Guru Harus Dorong Siswa Hasilkan Produk

  • Whatsapp

SEMARANG, Jowonews.com – United States Agency for International Development (USAID) Prioritas melatih guru untuk mendorong siswa menghasilkan produk berkualitas seiring dengan pembelajaran.

“Guru harus mendorong siswa untuk kreatif, salah satunya menghasilkan produk untuk pembelajaran,” kata Specialist Pengembangan LPTK USAID Prioritas Jawa Tengah Afifuddin di Semarang, Senin.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut diungkapkannya di sela “Pelatihan Praktik yang Baik Modul III dalam Pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Sanawiah bagi Sekolah Lab dan Mitra LPTK.

Afif menjelaskan bahwa siswa yang kreatif akan mampu menghasilkan karya dalam pembelajaran, setidaknya laporan panjang atau karya tulis berkaitan dengan materi pelajaran yang diberikan.

“Yang dimaksud produk atau karya siswa ini beragam dan harus ada di setiap mata pelajaran, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Bahkan, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS),” katanya.

Dalam pelajaran Matematika, dia mencontohkan siswa bisa membuat laporan mengenai rencana pembuatan lapangan basket, meliputi luasan lapangan yang dibutuhkan dengan banyak cat yang dihabiskan.

“Untuk Bahasa Inggris, siswa bisa mengembangkan literasi yang diberikan menjadi karya berupa cerita bergambar, komik, atau skrip drama. Demikian pula, dengan produk dari Bahasa Indonesia,” katanya.

Maka dari itu, USAID Prioritas Jateng mengajak puluhan guru dari empat sekolah mitra lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) untuk mengembangkan model pembelajaran yang kreatif.

Pada pelatihan itu, kata dia, ada enam sekolah yang diundang, yakni SMP Negeri 7, SMP Negeri 12, dan SMP Negeri 13 Semarang yang merupakan binaan dari Universitas Negeri Semarang (Unnes).

“Tiga sekolah lainnya, yakni MTs Darul Ulum, MTs Al Asror, dan MTS Negeri 2 Semarang yang merupakan binaan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Guru dan kepala sekolah diundang,” katanya.

Dari guru yang diundang, kata dia, meliputi mata pelajaran Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan IPS dengan masing-masing tiga guru untuk setiap mata pelajaran.

“Pengelolaan kelas kebanyakan masih bersifat klasikal dengan siswa duduk berbaris. Bagaimana bisa mendorong siswa kreatif? Melalui pelatihan ini, kami harap guru bisa mengembangkan metode pembelajaran,” katanya.  (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *