Divonis Setahun, Mantan Dirut PDAM Surakarta Tertawa

  • Whatsapp

SEMARANG, Jowonews.com – Singgih Triwibowo, Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surakarta terkesan tertawa lega mendengar vonis majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang yang mengganjarnya dengan hukuman penjara selama 1 tahun penjara, Kamis (4/2). Oleh majelis hakim, dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah menerima gratifikasi dari rekanan pelaksana proyek senilai Rp193 juta.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Singgih Tri Wibowo telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 11 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi. Menghukum terdakwa dengan hukuman penjara selama setahun,” kata ketua majelis hakim, Sunarso.

Bacaan Lainnya

Hakim juga mewajibkan terdakwa membayar denda sebesar Rp50 juta. Dengan ketentuan, apabila tidak dibayarkan setelah sebulan perkara memiliki kekuatan hukum tetap, maka akan diganti dengan hukuman penjara selama sebulan.

“Mengingat selama perkara ini berlangsung terdakwa menjalani tahanan kota, maka hukuman itu dikurangkan dengan masa penahanan yang terdakwa jalani. Memerintahkan agar terdakwa ditahan,” imbuh hakim.

Dalam amar putusannya, hakim menilai bahwa tindakan terdakwa menerima hadiah berupa uang dari dua rekanan yang melaksanakan proyek pengadaan mesin pompa air (Electro Motor Submersible Hydro Vacuum) dan penjernih air atau Poly Alumunium Chloride (PAC) Liquid tidak sesuai. Apalagi, terdakwa adalah salah satu pegawai negeri sipil yang dilarang menerima hadiah apapun.

“Hal itulah yang menjadi pertimbangan hakim dalam hal memberatkan. Sementara hal meringankan, terdakwa bersikap sopan, mengakui perbuatan, terus terang dan belum pernah dihukum. Selain itu, terdakwa selama menjabat juga telah ikut berperan serta membangun PDAM Surakarta,” pungkas hakim.

Vonis yang dibacakan hakim tersebut diketahui lebih ringan enam bulan dari tuntutan jaksa. Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Surakarta menuntut Singgih dengan hukuman penjara selama satu tahun enam bulan.

Menanggapi putusan itu, terdakwa usai berdiskusi dengan penasihat hukumnya mengaku belum mengambil sikap. Pihaknya meminta waktu untuk pikir-pikir. “Kami pikir-pikir yang Mulia. Minta waktu,” kata Singgih singkat. Hal serupa juga dikatakan jaksa penuntut umum.

Sekedar diketahui, kasus dugaan korupsi di PDAM Solo itu terjadi ketika ada proyek pengadaan mesin pompa air (Electro Motor Submersible Hydro Vacuum) dan penjernih air atau Poly Alumunium Chloride (PAC) Liquid. Dimana untuk pembelian mesin pompa air sebanyak 15 buah, dianggarkan Rp1,8 miliar, sementara pengadaan penjernih air dianggarkan sebesar Rp2 miliar.

Dalam pelaksanaanya, proses pengerjaan diduga banyak penyelewengan. Diawali dengan pihak rekanan yang dimenangkan dengan cara penunjukan langsung.

Belakangan diketahui, pihak rekanan memberikan sejumlah uang kepada terdakwa. Selain sebagai pelicin, uang-uang itu diberikan saat proses pelaksanaan proyek sehingga membuat kualitas proyek menurun dan tidak sesuai kontrak. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *