Hanyut 7 Hari, Seka Ditemukan Tewas di Wedung

  • Whatsapp

SEMARANG, Jowonews.com – Seka (13), warga Jomblang RT 05 RW 11, Kelurahan Candisari, Semarang, akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal di perairan Wedung, Kabupaten Demak. Seka merupakan satu dari dua bocah yang hanyut saat hendak mencari pepaya di sungai daerah Jomblang, Selasa (26/1) petang lalu. Saat insiden tersebut, teman Seka yang bernama Aditya (14) berhasil diselamatkan, sedangkan Seka hanyut terbawa arus.

Jasad Seka sebenarnya sudah ditemukan oleh seorang nelayan di perairan Wedung, Kabupaten Demak, Sabtu (30/1). Namun saat itu belum diketahui identitasnya dan disemayamkan di kamar jenazah RSUD Demak. Baru pada hari Minggu (31/1), jasad yang terdampar di perairan Wedung tersebut diketahui bernama Seka, bocah SD yang hanyut di Semarang.

Bacaan Lainnya

“Awalnya ada penemuan jenazah di perairan Wedung oleh seorang nelayan. Saat itu belum diketahui identitasnya. Baru Minggu kemarin teridentifikasi atasnama Seka, warga Jomblang, Semarang yang hanyut di sungai sepekan lalu,” kata Kepala Basarnas Kantor SAR Semarang, Agus Haryono, saat dikonfirmasi oleh Jateng Pos, Selasa (2/2).

Begitu korban teridentifikasi, lanjut Agus, pihak keluarga langsung datang ke rumah sakit dan membawa pulang jenazah ke Semarang. Tepat satu hari setelah korban ditemukan. Sebelum itu, pihak Basarnas telah melakukan pencarian terhadap korban sesaat setelah kejadian, Selasa (26/1) petang.

Pencarian bahkan dilanjutkan keesokan harinya dengan menyusuri sungai Jomblang sampai ke bantaran Banjir Kanal Timur. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil. “Kami langsung sisir sungai sampai ke hilir, soalnya saat kejadian arus sungai deras. Bahkan kemungkinan yang ada korban telah sampai di laut. Kami juga terus lakukan pemantauan, total pencarian selama 7 hari. Akhirnya ditemukan di Demak dalam kondisi sudah meninggal,” terangnya.

Atas kejadian tersebut, pihak Basarnas Kantor SAR Semarang mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada. Terlebih pada musim penghujan yang intensitas hujannya mulai meningkat dari hari ke hari. Tingginya intensitas curah hujan tersebut membuat volume air dan arus di sungai menjadi lebih deras, sehingga warga yang melakukan aktivitas di sungai harus mewaspadai.

“Harus tetap waspada, kalau melihat mendung hitam dan tebal di wilayah atas atau hulu, sebaiknya mulai menjauh dari sungai. Sebab kemungkinan akan hujan turun dan mengakibatkan arus sungai bahkan selokan-selokan menjadi deras,” imbaunya.

Selain banjir dan arus sungai yang deras, intensitas hujan yang tinggi juga dapat mengakibatkan bencana lain, seperti tanah longsor. Di kota Semarang, beberapa wilayah yang rawan longsor tersebut meliputi wilayah Mijen, Ngaliyan, Gunungpati, Gombel dan Gajahnungkur. “Tanah longsor juga harus diwaspadai selain banjir. Ini karena curah hujan yang cukup tinggi,” pungkasnya. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *