ini sama seperti virus demam berdarah, yaitu melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang menyebabkan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Saat ini, virus Zika tengah merebak di Benua Amerika maupun Eropa.

“Jadi kami minta warga waspada mengenai virus Zika, karena pembawanya sama dengan DBD, yakni nyamuk Aedes Aegypti,” katanya.

Ia mengatakan kasus terinfeksi virus Zika tidak jauh berbeda dengan penyakit infeksi DBD dan Chikungunya. Oleh sebab itu, upaya yang perlu dilakukan masyarakat untuk terhindar dari virus itu, melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Dikatakan pencegahannya dengan meningkatkan gerakan PHBS, karena merebaknya virus Zika bisa ditekan dengan mencegah berkembangnya jentik nyamuk. “Sama seperti DBD untuk pencegahannya, dengan PHBS. Misalnya mengubur, menguras, dan menutup tempat penampungan air,” katanya.

Masyarakat juga harus menjaga pola hidup sehat. Selain itu istirahat yang cukup, banyak minum, tetap mengonsumsi makanan yang bergizi. Efi mengatakan kewaspadaan semakin ditingkatkan mengingat tren kasus DBD mengalami kenaikan.

“Infeksi DBD sering terjadi pada musim hujan. Seperti kita ketahui bahwa selain menjadi faktor atau pembawa virus DBD dan Chikungunya, juga membawa virus Zika,” katanya.

Ia mengatakan untuk tahun ini ditargetkan 50 persen kelurahan di Solo bisa bebas DBD, dan angka DBD bisa ditekan maksimal setahun hanya 30 kasus.

Target ini berkaca pada 2010 silam, di mana angka kasus DBD tidak lebih dari 30 kasus. Hingga kini, wilayah Mojosongo dan Kadipiro masih menjadi daerah merah endimis DBD, katanya.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *