Cuaca Buruk, Nelayan “Longliner” Tidak Melaut

  • Whatsapp

CILACAP, Jowonews.com – Ratusan nelayan kapal “longliner” (di atas 30 gross tonage, red.) termasuk yang berasal dari Jawa Tengah tidak melaut akibat cuaca buruk yang sering terjadi di Samudra Hindia selatan Jawa sejak bulan Januari 2016.

“Kami terpaksa tidak melaut sejak bulan Januari karena anginnya kencang dan sering terjadi gelombang tinggi sehingga kami sama sekali tidak ada pendapatan,” kata salah seorang nelayan kapal “longliner”, Arif Faturrahman di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Cilacap, Jawa Tengah, Jumat.

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan bahwa satu kapal “longliner” biasanya berawak 16 orang nelayan dan biaya operasional yang dibutuhkan untuk melaut sedikitnya Rp8 juta.

Sementara hasil yang diperoleh dari melaut saat cuaca buruk, kata dia, paling banyak Rp4 juta sehingga tidak bisa menutup biaya operasional.

Oleh karena itu, kata dia, puluhan kapal “longliner” terpaksa bersandar di PPS Cilacap sehingga ratusan nelayan yang mengawaki kapal-kapal itu menganggur lantaran tidak melaut.

“Kemungkinan kami akan kembali melaut mulai bulan April saat kondisi cuaca membaik,” katanya.

Kondisi tersebut berbeda dengan nelayan-nelayan tradisional yang menggunakan perahu berukuran kecil.

Sebagian nelayan tradisional tetap nekat melaut meskipun sering terjadi cuaca buruk di perairan selatan Cilacap.

“Kami melaut secara “jolokan” atau berangkat pagi saat gelombang masih tenang dan pulang menjelang siang hari sebelum terjadi gelombang tinggi. Namun kami tidak berani melaut hingga jauh, paling di sekitar Teluk Penyu,” kata salah seorang nelayan, Kastam.

Dia mengakui bahwa ketersediaan ikan di perairan selatan Cilacap tidak sebanyak beberapa bulan lalu karena saat sekarang telah memasuki musim angin barat.

Kendati hasil tangkapannya tidak banyak, dia mengatakan bahwa pendapatan yang diperoleh masih bisa menutupi biaya operasional dan kebutuhan keluarga.

“Saat ini masih ada beberapa jenis udang yang harganya lumayan tinggi seperti udang jerbung yang mencapai kisaran Rp200 ribu per kilogram,” katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meterologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi di perairan selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang berlaku sejak hari Kamis (11/2) hingga Jumat (12/2).

Menurut dia, tinggi gelombang signifikan berkisar 1,25-2,5 meter berpotensi terjadi di wilayah pantai selatan Cilacap hingga Yogyakarta dan Samudra Hindia selatan Cilacap hingga Yogyakarta.

“Tinggi gelombang maksimum bisa mencapai dua kali tinggi gelombang signifikan,” katanya.

Oleh karena itu, dia mengimbau nelayan tradisional yang menggunakan perahu berukuran kecil untuk tetap waspada saat melaut karena gelombang tinggi dapat sewaktu-waktu terjadi.   (Jn16/ant)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *