Tanggung Logistik Eks Gafatar, Pemkab Boyolali Utang Beras 20 Ton

  • Whatsapp

BOYOLALI, Jowonews.com – Pemkab Boyolali menalangi kebutuhan logistik untuk makan bagi pengungsi eks anggota Gafatar yang ditampung di Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Sejauh ini Pemkab telah mengeluarkan anggaran Rp 15 juta untuk membeli logistik dan hutang beras 20 ton ke pihak swasta.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Boyolali, Purwanto, mengatakan Pemkab Boyolali menalangi anggaran untuk konsumsi eks anggota Gafatar di Asrama Haji Donohudan. Anggaran itu nantinya akan ditukar oleh Pemprov Jateng.

Bacaan Lainnya

“Karena anggaran dari provinsi belum cair, kita yang kebagian untuk menalangi logistik bagi pengungsi eks anggota Gafatar di Asrama Haji Donohudan. Sampai saat ini sudah habis Rp 15 juta lebih,” kata Purwanto kepada wartawan Selasa (02/02).

Selain dana sebesar itu, ungkap dia, pihaknya saat ini terpaksa harus berhutang beras 20 ton ke pihak swasta. Pasalnya, warga eks Gafatar menolak makan Raskin dari Bulog.  Sedangkan berkait nasib para anggota eks Gafatar asal Boyolali, Purwanto menyatakan siap memfasilitasi bila mereka mau transmigrasi.

Hanya saja, mereka tidak boleh memilih daerah transmigrasi. Tetapi harus disesuaikan dengan jatah yang dimiliki Boyolali. “Kalau mereka mau bertransmigrasi, kita siap memberangkatkan. Untuk daerah tujuannya harus menyesusaikan, mereka tidak boleh memilih,” jelas Purwanto.

Saat ini, eks Gafatar yang masih ditampung di Asrama Haji Donohudan masih mencapai 800-an orang. Mereka tak hanya dari wilayah Jateng dan DIY, namun juga dari provinsi-provinsi lain di Indonesia.

Kebanyakan berasal dari luar Jateng. Purwanto belum mengetahui sampai kapan eks Gafatar akan ditampung disana. “Kita tunggu instruksi dari pemprov Jateng saja,” tandasnya.  Sementara itu jumlah pengikut Gafatar dari Boyolali sejauh ini tercatat ada 48 orang.

Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Boyolali, Supama Harja, mengatakan mereka dari wilayah Kecamatan Juwangi, Wonosegoro, Klego, Karanggede, Simo, Banyudono dan Cepogo. Mereka berasal dari beberapa Kepala Keluarga (KK). Sebanyak 46 diantaranya sudah dipulangkan ke daerah asalnya. “Sedangkan dua lainnya masih di Asrama Haji, karena baru dibawa dari Rumah Perlindungan Trauma Center Kemensos di Jakarta Senin (1/2),” jelas Supama. (JN01/JN03)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *