Pendaki Merbabu Diminta Naik Melalui Jalur Resmi

  • Whatsapp

BOYOLALI,Jowonews.com – Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengimbau kepada para pendaki untuk tak mendaki melalui jalur tikus. Tetapi melalui jalur resmi dan mendaftarkan terlebih dahulu, sehingga namanya terdaftar. Selain itu juga mempersiapkan diri dengan peralatan dan logistik yang memadai.

Hal ini untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Seperti yang menimpa seorang pendaki asal Semarang, akhir pekan kemarin. Oki Kumala Putra (17), siswa SMK Perkapalan Semarang, meninggal dunia saat mendaki gunung Merbabu.

Bacaan Lainnya

Koordinator Perlindungan BTNGm, Kurnia Adi Wirawan, mengatakan Oki Kumala Putra diduga meninggal karena mengalami hipotermia atau kedinginan. Diceritakannya, korban mendaki Merbabu pada Sabtu (6/2) siang bersama 13 rekannya. Di pos I pendakian ia sempat mengeluh kelelahan dan bertukar tas yang lebih ringan.

Saat sampai di kawasan Watu Gubug, korban lalu menumpang tidur di tenda pendaki lain. Namun pagi-pagi saat dibangunkan untuk melihat sun rise, korban sudah meninggal. “Kemungkinan karena hipotermia. Padahal bila terkena hipotermia harusnya tak boleh tidur dan tetap beraktivitas agar suhu tubuh tetap hangat,” jelasnya kepada wartawan di kantornya Selasa (9/2).

Untuk mencegah hal serupa terulang, ia mengimbau kepada pendaki untuk mempersiapkan diri dengan peralatan dan logistik pendakian yang memadai. Pendaki juga tak perlu memaksakan diri jika kondisi tubuh tidak fit.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau para pendaki untuk mendaki melalui jalur resmi. Ada empat jalur pendakian resmi ke gunung Merbabu. Yakni di Selo, Boyolali, kemudian Cunthel dan Tekelan di Kabupaten Semarang, serta Wekas, Magelang.

Namun, di kawasan Merbabu juga banyak terdapat jalur tikus yang bisa mengakses ke kawasan puncak. Jalur itu sebenarnya merupakan jalur warga aktivitas warga di kaki Merbabu, namun kerap digunakan untuk jalur para pendaki. Salah satunya di wilayah Kecamatan Ampel, Boyolali.

“Jalur tersebut sebenarnya merupakan jalur warga mencari rumput dan sudah ditutup beberapa tahun lalu, namun masih sering digunakan pendaki,” kata Wirawan.

Jika melalui jalur tikus, lanjut dia, maka petugas tak bisa melakukan pengawasan terhadap aktivitas pendakian. Sebab pendaki tak terdata di pos resmi. Terlebih jalur-jalur tikus tersebut banyak melalui wilayah ekosistem hutan lindung, sehingga aktivitas di jalur tersebut dikhawatirkan bisa merusak vegetasi alami hutan.

Di jalur tersebut juga tak ada papan informasi atapun shelter pendakian. Jika terjadi hal yang tak diinginkan, tentunya proses evakuasi pun sulit dilakukan. “Untuk pengawasan pendakian melalui jalur tikus, kami menggandengan warga setempat, seperti kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Masyarakat Mitra Merbabu (MMM),” tandasnya. (JN01/Jn16)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *